jump to navigation

Pada Suatu Pagi Hari April 27, 2007

Posted by ariaristides in Foto-Foto.
3 comments

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis

sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.

Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi

agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan

tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak

mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur.

Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan

sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi (Sapardi Djoko Damono)

 

Foto: Ari Trismana

Lokasi: Lanud Sultan Iskandar Muda, NAD

Sang Pemimpi April 20, 2007

Posted by ariaristides in Foto-Foto.
3 comments

Sang Pemimpi

Ajaibnya sang waktu
masa lalu yang menyakitkan
lambat laun bisa menjelma
menjadi nostalgia romantik
yang tak ingin dilupakan…
(dikutip dari novel Sang Pemimpi: Andrea Hirata)

Foto: Ari Trismana
Lokasi: Pantai Labuhan Haji, Aceh Barat Daya, NAD

Bila Pagi Dilarang Bersedih April 20, 2007

Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.
3 comments

Percintaan yang kita jalani adalah percintaan yang salah. “Salah waktu!” kita selalu nyatakan begitu untuk berupaya mempertahankannya atau sekedar menghibur diri kita masing-masing agar tak tumbuh rasa bersalah yang menggunung. Kita sesali mengapa kita tak pernah bertemu sejak dulu, ketika nafas kemerdekaan hidup masih menjadi milik kita, sementara saat ini barangkali adalah saat dimana separuh nafas kita masing-masing telah tertawan. Begitu klasik, kuno, dan mungkin ungkapan yang cengeng! Namun sialnya itu benar-benar terjadi pada kita…

Pada awalnya kita masing-masing adalah lahan kosong yang telah ditanami oleh petani yang tentu saja berbeda. Entah subur atau tidak, gersang, layu, atau tinggal batang kering yang tak mungkin tumbuh, aku tak pernah tahu. Tak pernah ada yang istimewa diantara kita, dan jujur saja tak ada yang istimewa darimu. Aku pun tak pernah terlintas memikirkan, diriku adalah seorang yang hebat di mata seorang gadis cerdas sepertimu.

Cinta kadang memang lahir tiba-tiba, kita tak pernah tahu kapan ia akan datang. Dan sebaliknya kita pun tak pernah tahu kapan ia akan pergi melenyap! Cinta kita datang seperti pencuri di malam hari yang merampas apa saja yang kita miliki dengan tanpa ijin terlebih dahulu tentunya.

Yang aku tahu, entah mengapa tiba-tiba rasa itu datang ketika melihat sorot mata yang begitu mempesona. Ada gelombang kuat yang merayap masuk lewat bola mataku, yang tak mampu kuungkapan dengan bahasa manusia. Pandang matamu seperti luapan gelombang rindu nelayan pada laut biru, rindu petani pada butir-butir padi pengganti keringatnya, seperti anak yang rindu pada rahim ibunya. Ini kekaguman yang aneh bagiku! Aku tak pernah seperti ini sebelumnya.

Lalu semua mengalir begitu saja. Aku tak berusaha membendung arus itu atau juga menderaskan gemericiknya. Aku hanya ikuti hati: berbuat baik padamu. Dan ini menjadi sangat mudah, semudah tumbuhnya bibit jagung di lahan yang beraroma subur. Ternyata di tanah ini tak hanya jagung yang tumbuh meninggi, ia menumbuhkan pula melati dan mawar merah. Aku jadi mudah menyanyikan: “lihat kebunku penuh dengan jagung, ada melati dan ada yang mawar…”

Pohon di kebun itu semakin meninggi, menutup pandang mata kita. Untung matahari masih lebih tinggi letaknya, hingga kita tetap dapat sinar terang itu. Tapi kadang kita tertatih-tatih, kuatir tersesat ketika kita bercanda, berlari di rimbunan pohon-pohon. Untunglah aku dan kamu selalu tersentak ketika kita asyik bercumbu, dan tiba-tiba teringat ah..hari hampir malam, matahari sudah pulang, itu tandanya kita juga harus pulang, bila paksakan, kita pasti tersesat tak tahu arah mana jalan yang benar.

Begitulah hari-hari dan malam-malam yang kita habiskan dalam satu ruang. Kita tak lagi menjadi kita yang dulu, tapi menjadi kita yang baru. Yang tertawa bersama disela pelukan ketika hadir kegembiraan, tapi juga muram berduka air mata ketika sadar kenyataan sulitnya hidup. Dan selalu terpampang layar lebar di mata, cinta kita cinta yang sulit, terus bertumbuh, tapi tak tahu kapan kita memanen buah-buah ranumnya. Cinta kita cinta yang tak berdermaga, namun kita tahu ada laut yang ingin kita seberangi. Cinta kita cinta tak berujung, cinta bulat matahari yang hampir padam di ujung barat. Cinta kita, cinta yang Indah….

Lalu ketika terbentang jarak ruang dan waktu antara jalan kita, sama-sama kita yakin ini ujian bagi kita. Juga lahir seribu tanya akankah kebun kita tetap terjaga? Akankah rumput liar meraja, lalu pohon-pohon jadi kehabisan nafas untuk bertahan, dan cinta kita gersang, layu, mati… Atau justru rindu kita yang menggunung malah jadi humus yang subur? Meninggikan pohonnya dan melebat ranumkan buahnya, bahkan pohon jagung yang harusnya hanya berbuah jagung malah berbunga mawar?

Yang pasti muncul kegelisahan di hati kita. Kegelisahan yang bercampur baur dengan jerat kesibukan. Lalu kamu dan juga aku sulit menterjemahkan apa yang dirasa. Kata-kata pun seolah tersesat dirimba makna, kadang tegas sarat arti, kadang samar tanpa maksud. Aku menyimpan berderet panjang kalimat yang kau kirim lewat teknologi gelombang elektronik yang alirannya tak mampu ditangkap mata manusia. Namun aku tetap menangkap guncangan, seperti saat pertama kali kita berpelukan. Ketika merasa sepi pesanmu kubaca berulang-ulang, seperti anak sekolah menghapal pelajaran menjelang ujian. Aku pun mengirim pesan-pesan yang sama. Aku tahu, hingga malam diujung sana, seringkali kita sambil berbaring, menekan tombol satu-satu berusaha ungkapkan rahasia kegelisahan hati. Petualangan malam hingga dinihari seringkali ditutup dengan kesimpulan yang sedih: “Malam selalu terasa menyiksa dan pagi begitu melelahkan.”

Ketika pesan-pesan singkat itu terasa tak mampu lagi lenyapkan kegelisahan malam, lalu kita pun berbincang. Sesungguhnya perbincangan itu sendiri tak memiliki arti. Yang jauh lebih berarti hanyalah mendengar nafas dan suaramu. Meski tanpa arah, bahkan kadang obrolan kita justru menyesatkan perasaan, kita tetap menikmatinya. Obrolan itu layaknya candu. Saat-saat sepi, kita merindukannya dan diujung obrolan ada hal tersulit bagi kita, yaitu menutup pembicaraan. Mungkin sama beratnya dengan keluarga yang menimbun tanah di liang kubur orang yang dicintai!

Begitulah malam-malam yang kita lewati diantara jarak yang terbentang. Kesibukan pagi pun tak kalah menjemukannya. Namun diantara lelah hati, kita berusaha terus saling menjaga semangat. Inilah yang kubanggakan dari percintaan kita yang sulit. Kita tetap ingin menyulap kesulitan-kesulitan menjadi pelajaran dan semangat buat kemajuan, bukannya terpuruk pada kesedihan seolah tanpa harapan. Aku temukan kalimat sakti layaknya mantra, ketika kita habiskan malam dengan kemurungan, lalu sinar pagi malu-malu mengintip, dengan percaya diri aku kirimkan pesan: “Sudah pagi sayang… dilarang bersedih!” Di layar ponsel terbaca: Message To 0815xxxxxxx Was Sent.

(Medan, 22 Agustus 2005)