jump to navigation

ANGKATAN BERSENJATA DIGANTI PRAMUKA SAJA! Mei 31, 2007

Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.
5 comments

 

Penembakan
Sumiyati menangisi jenazah adiknya yang menjadi korban tewas di kamar jenazah RS Saiful Anwar, Malang (30/5). Lima orang tewas dan tujuh luka tembak akibat bentrok berdarah di desa Alas Tlogo, Pasuruan yang dipicu sengketa tanah antara TNI AL dan warga. Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Terhenyak dan marah, inilah reaksiku pagi ini saat membaca berita mengenai insiden penembakan warga sipil oleh TNI Angkatan Laut di Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Pasuruan, Jawa Timur. Lagi-lagi nyawa seolah tak ada arti di negeri yang katanya negeri yang ramah ini.

Insiden yang berakar pada persoalan perebutan lahan antara warga dan TNI AL tersebut menewaskan lima warga Desa Alas Tlogo yaitu Sutam (45), Rohman (41), Dewi Khotijah (20), Mistin (27) dan Choirul bin Sutrisno (3). Dua nama terakhir adalah ibu dan anak. Saat kejadian Choirul sedang digendong ibunya Mistin. Sang ibu meninggal dengan luka tembak di dada dan Choirul menghembuskan nafas terakhirnya di RS Syaful Anwar, Kota Malang saat operasi pengangkatan peluru tajam yang bersarang di dadanya. Sementara Dewi Khotijah adalah seorang ibu yang sedang hamil 5 bulan. Jadi sesungguhnya kebrutalan TNI Angkatan Laut pada insiden tersebut telah merenggut 6 nyawa!

Jika berhadapan dengan rakyat sipil, apapun situasinya sesungguhnya tentara tak punya hak untuk menggunakan senjata sebagai jalan keluar dari suatu persoalan. Tentara ada kan untuk membela kepentingan rakyat yang tak bersenjata. Tentara ada kan karena dibiayai dari uang rakyat, dari berbagai pungutan pajak. Seragam, senjata, peluru dan amunisi tentara, bahkan uang makan tentara sejatinya berasal dari keringat dan kerja keras rakyat sipil. Tapi sungguh ironis dan memalukannya tentara di Indonesia. Senjata dan peluru yang mereka pegang justru diarahkan dan digunakan untuk membunuh rakyat sendiri.

Inilah resiko bila dalam masa damai tentara dibiarkan berkeliaran di wilayah-wilayah sipil. Karena tak ada peperangan bagi tentara, maka tentara menciptakan wilayah perangnya sendiri, lagi-lagi rakyat sipillah yang jadi korban. Anggaran belanja negara yang digunakan untuk kebutuhan militer seharusnya dipangkas saja. Untuk apa membiayai tentara yang hanya berani membunuh rakyat sendiri? Lebih baik anggaran untuk seragam, senjata dan amunisi dialihkan untuk bidang pendidikan. Kalo kata Samuel P.Hutington militer di dunia ketiga harusnya dikasih kesibukan, kasih mereka teknologi militer yang canggih maka mereka akan sibuk mempelajari teknologi tersebut.

Kalo kata temen saya sih jalanin aja lagi program tentara masuk desa (dulu AMD: ABRI masuk desa) tapi dengan syarat mutlak yaitu mereka masuk tanpa senjata. Senjata mereka ya pacul, atau sekop untuk bangun jalan atau jembatan. Tapi apa tentara mau? Lha wong mereka sejak jadi calon prajurit dilatih untuk menembak dan membunuh.

Atau bubarkan saja tentara yang suka bunuhin rakyat sendiri? Seperti mars ABRI yang diplesetin semasa saya dan teman-teman kuliah dulu suka turun ke jalan:

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Tidak berguna, bubarkan saja
Diganti Menwa, ya sama saja
Lebih baik diganti Pramuka…