Dalam Mendung Aceh Kita Bertemu Mei 25, 2007
Posted by ariaristides in Fiksi.trackback
Ini adalah tulisan lamaku yang sempat kutemukan. Banyak tulisan lain yang tercecer dan belum sempat kutemukan. Coba kalo dari dulu udah kenal blog…

Benar-benar aku tak mengenalimu, saat itu aku adalah camar yang terbang gelisah menjelang senja, aku adalah juga orang-orang dengan wajah murung berjalan bergegas dalam kesendirian. Ingatanmu bagai belati tajam dan sapaanmu adalah teriakan yang tidak hanya menyadarkan lamunan berjalanku, tapi juga sempat menghentikan kesibukan dalam isi kepala orang-orang lalu menukarkannya dengan pandangan mata yang kecut. Kau adalah sahabat kecil dan remajaku. Masa dimana kita melukis kanvas polos dan membentuk tanah liat menjadi angan-angan masa depan. Sepuluh tahun adalah waktu yang melelahkan untuk terus mereka-reka membayangkan perubahan wajahmu ketika angka usia terus bertambah, tetapi ini juga bukan waktu yang cukup untuk melupakan kegembiraan masa kecil dan kenakalan masa remaja kita.
Sebagai tanda siraman hujan pada ladang rindu yang gersang, tidak hanya kita leburkan erat kepalan tangan, tapi kita juga saling memeluk, rasanya seperti bayi yang rindu pada pelukan ibu. Kugenggam erat ribuan helai rambut sebahumu yang sebagian mulai kehilangan warna gelapnya, kutepuk-tepuk pipimu seolah ingin terus memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Kau begitu banyak berubah, wajah kuat dan tatapan mata yang meluapkan rasa percaya diri tergusur oleh tubuhmu yang terlihat renta dan letih seperti daun kelapa kering bergantung di dahan menunggu angin yang hendak menggugurkan. Aku begitu takjub bahwa garis nasib yang kadang tak semuanya mampu kita rancang, yang begitu liar menggores dan mencoret hidup, akhirnya bersilangan pada suatu waktu, tempat, dan keadaan yang tak teduga. Kau pun sama tak percayanya denganku, terlonjak terkekeh-kekeh mentertawai nasib yang mempertemukan kita. Disini ribuan kilometer jaraknya dari Jakarta, kita bertemu. Nasib mempertemukan kita dalam mendung tanah Aceh.
Saat bertemu denganmu belum genap sebulan aku berada di bumi yang bergejolak ini. Aku datang sebagai salah seorang dalam rombongan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Aceh. Seperti biasa menjelang senja setelah semua kewajiban kerja dilunasi dan sebelum matahari beristirahat digantikan tugasnya oleh malam, aku berjalan menyusuri jalan aspal, jalan setapak berbatu tajam, sawah-sawah gersang, dan kampung-kampung pemukiman penduduk untuk memotret kehidupan mereka.
Pada awalnya yang kulakukan hanyalah sekedar mengambil gambar, mencetak kenyataan hidup mereka keatas kertas foto dan file-file dalam komputer, tapi beberapa hari berjalan makin kurasakan udara kecemasan di tiap nafas yang mereka hembuskan. Tak jarang udara yang mereka hirup adalah oksigen yang beraroma mesiu yang belum lama dilepaskan dari senjata-senjata tentara. Di sini kecemasan seperti wabah penyakit yang menjalar, menular melalui udara dan pandangan mata, masuk kesetiap aliran darah dan detak jantung hidup siapa saja, tak terkecuali aku yang hanya pendatang. Sejak itu aku tak sekedar mengambil gambar, aku benar-benar larut memotret pisau berkarat yang menancap dikehidupan mereka. Penderitaan perempuan-perempuan malang yang menjanda karena ditinggal suami dan anak laki-lakinya entah karena menghilang atau dihilangkan; atau kepedihan yang mengalirkan hujan air mata seolah hendak memadamkan api yang membakar kampung dan hanya menyisakan arang bagi mereka; juga tak sedikit anak-anak yang belum lancar mengeja namanya sendiri terisak-isak menangis dengan leleran air mata bercampur ingus dan ludah diwajahnya, menggaruk-garuk bumi karena harus terpisah atau kehilangan orang tua yang mereka sayangi.
Aku menceritakan pengalamanku dengan tak lupa berterima kasih kepadamu. Ingatkah kau waktu SMA dulu, kau mencuri pinjam kamera kakakmu yang wartawan itu untuk mengajari aku memotret, dan ketika kakakmu tahu ia menjadi amat berang karena kamera itu adalah nafas dan nyawa hidupnya. Dari situ aku mulai kenal kamera, lensa, speed, diafragma, atau sudut pandang. Kau tidak hanya mengajariku cara mengambil gambar, tapi juga mengingatkan bagaimana menyelami hidup agar gambar yang diciptakan benar-benar hidup!
Kau tersenyum bangga ketika kupamerkan kamera digital milikku dari seri terbaru merk terkenal dengan lensa tele-nya, dengan alat ini aku membuat penduduk dan anak-anak di pelosok kampung memandang kagum bercampur heran, seperti tentara yang mengikuti perintah komandannya mereka berbaris dibelakang mengekori sejauh perjalananku.
“Bagaimana cerita hidupmu sekarang Surya?” pertanyaan ini sekaligus menghentikan cerita tentang diriku sendiri, karena sejak awal ceritaku, aku tak melihat sinar matanya yang dulu terik, aku tak mendengar kalimat-kalimat yang menghentakkan gairah hidup yang keluar dari mulutnya. Yang terpampang di benakku hanyalah bahwa mata, wajah, dan gerak tubuhnya mengisyaratkan kehitam penatan hidup yang meratap berharap untuk segera diakhiri. Badannya condong ke depan dan kepalanya sering tertunduk layu menatapi tanah dan ujung kaki seolah lehernya tak mampu lagi menyangga, sementara dua lengannya tampak bergantung apa adanya, di tangan kanan antara jari tengah dan telunjukknya selalu terselip batang rokok yang tak putus sambung menyambung mengiringi dengus nafasnya, yang selalu dimain putarkan jari-jarinya layaknya ia ingin berbagi kepusingan hidupnya dengan batang rokok itu.
“Yah beginilah hidupku sekarang, barangkali saat ini lukisan nasibku adalah lukisan berwarna gelap pekat,” perkataannya seakan-akan ingin memperkuat dugaan-dugaan dalam pikiranku.
“Arus gelombang hidupku memang sedang berbalik. Tiga tahun lalu aku menikah dengan gadis Aceh dan kami memutuskan tinggal dan menetap di Aceh. Tetapi sekitar empat bulan yang lalu, ketika dalam perjalanan dari Medan ke Aceh, istriku yang saat itu sedang hamil anak pertama beserta mertua laki-lakiku menghilang, dan sampai detik ini aku tak tahu beritanya. Sejak itu kutinggalkan pekerjaanku sebagai salah seorang pengawas di perusahaan perminyakan, aku terus berusaha mencari, bertanya pada seluruh kerabat dan kenalan, dan berputar hampir di setiap pelosok Aceh. Aku tahu setiap usaha setidaknya melahirkan harapan baru, meskipun tidak semua harapan mampu melahirkan kenyataan.” Diantara asap rokok yang dilepaskan berbarengan dengan helaan nafas panjang, terasa betul olehku bahwa perjalanan hidupnya adalah langkah kaki yang digelayuti sarat beban dan harus menyusuri jalan becek berlumpur.
Aku terbengong mendengar cerita nasibnya yang bagai mata angin berlawanan arah dengan lintasan nasibku. Benar bahwa aku menyaksikan dengan mata dan merasakan langsung dengan nafasku penderitaan orang-orang yang mungkin tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, tapi hal itu tak pernah menyiksaku dalam murung dan kecemasan yang berkepanjangan. Barangkali kecemasanku berkurang atau lebih tepatnya habis ketika aku membagi-bagikan makanan, obat, baju, celana, sarung atau selimut kepada mereka.
Ketika dalam mendung Aceh kita bertemu, kurasakan betul bahwa kecemasanmu hanyalah satu titik kecil dari gelombang besar kecemasan rakyat Aceh, tapi itu bagai tamparan di muka dan tonjokkan di dada yang membuat nafas tersengal dan segera sadar bahwa penderitaan hidup manusia lain sesungguhnya adalah penderitaanku juga. Kusadari pula bahwa saat ini kau tidak sedang menciptakan gambar yang benar-benar hidup, tapi kau sedang ada dalam gambar hidup itu, berusaha menjalaninya agar tetap hidup. (Depok, 5 Agustus 2003)
Illustrasi: http://www.minstrum.net/images/art/tlj2/dreamfall_art_044.jpg
Ilon ka baca kisah dron hai adun,di meulaboh peu bna.add ilon beh,ilon kemeu meuruno megamba lage dron