Ari Aristides


Jejak Satu Langkah
September 10, 2009, 4:27 am
Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan

Tut tut…tut tut… jam weker butut itu serak bersuara tepat ketika jarum pendek jam berada di angka empat dan jarum panjangnya nyaris menyentuh angka dua belas. Suara seraknya mengorek telinga, sehingga seisi ruangan itu harus terjaga. Sebenarnya ruangan 4×4 meter itu terlalu banyak menampung penghuni, kalau tidak mau dikatakan terlalu sempit, karena dipaksa menerima lebih dari 15 anak pesantren, pada malam-malam tertentu bahkan lebih dari 15 anak.

Kotak ruang itu pun masih jauh bila disebut sebagai kamar yang nyaman. Di situ tak ada perangkat audio penghibur telinga, yang ada hanya tumpukan kitab suci dan kitab-kitab penebal iman. Tak ada foto Che Guevara sang revolusioner idola anak muda, atau poster cantik Wulan Guritno, yang ada di satu sisi tembok tertempel satu poster tokoh Islam yang entah siapa namanya, tak semua orang mengenalnya. Sisi kanan atas tempelannya lepas, hingga ia tampil seperti sebuah buku yang ingin ditutup. Di lantai masih tergelar beberapa sajadah yang setia menemani tidur malam mereka.

Alwi tertatih bangun dari tidurnya. Bukan karena masih mengantuk ia harus melangkah satu-satu, tapi karena memang sejak lahir ia mengalami cacat pada kaki kirinya. Ribuan langkah telah ia habiskan bersama tongkatnya. Baginya tongkat itu sudah seperti bayang-bayangnya sendiri yang selalu ada kemana ia melangkah. Setiap kali bangun, tak ada yang lain yang dicarinya, diantara redup 15 watt lampu kamar, ia menggapai tongkatnya.

Gelap malam belum habis seluruhnya dan matahari masih malu-malu melepaskan terangnya. Ditemani dingin embun dan sisa paduan suara serangga malam, ia mengambil air wudhu. Tangannya sedikit kaget ketika tetes-tetes air mulai membasahi telapak tangannya. Air dingin tidak hanya membuatnya menggigil, tapi juga menghapus dan melarutkan mimpi-mimpi malamnya.

Tangannya erat menggenggam pegangan tongkatnya menuju masjid. Di depan undakan yang cukup tinggi sebelum belokan sampai ke masjid, ia terpaksa memperlambat langkahnya. Berhati-hati seperti bayi yang baru belajar jalan, langkahnya satu-satu, kiri kanan, saling bergantian kaki kanan, tongkat kiri, kaki kanan, tongkat kiri, begitu seterusnya.

Akhirnya ia sampai di mesjid besar yang ketiga sisinya terbuka sehingga angin dan udara dingin bebas menari-nari di sana. Hanya sisi depan tempat dimana imam memimpin umat saja yang tertutup. Ia bukan orang pertama yang hadir di sana. Karena setiap malam juga tidak sedikit anak-anak yang merebahkan badannya di sana. Setelah mencari posisi, ia mengikuti yang lainnya, membuka kitab di tangannya dan mulai melagukannya.

* * *

Lewat dua tahun sudah Alwi tinggal dan belajar di pondok pesantren. Ia sudah hapal betul dinginnya udara pagi di pondok pesantrennya yang selalu dihiasi lantunan ayat suci dari ratusan mulut para santri. Di kejauhan suara mereka berdengung-dengung seperti ratusan lebah yang mengerubungi putik bunga, ketika dalam waktu yang bersamaan mereka melantunkan ayat-ayat yang berbeda.

Ia merasa masih kanak-kanak ketika masuk ke pesantren itu, hingga tak pernah sadar dorongan apa yang membuat dirinya tiba di tempat yang seolah begitu dekat dengan sang maha segala. Yang ia sadar kemiskinan orang tuanyalah yang membawanya kesana. Sebenarnya ia ingin bersekolah di sekolah umum seperti kebanyakan teman-teman sekampungnya, namun karena orang tuanya tak mampu membiayai keinginannya, ia terpaksa tanpa penolakan ketika harus masuk ke pesantren itu.

Kumandang azan subuh menghentikan dengung suara bacaan ayat suci. Beberapa santri yang terlambat bangun, tergopoh-gopoh mengambil air wudhu lalu dengan wajah yang masih basah berlari menyusul barisan kawan-kawannya yang telah berjajar rapi siap bersujud di hadapanNya.

Sembahyang adalah salah satu waktu dimana ia harus melepaskan tongkat dari dekapannya. Meski sering kali harus sujud dan berdiri paling akhir atau kadang posisinya tak sesempurna jemaat santri lainnya, ia tetap khusuk menjalankan ibadahnya.

Secara fisik ia memang berbeda dengan santri lainnya. Namun tak ingin ada pembedaan yang mengistimewakan dirinya. Saat mandi ia tetap antri menunggu giliran mandi pagi. Dengan tetap ditemani tongkatnya, di tangan kanannya terjinjing ember plastik berukuran kecil berisi satu sikat gigi yang bulu-bulnya sudah mulai berantakan, sabun mandi kecil, dan satu pasta gigi yang kemasannya kurus menandakan isinya hampir habis.

Saat di kelas pun ia tak ingin terlihat berbeda. Bukan karena ia malu memperlihatkan kondisi tubuhnya yang cacat, tapi ia tak ingin orang lain melihatnya dengan rasa iba. Untuk alasan itu, dikelas ia selalu menyembunyikan tongkatnya dan menurunkan sarung kotak-kotaknya hingga ke mata kaki.

Kelas yang ia dan santri lainnya pakai saat ini adalah bangunan yang didirikan atas bantuan Yayasan Budha Tzu Chi.

Bermacam pelajaran ia ikuti di kelas. Pada awalnya, sepeti kebanyakan anak yang lainnya, ia terbata-bata menyusuri huruf-huruf arab di lembar-lembar kitab suci Al Qu’ran. Namun seiring berjalannya hari, ia tak lagi seperti dulu. Saat membaca ayat suci, ia seperti seorang anak yang usai melakukan perjalanan jauh, merasa haus dan meneguk habis secangkir air minum. Ia tak perlu lagi berlama-lama mengulangi ayat demi ayat dalam Al Qur’an yang karena udara lembab halaman-halamannya mulai terlihat lusuh. Ia kini bahkan hapal beberapa surat yang ada dalam kitab kesayangannya. Suaranya mantap, pandangan matanya penuh keyakinan saat ia melafalkan ayat suci. Disampingnya tergeletak tongkat kayunya dengan damai seolah ikut menikmati alunan ayat suci darinya.

Saat makan siang pun ketika anak-anak lainnya harus antri menunggu giliran untuk mendapatkan jatah makan siangnya, kadang ia pun antri mengambil makanan untuk anak-anak sekamarnya. Ia harus meletakkan embernya diurutan yang telah disediakan lalu menunggu santri yang bertugas membagikan makanan mengisinya.

Makan siang mereka sangat sederhana. Nasi yang dibumbui, dan sayur yang lebih banyak airnya dibandingkan dengan sayurannya itu sendiri. Bila beruntung anak-anak santri juga mendapatkan lauk tempe atau tahu. Meski demikian saat makan siang adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh mereka.

Untuk makanan mereka, Tzu Chi tiap bulannya juga menyumbang beras bagi mereka.

Beberapa anak yang telah menyelesaikan makan siangnya lebih dulu, sebagian terlelap di bawah teduhnya pohon-pohon rindang. Ada juga yang tekun terus mengaji di bawah pohon. Tidak sedikit juga yang mencuci pakaiannya di tempat pencucian. Lalu ketika matahari sedang terik-teriknya, mereka menjemur pakaian di rerumputan seberang kamar mereka.

Siang hingga sore hari juga mereka habiskan di kelas-kelas untuk mengikuti berbagai pelajaran. Di hari-hari tertentu tiap minggunya mereka juga memiliki kegiatan ekstra kurikuler seperti taekwondo, kaligrafi, majalah dinding, drama, dan pelatihan multi media.

Sebenarnya Alwi senang juga dengan aktivitas bela diri taekwondo. Baginya olah raga itu membuat orang terlihat gagah dengan tinju dan tendangan-tendangannya yang kuat. Namun karena kakinya yang cacat, ia hanya bisa melihat dari kejauhan anak-anak yang sedang berlatih dan memendam mimpinya itu dalam hati.

Meski cacat, di pesantren itu ia adalah seorang anak yang memiliki kelebihan. Ia pandai melukis kaligrafi. Ia juga termasuk seorang santri yang memiliki keterampilan berceramah. Ia telah berlatih berceramah di kelas ataupun diantara teman-teman sekamarnya.

* * *
Ketaatannya pada kewajiban ibadah tidak kalah dengan santri-santri yang lain. Ia lebih suka menghabiskan senja di mesjid pesantren. Maka jauh sebelum azan maghrib dikumandangkan memanggil para santri, ia telah siap di dalam mesjid. Para santri yang lain memperlihatkan ketaatan yang sama, mereka keluar kamar masing-masing, yang masih melakukan aktivitas pun bergegas mengakhirinya, lalu berbondong-bondong segera menuju masjid.

Malam di pondok pesantren dilalui sangat jauh berbeda dengan kebanyakan orang lainnya. Para santri melewati malam tanpa hiburan musik dari radio, sinetron atau film india dari televisi. Begitu pula Alwi, kadang ia hanya merenung di kamarnya membayangkan saat bertemu dengan keluarganya. Kadang ia menghabiskan malam dengan membaca Al Qur’an di mesjid. Setelah berlembar-lembar halaman Al Qur’an ia tuntaskan dan matanya mulai terserang kantuk, barulah ia mengakhirinya. Menutup kitabnya dan mengucap syukur atas terlewatinya satu hari tersebut. Di beberapa sudut, tidak sedikit santri yang bergeletakan tertidur di masjid. Ia meraih tongkat dengan tangan kirinya dan tangan satunya menggenggam erat Al Qur’an. Diantara gelap malam, ia melangkah satu-satu. Saat melewati jalan yang agak becek langkahnya hanya meninggalkan satu jejak.



Indonesia Bangsa yang Sangar?
Februari 19, 2009, 8:19 am
Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan
Pahlawan Tanpa Senyum

Pahlawan Tanpa Senyum

Jaman SD dulu saya diajari oleh guru-guru bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa dengan penduduknya yang memiliki sifat murah senyum dan ramah tamah. Tapi dimana ya kita bisa mendapatkan gambaran indah seperti ungkapan guru saya itu?

Pernah gak anda mengamati gambar yang ada di lembaran uang kertas rupiah? Satu sisi ada gambar keindahan alam suatu tempat atau keaneka-ragaman budaya Indonesia. Sementara sisi yang lain adalah gambar pahlawan nasional.

Nah yang membingungkan saya adalah gambar para pahlawan nasional itu. Kenapa tak ada satu pun gambar pahlawan nasional yang tersenyum? Mengapa dari pandangan matanya yang melotot, mereka terkesan galak dan jauh dari semangat yang ramah?

Bahkan gambar pahlawan Kapitan Pattimura di lembar uang seribuan terlihat membawa sebilah golok di tangan kanannya. Bukankah gambar semacam ini berkesan sangar dan sadis?

Mungkin karena gambar para pahlawan nasional itu dibuat saat Indonesia sibuk melawan bangsa kolonial. Ini pertimbangan yang masuk akal. Bayangkan bila saat memperjuangkan kemerdekaan, orang-orang yang dimata penjajah itu dikatakan sebagai pemberontak, justru ditampilkan dengan gambar sedang membawa gitar. Pihak kolonial pasti akan tertawa terbahak-bahak karena merasa geli, lalu bilang “mereka ini mau berperang atau ngamen sih?” Atau bila gambar Kapitan Pattimura membawa sekuntum mawar, pihak kolonial pasti bilang, “Kapitan, you orang mau berperang atau mau say love to me?”

Gambar pahlawan nasional yang kaku, keras, heroik atau galak mungkin memang pas pada masa Indonesia berperang melawan penjajah. Tapi saya pikir pada era yang berbeda sekarang ini, mungkin perlu juga dipikirkan memberikan gambaran pahlawan nasional yang lebih manis atau ramah. Terlebih bila gambar itu dicetak di atas uang kertas rupiah. Bukankah uang kertas itu ditujukan bagi rakyat Indonesia. Lantas mengapa Kapitan Pattimura masih saja tampil galak dengan golok ditangan? Diarahkan kepada siapa lagi golok kapitan itu?

Sekarang bayangkan hal lain. Bagaimana jika pas foto anak sekolah, karyawan kantor, pegawai negeri, calon legislatif, presiden dan wakil presiden atau yang lainnya difoto dengan pose tangan kanan membawa pisau atau golok?



Respect Dalam Sepotong Roti
Februari 13, 2009, 5:07 am
Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan

Suatu sore sendirian aku tergopoh-gopoh menyiapkan suatu acara. Ini adalah hukum mutlak, suatu hal yang dilakukan tergesa-gesa pasti ada saja kurangnya. Notebook yang tidak tersambung dengan LCD, suara yang tidak keluar di sound system, hingga peserta acara yang tak tepat waktu.

Aku setengah berlari mnuju meja kerjaku untuk mengambil daftar hadir peserta yang tetinggal. Seperti biasa meja kerjaku dalam keadaan berantakan. Ini adalah salah satu contoh seolah-olah aku sibuk dan bekerja keras.

Diantara kertas-kertas, koran dan buku-buku yang tak teratur, ada sepotong roti. Jangankan di atas meja sendiri, di dapur, di kulkas, atau bahkan di meja bos kalau ada makanan yang kuinginkan pasti kusikat. Sepotong roti di atas mejaku seperti memprovokasi. Aku menyambarnya, lalu sambil bergerak cepat kembali ke ruang meeting, aku memindahkan roti itu kemulutku. Roti habis tak lebih dari 30 detik.

Tapi siapa sangka sepotong roti yang sudah busuk diususku dan sudah jadi kotoran yang mungkin sudah aku buang di lubang WC ternyata menyisakan masalah.

Sang penaruh roti (aku menyebutnya penaruh, karena ia sekedar menaruh bukan memberi dengan sepengetahuanku) merasa aku tidak respect terhadap apa yang telah dilakukannya. Ia memprotesku. Tak ada pertanyaan “dari siapa ini?” terlebih tak ada ucapan terima kasih yang kusampaikan padanya. Ia protes atas itu semua.

Tak bermaksud membela diri, semua itu sesungguhnya berjalan begitu saja. Kalaupun ada yang terlupa bukankah itu kealpaan yang wajar saja? Terlebih saat itu aku memang sedang ribet dengan persiapan suatu acara. Kalau mau dipikir lebih jauh, bukankah tak berlebihan bila dalam satu relasi yang bukan lagi sebatas teman akan banyak hal yang berjalan tanpa perlu disertai ungkapan-ungkapan lagi?

Tapi sang penaruh roti di mejaku berpikir lain. Aku harusnya bertanya. Aku harusnya berterima kasih atas tindakannya itu. Aku harusnya menaruh respect dalam sepotong roti. Aku lantas berpikir dari sisi yang lain. Apakah si penaruh roti di atas mejaku itu melakukan itu karena mengganggap aku sebagai seorang yang istimewa atau dia menaruh roti itu dalam rangka ingin mendapatkan ucapan terima kasih? Kalau memang tujuan yang kedua yang ingin dicapainya, mengapa tidak ia berikan saja sepotong roti itu pada seorang pengemis? Aku berani bertaruh, pengemis pinggir jalan yang diberi sepotong roti pasti tak akan lupa mengucapkan kata terima kasih dan mungkin saja ditambah bonus sederet doa-doa darinya.

Aku tak habis pikir bila ia menaruh roti di atas mejaku sebagai ungkapan bahwa aku adalah seorang yang istimewa baginya, lantas kenapa dihari berikutnya ketika roti itu sudah masuk ke dalam septic tank, ia justru menjadikan kejadian itu sebagai persoalan disertai bumbu-bumbu tak sedap lainnya.

Sebagai seorang yang lebih dari sekedar teman atau sahabat, bagiku ada sekat-sekat yang telah lebur, yang seringkali dalam tiap tiap tindakan tidak lagi memerlukan ungkapan-ungkapan eksplisit.

Bagiku tak masalah ketika mentraktir sahabatku lalu setelah itu ia hanya bilang: “kenyang ya, tadi nasinya kebanyakan.” Tak masalah pula saat bersama sahabat-sahabat aku membayari mereka nonton, lalu selepas itu ada yang bilang: “Tuh kan film pilihan loe jelek!” yang lain menimpali: “Tapi tadi cewek yang samping gua cakep” Lalu yang terakhir bilang ke aku: “Abis ini traktir makan dong.” Kami tertawa bersama. Tapi mereka semua lupa, tak ada satupun diantara mereka yang mengucapkan terima kasih. Apakah itu masalah?

Baiklah…tak ada yang salah bila memberi sedikit respect dalam sepotong roti, atau respect dalam sepotong, sekeping, atau secuil apapun pemberian orang. Tapi tolong…beri aku respect yang lebih dibandingkan harga sepotong roti!

Note: Judul dalam tulisan ini bukan bermaksud tak memberi respect pada film Garin Nugroho: “Cinta Dalam Sepotong Roti” Dengan memberi judul yang mirip justru saya respect pada film itu.