Penyelamat Kaleng Bolong & Teori Kangen April 13, 2007
Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.trackback
Terlalu klasik jika kukatakan kau adalah selimut yang menghangatkan malam dingin sepiku. Terlalu norak juga jika kubilang kau adalah bidadariku, karena memang kamu tak secantik itu. Maka wajarlah bila aku bilang bahwa kalau mau diumpamakan tentang aku dan kamu lebih tepatnya begini: aku adalah kaleng yang banyak bolong-bolong, bila diisi air maka air itu akan mengalir keluar lewat lubang bolong tadi, nah disinilah kamu ada. Kamu sangat berarti buatku karena kamu bisa menambal, menutupi bolong-bolong tadi sehingga air yang terisi gak akan habis tumpah. Kamu penyelamatku, penyelamat kaleng bolong!
Sama sepertimu kadang aku juga terserang penyakit kuno yang aku kenal sejak aku kecil, yakni setelah nonton film “Romi dan Yuli” Penyakit ini abstrak, bisa dikategorikan bahaya karena bisa bikin orang menangis atau tertawa-tawa, hingga menjambak-jambak rambut sendiri. Para dokter bahkan yang spesialis sekalipun hingga kini belum bisa menemukan obat sakit ini, yang bisa teruji dan terbukti secara klinis bisa membuat waras orang yang mengidap penyakit ini. Tau penyakit apa itu? Nama penyakit itu sederhana: kangen dengan nama lain rindu. ya benar-benar satu kata yang sederhana, tapi jangan remehkan dampaknya!
Anehnya penyakit jenis ini justru mampu disembuhkan atau lebih tepatnya gejala-gejalanya mampu dikurangi oleh para seniman penyusun kata atau seniman penyusun irama. Lebih anehnya lagi pengidap penyakit ini bahkan secara mendadak memiliki kemampuan menyusun kata layaknya pujangga.
Entah kamu akan setuju atau tidak bila aku mengajukan teori seperti ini, bahwa penyusun kata dan iramalah yang paling mampu mendeskripsikan penyakit ini, seolah mereka memiliki kemampuan untuk menembus hati dan membaca pikiran orang. Berikut ini adalah beberapa bukti:
Kangen aku pada dirimu
Tiada akan dapat kuobati
Tanpa kubelai rambutmu
Kucium pipimu dan kunikmati senyummu…
(Maliq and Dessentials)
Semua kata rindumu semakin membuatku
Tak berdaya menahan rasa ingin jumpa …
Percayalah padaku akupun rindu kamu
Ku akan pulang melepas semua kerinduan
(Dewa 19)
Contoh di atas mampu menunjukkan bahwa obat mujarab untuk menyembuhkan sakit kangen adalah pertemuan. Selanjutnya ada turunan dari sakit kangen ini, yang sangat tidak masuk akal, dipikir serius hanya akan membuat dahi berkerut dan kita cepat tua. Dari judulnya saja sudah sangat aneh “Benci Tapi Rindu” bayangkan 2 hal yang berkontradiksi yaitu benci dan rindu, tetapi keduanya menjadi satu kesatuan. Mungkin ini bisa dijelaskan dengan teori filsafat yaitu kontradiski antagonistik.
bukan hanya sekedar penghibur
diriku ini sayang
bukan pula sekedar pelepas
rindumu oh sayang
sakit hatiku
kau buat begini
kau datang dan pergi
sesuka hatimu
ooh..kejamnya dikau
teganya dikau padaku
kau pergi dan datang
sesukan hatimu
ooh…sakitnya hati
bencinya hati padamu
sakitnya hati ini
namun aku rindu…
bencinya hati ini
tapi aku rindu…
(Diana Nasution)
Nah benar kan? Kau pasti sepakat bahwa lagu ini sangat inkonsisten. Bagaimana mungkin membeci sekaligus merindu? Merindu kok merindukan orang yang dibenci? Bayangkanlah si penyanyi yang membawakan lagu ini, ekspresi apa yang pantas ditunjukkan?
Teori di atas ternyata belum cocok dengan apa yang aku alami saat ini. Pertama, aku merindukan seseorang yang sebenarnya mudah aku temui, bahkan dekat denganku. Artinya teori pertama yang menyebutkan bahwa kangen bisa disembuhkan dengan pertemuan tidak berlaku untukku. Kedua, orang yang aku rindukan jelas-jelas bukan orang yang aku benci! Artinya kategori “Benci Tapi Rindu” juga tak berlaku untukku. Artinya lagi, bahwa ada kategori baru tentang kangen seperti yang aku alami saat ini. Ini ternyata kategori yang lebih ribet dan complicated.
Sudahlah tak perlu kujelaskan lagi, jangan paksa aku untuk menjelaskan perasaan ini. Itu hanya akan membuatku terlihat seolah-olah seperti mahasiswa yang sedang berhadapan dengan dosen pengujinya, tak tau tapi berpura-pura paham, gak ngerti tapi gak mau kehilangan muka bila tak mampu menjawab, muter-muter mati-matian menjelaskan panjang lebar dengan bahasa ilmiah, di akhir penjelasan mahasiswa, si dosen manggut-manggut dan berkata dengan kalimat sederhana, kalimat yang begitu bersahaja: “kamu belum menjawab pertanyaan saya!” Nah kamu tentu tak ingin memperlakukan aku seperti itu kan?
Seperti cinta, kangen itu bisa dirasakan, tapi memang tak semestinya apa yang dirasakan dapat dijelaskan. Yang aku tahu saat ini hanyalah: kaleng bolong merindukan penambalnya!
have u read The Art of Loving by Erich Fromm? Mungkin itu akan menjawab kegundahanmu, jika memang masih gundah…..
hehehehe
Kangen itu emang bukan tentang sering ketemu ato engga, cinta ato benci, jauh atau dekat, nyata ato maya.
Kangen yaa….kangen aja sampe akhirnya rasa itu ilang sendiri. Nah, kalo ga ilang2 ?! Terimalah nasibmuuu ha….ha….