Cinta itu bernama Cinnamon

Pohon Cinnamon

Cinnamon, nama itu sebelumnya terlalu asing di telingaku. Agak-agak seperti nama tokoh kartun seperti Pokemon atau Digimon. Tapi kini nama itu seolah melekat dikepalaku. Bukan tanpa alasan tentunya. Cinnamon, ya Cinnamon apakah kau kenal nama itu?

Seperti kebanyakan orang, aku lebih mengenal kayu manis. Yang paling kusukai adalah saat almarhumah nenekku memakai kayu manis untuk dijadikan penyedap aroma kolak pisang buatannya. Dia bilang kuah kolak pisang yang menggunakan kayu manis sebagai penyedapnya dapat memberikan efek ketenangan. Semasa kecilku aku tak mengerti penjelasan nenekku itu, yang aku tahu saat aku menangis karena suatu persoalan, nenekku selalu merayuku dengan menjanjikan akan membuatkanku kolak pisang dengan bumbu kayu manis, lalu seperti tersihir aku berhenti menangis. Saat nenekku mulai memenuhi janjinya, aku ikut berjongkok bersama dia di depan tungku dengan api yang berasal dari kayu bakar. Hangat… itulah yang kurasakan, terlebih saat menggelendot dibahu nenek sambil mencium-cium sebatang kayu manis yang kuambil dari kotak rempah-rempah.

Kayu manis ternyata nama yang sama untuk cinnamon. SejarahCinnamon Batang panjang mengiringi nama cinnamon ini. Cinnamon berasal dari bahasa Yunani kinnámōmon. Cinnamon yang dikenal sejak jaman purbakala memiliki nilai yang sangat tinggi bagi masyarakat purba. Saat itu Cinnamon sering dipersembahkan kepada seorang raja atau pemimpin. Peredaran cinnamon konon telah dimulai sejak awal 2000 sebelum masehi, bergerak dari China menuju Mesir. Nama cinnamon banyak disebut oleh Herodotus dan penulis klasik lainnya. Pada masa itu di Roma cinnamon biasa digunakan untuk dibakar pada upacara pemakaman. Kaisar Nero bahkan pernah memerintahkan untuk menyediakan cinnamon selama satu tahun untuk kuburan istrinya Poppaea Sabina.

Dan kini cinnamon juga telah jadi bagian dari sejarah hidupku. Bukan karena aku menginginkannya untuk mengiringi pemakamanku, tapi ada kenangan dengan cinnamon yang tak mungkin kuhapus dari ingatan.

Cinnamon modern dalam kemasan botol kecil tak lebih dari 5ml, cairannya berwarna biru mirip spirtus. Cinnamon modern ini begitu lembut ketika membasahi tanganku. Harumnya pasti, namun tak menusuk hidung. Kelembutannya berkombinasi dengan kehangatan ketika tetes demi tetes cinnamon berpindah ke sekujur tubuh. Saat itu aku merasa cinnamon  mampu menghadirkan kenikmatan raga dan ketenangan jiwa, jauh melampaui kenikmatan kuah kolak pisang buatan almarhumah nenekku.

Kini cinnamon, kayu manis atau kinnámōmon bukan sekedar rempah-rempah yang dibanggakan bangsa-bangsa purba, bukan sekedar kehangatan kuah kolak pisang, bukan sekedar cairan modern aroma terapy dalam sebuah botol kecil. Cinnamon adalah kenangan, kehangatan, kelembutan, keteduhan, ketenangan sekaligus gairah. Cinnamon adalah cinta. Cinta yang tak tercapai…

 

5 Tanggapan ke “Cinta itu bernama Cinnamon”

  1. nice blog. Saya tak rugi mampir di “rumah” anda

  2. Saya penggemar berat kolak pisang dengan campuran cinnamon – rasanya lebih legit. Tiada duanya.

    Ari Aristides..nama yang unik, inget inget nama Yunan dalam pelajaran sejarah (Bener gak sih). Salam kenal juga dari Bintang kecil.

    Very nice Blog. Dilink boleh ya.

  3. aku sampe tersihir sama cinnamon-nya, buset

  4. seaturtle Berkata

    wuaaaduh kayaknya banyak yang tersihir nieh..bahaya nieh….huahahhahaha…

  5. wuaaduuuh aku ikut tersihir juga kikikiki……

Tinggalkan Balasan