jump to navigation

Ultah: Sebuah Perayaan Mendekati Kematian Mei 8, 2007

Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.
11 comments

 

Meja kecil disamping tempat tidurku bergetar kecil. Satu pesan singkat masuk ke hpku yang aktif silent mode-nya. Diantara gelap ruang kamar, meski dengan mata terpejam dengan mudah kuraih hpku. Dengan satu mata kanan setengah terbuka kubaca pesan singkat itu. Pesannya: “Happy b’day ya… Aku berdoa smg kamu slalu dlm lindungan dan limpahan kasih TUHAN. Amin..” Di keterangan waktu terbaca 08-May-07 01:02.

 

Antara sadar dan tak sadar karena memang aku baru saja mulai menikmati tidurku, hanya kata “happy b’day” yang aku ingat. Lalu rangkaian informasi yang tertangkap mata mulai menjalar dan berproses di rangkaian syaraf yang ada di otakku.

 

“oh ya aku ulang tahun… oh ya 8 mei ulang tahunku..” rentetan ingatan-ingatan itu terus menjalar hingga membuatku benar-benar terbangun dan tak dapat melanjutkan tidur malamku.

 

Lalu sms demi sms bergantian masuk dari teman dan sahabat-sahabatku. Aku belum ingin membaca isi pesan itu satu persatu. Aku hanya membaca nama-nama pengirimnya. Hp digenggaman tangan kananku. Aku masih terbaring tak beranjak dari tempat tidurku, namun pikiranku terlanjur berproses seperti mesin pabrik yang menyala saat jam kerja.

 

Aku ingin menuliskan perasaan dan apa yang kupikirkan saat itu. Tapi rasa malas lebih berkuasa dibandingkan keinginanku. Jadilah aku hanya bermonolog. Bertanya sendiri, menjawab sendiri, berdebat sendiri, semuanya sendiri. (Siapa juga malem-malem begini mau ditanya-tanyain, dimintai jawaban, bahkan diajak berdebat? )

 

“Apa yang kau ingat dari sebuah perayaan ulang tahun?” pertanyaan pertama muncul.

 

“Pesta dan makan-makan” jawabku secara spontan

 

“Apa ulang tahun hanya berarti pesta dan makan-makan? Apakah tanpa pesta dan makan-makan, ulang tahun jadi tak berarti?” muncul dua pertanyaan sekaligus dari jawaban pertama tadi.

 

Belum lagi sempat kupikirkan jawaban yang pas, sudah muncul rentetan pertanyaan berikutnya. “Mengapa setiap hari ulang tahun, orang-orang mengucapkan semoga panjang umur?”

 

“Ya aku dari dulu memang tak sepakat dengan ucapan itu!” sanggahku. “Kupikir setiap kali kita merayakan hari ulang tahun usia kita memang bertambah, tapi sejatinya jatah hidup kita bernafas didunia semakin berkurang. Artinya kita makin dekat dengan kematian!” aku melengkapi.

 

“Ya kau paham itu. Lalu hal baik apa yang sudah kau lakukan selama ini? Ingat kau sepakat bahwa ulang tahun sebenarnya adalah peringatan mendekati kematian.” pertanyaan yang lebih kritis muncul.

 

“Ya.. ya.. ya.. aku sepakat dengan kata-kata itu. Tapi tunggulah, aku belum menemukan jawaban tentang hal baik apa yang sudah aku lakukan selama puluhan tahun aku hidup di dunia ini. Tunggulah sampai besok… ulang tahun memang peringatan menuju kematian, tapi toh aku kan belum mati esok hari!” sanggahku dengan tegas.

 

“Udah ah… udah ngantuk nih..”

 

Selamat ulang tahun untukku!