Filed under: Catatan-Catatan

Sebagian besar dari kita mungkin tak tahu dimana letak Kampung Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Mendengar namanya pun mungkin baru kali ini. Meski demikian tanpa beranjak dari kursi, melalui pencarian dengan menggunakan peta google kita dapat mengetahui letak geografis Kampung Peundeuy. Berdasarkan perkiraan dibutuhkan waktu sekitar lima jam dari Serang, ibukota Propinsi Banten untuk menuju ke Kampung Peundeuy, Cikeusik. Sementara untuk menuju ke ibukota Kabupaten Pandeglang, warga Peundeuy membutuhkan waktu tak kurang dari empat jam dengan menggunakan kendaraan bermotor melintasi jarak puluhan kilometer dengan jalan berbatu yang tak mulus. Sedikit gambaran letak geografis yang relatif terpelosok dan jauh dari hiruk pikuk kota tersebut akan membawa kita pada bayangan sebuah kampung yang sepi, tenang, dan damai.
Bayangan ketenangan itu hilang sudah, saat Minggu (6/2/2011) sekelompok massa menyerang Jamaah Ahmadiyah yang sedang mengadakan pertemuan. Aksi brutal di kampung kecil tersebut mengakibatkan 3 orang Jemaah Ahmadiyah tewas dan beberapa orang lainnya luka berat.
Setelah terjadi di Cikeusik, Pandeglang, Banten, amuk massa kembali terjadi pada Selasa (8/2/2011) di Temanggung, Jawa Tengah. Ratusan orang mengamuk, membakar, dan merusak tiga gereja serta beberapa kendaraan roda empat dan roda dua. Kerusuhan dipicu karena ketidak puasan massa terhadap putusan hakim PN Temanggung atas kasus penistaan agama.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa daerah tenang di pelosok yang bahkan jauh dari pusat kekuasaan tiba-tiba menjadi dipenuhi semangat kebencian dan hasrat membunuh terhadap kelompok yang berbeda? Terlepas apakah kejadian ini bersifat spontan atau penuh dengan rekayasa, situasi seperti ini tentu sangat memprihatinkan, tak dapat ditolerir, dan harus dihentikan segera sebelum menyebar ke wilayah yang lebih luas lagi.
Di media massa banyak pihak sibuk membahas persoalan ini. Sebagian besar menuju pada satu kesimpulan bahwa pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas problem besar yang mengancam keberagaman atau pluralisme yang sudah ada sejak jaman prakemerdekaan di republik ini. Bagi yang percaya kredibilitas pemerintah untuk menangani persoalan ini silahkan mendukung langkah-langkah yang akan diambil pemerintah. Bagi yang meyakini bahwa pemerintahan yang dipimpin SBY telah impoten dan tak mungkin mampu mengatasi persoalan ini, juga silahkan.
Menurut saya diperlukan tindakan yang lebih konkrit daripada sebuah kecaman pihak yang tak percaya kepada pemerintah, dan juga tindakan lebih daripada sekedar retorika pemerintah yang prihatin dan menyerukan tindakan tegas terhadap individu atau kelompok yang berlaku brutal. Lantas tindakan konkrit apa yang bisa kita lakukan?
Sebagai jurnalis terlebih jurnalis yang bergabung di media yang menyebarkan semangat jurnalisme genre baru yaitu jurnalisme cinta kasih, adalah dosa besar bila kita abai dan alpa bahwa sejatinya kita punya tanggung jawab yang besar baik secara moral maupun secara profesi, guna meredam atau bahkan menghancurkan semangat kebencian dan semangat mengingkari keberagaman.
Dalam situasi seperti ini jurnalisme cinta kasih sebenarnya sedang diuji dengan dua kemungkinan. Pertama, apakah jurnalisme cinta kasih mampu memberi setitik harapan yang terus menyala dan menyebar menjadi terang di tengah gelap mata. Kedua, mungkinkah jurnalisme cinta kasih yang menjernihkan hati manusia cuma slogan belaka. Langkah konkrit yang kita perlu jalani segera adalah mengisi tayangan-tayangan kita dengan sebanyak mungkin tema-tema yang mampu menggambarkan bahwa keberagaman itu adalah kekayaan yang sangat indah. Ini adalah kerja nyata untuk membuktikan kemungkinan pertama. Bila kita tak merespon situasi sekarang ini, pelan tapi pasti kita sedang membuktikan kemungkinan yang kedua. Sebagai jurnalis bila kemungkinan kedua yang ingin kita buktikan, saya ucapkan: Selamat datang di Jurnalisme Diam!
*Catatan untuk kawan-kawan jurnalis DAAI TV
Filed under: Catatan-Catatan
Apa yang membuat sebuah film dokumenter dikatakan berhasil? Bicara soal keberhasilan tentu juga tak bisa lepas dari bicara soal tujuan. Tujuan film dokumenter dibuat akan sangat berbeda-beda. Akan sangat mungkin bila satu tema dibuat oleh dua pembuat dokumenter maka diantara mereka itu memiliki tujuan yang berbeda. Sederhananya tolok ukur keberhasilan film dokumenter bersifat sangat subyektif tergantung pada tujuan yang mau dicapai oleh si pembuat film tersebut. Tujuannya bisa saja karena sekedar pesanan untuk mendapatkan uang, menyerang satu orang atau kelompok orang lewat film dokumenter pun dapat dilakukan, membela seseorang, propaganda politik, dsb.
Bagi saya sebuah film dokumenter yang berhasil bukan sekedar diterima dan dikagumi oleh banyak penonton, mendapat tepuk tangan ketika film selesai diproyeksikan di layar, atau menang di berbagai kompetisi ketika film dilombakan. Yang terakhir sangat penting, karena ada beberapa kawan yang mengatakan: “Selamat film karyamu sangat berhasil.” Hal ini disampaikan saat satu film karya tim dokumenter DAAI Refleksi menjadi pemenang di ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2010.
Bagi saya, tujuan film itu dibuat bukan untuk memenangkan satu atau bahkan beberapa kompetisi. Semua film yang kami buat bertujuan memberi kesadaran kepada masyarakat luas terhadap satu hal atau persoalan yang kurang atau tidak menjadi perhatian publik. Tujuan berikutnya adalah agar ada dampak langsung terhadap isu atau mungkin juga subyek yang kami angkat dalam fim dokumenter tersebut. Apa artinya bila film kami menang di berbagai kompetisi, tetapi hal yang lebih penting yang diangkat atau diceritakan dalam film dokumenter tersebut tidak terpengaruh secara positif?
Dalam konteks yang sama, ada pertanyaan lain yang juga penting diajukan. Bila sebuah film dokumenter dikatakan bagus atau menarik, sesungguhnya siapa pemilik cerita bagus itu? Pembuat film atau subyek yang diangkat dalam dokumenter tersebut? Menurut saya terlalu sombong bila seorang pembuat dokumenter mengakui bahwa film yang dibuatnya jadi menarik karena kerja kerasnya sendiri. Subyek dalam film dokumenterlah yang sejati pemilik cerita menarik itu. Tugas pembuat film dokumenter cuma memindahkan cerita subyek ke dalam media audio visual. Bahwa pembuat dokumenter harus memiliki keterampilan khusus, itu hanyalah persoalan teknis. Keterampilan yang tinggi tetapi tanpa ada subyek yang memiliki cerita menarik, film dokumenter yang dibuat hanya akan jadi omong kosong belaka. Maka sudah selayaknyalah dengan rendah hati harus dikatakan bahwa apresiasi tertinggi patut ditujukan kepada subyek dalam film dokumenter kita. (art)
Filed under: Catatan-Catatan
Apa yang paling banyak terlihat menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia? Sebagian mungkin berpikir tentang patriotisme. Lainnya lagi mungkin berpikir bahwa ini adalah waktu yang pas untuk bicara tentang arti nasionalisme. Menurutku yang paling banyak terlihat adalah bendera merah putih.
Jauh sebelum tanggal 17 agustus, kampung-kampung, perumahan, jalan-jalan, kantor apalagi instansi pemerintahan semarak memasang bendera dan pernak-pernik berwarna merah putih. Tak terkecuali di perumahan tempat aku tinggal. Bahkan ada yang sejak awal bulan agustus sudah memasang bendera merah putihnya.
Sebenarnya tak ada artinya buatku memasang bendera sebanyak apapun. Bagiku itu sama sekali tak berpengaruh dengan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Meski demikian pada akhirnya hari minggu tanggal 15 agustus 2010 aku memasang bendera di depan rumah. Itu pun setelah beberapa tetangga mempertanyakan mengapa aku tak juga memasang bendera merah putih menjelang peringatan kemerdekaan.
Beberapa tetangga masih didepan rumahku, saat aku mempersiapkan bendera dan tiangnya. Ada bapak-bapak dan ada juga ibu-ibu. Kata anakku yang baru berumur 3 tahun, bendera yang kusiapkan bukan bendera merah putih, tapi jingga putih. Aku dan beberapa tetanggaku spontan tertawa. Memang benar bendera itu sudah bertahun-tahun tak ada gantinya. Ada juga yang nyeletuk: “Ini bendera pusaka, jahitan Ibu Fatmawati.” Semuanya tertawa mendengar celetukan itu.
Coba bayangkan, apa artinya ganti bendera dengan yang bendera yang baru, cerah warna merah putihnya, masih halus kainnya atau mungkin dengan ukuran yang lebih besar? Sementara nasib jutaan rakyat tahun demi tahun tak berganti! Sebagian besar rakyat tetap saja miskin hidupnya, tak mampu memenuhi makan 3 kali sehari, tak mampu memberi gizi yang cukup untuk anak-anaknya, tak mampu ke dokter atu rumah sakit saat mereka sakit, tak sanggup menyekolahkan anak-anak, bahkan tak sanggup menolak ketika minyak tanah yang biasa dipakai untuk memasak digantikan secara paksa dengan gas bertabung yang meledak disana-sini.
Sebaliknya kemerdekaan, lebih tepatnya kemerdekaan untuk melakukan kegilaan dengan telanjang diperlihatkan oleh mereka yang pegang kuasa. Ada polisi, jaksa dan hakim yang jadi mafia peradilan. Ada petugas pajak dan pastinya para pimpinan institusi tersebut yang licik memainkan hitungan pajak untuk mengisi kantongnya sendiri. Ada banyak pejabat pemerintah yang merdeka ngomong semaunya, sementara rakyat dibuat sakit hati karenanya. Gilanya lagi tak sedikit anggota Dewan yang Terhormat bertingkah seolah-olah membela kepentingan rakyat, padahal yang gamblang terlihat adalah upaya memperkaya diri sendiri.
“Bagaimana seandainya saya pasang bendera setengah tiang Pak? Untuk merayakan naiknya harga-harga dan penderitaan rakyat yang tak pernah selesai?” tanya saya kepada seorang tetangga saya. Bapak itu hanya mengerutkan dahi. Saya tak tau apa artinya? Sementara Ibu-ibu yang mendengar pernyataanku, seolah menemukan kesempatan untuk bersuara. Mereka bersahut-sahutan, berapa harga cabe sekarang? Telur ayam aja mahal banget? Masa kita diminta seorang menteri untuk masak tanpa cabe? Kemaren yang tabung gasnya meledak, gak ada tuh dapet santunan? Pertanyaan dan pernyataan ibu-ibu itu seolah meluruhkan arti kemerdekaan yang dibanggakan entah oleh siapa.
Kumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak terus saja mengoceh. Sementara aku memasang bendera jingga putihku. Aku tak lagi mendengar ocehan mereka. Sambil menegakkan tiang bendera, dalam hatiku bersenandung Lagu “Indonesia Tanah Air Beta” dengan lirik yang dipelesetkan menjadi:
Indonesia tanah air siapa?
Katanya tanah air beta
Indonesia sejak 45 Janjinya rakyat sejahtera
Nyatanya kini kubertanya
Petani digusur sawahnya
Buruh hidup miskin dan sengsara
Hingga akhir menutup mata…
