Arsip untuk Mei, 2007

Anjing Kau!

Posted in Catatan-Catatan on Mei 17, 2007 by ariaristides

Anjing Kau!

“Anjing kau!” Begitulah makian dari seorang manusia bila ia dalam keadaan sangat marah. Dalam bahasa Indonesia makian seperti ini masuk kategori gaya bahasa sarkasme. Dibawahnya ada sinisme, lalu ada penghalusan bahasa gaya euphimisme. Seseorang yang mengucapkan kata tersebut sesungguhnya bukan benar-benar marah kepada seekor anjing, tapi biasanya malah marah kepada orang lainnya.

Mengapa harus kata itu yang dipilih? Inilah yang berkecamuk dalam pikiran seekor anjing besar jenis douberman. Aku, kamu atau kita yang gak pernah belajar bahasa anjing atau bahkan belum pernah jadi anjing, pasti gak akan paham perasaan yang dialami seekor anjing. Ya sungguh…kesedihan inilah yang terus berkecamuk di hati seekor anjing, mengapa ketika manusia sedang marah ia mengeluarkan ungkapan “anjing kau!” apakah karena anjing adalah hewan yang paling menyebalkan? Maka saat ada manusia yang membuat kesal manusia lain, maka ia pantas disebut sebagai anjing? Sambil terus menyusuri jalan aspal panas siang itu, anjing douberman dengan geram berpikir tentang hal itu.

Saat melewati lapangan luas dimana saat itu sedang ada anak-anak kecil bermain bola, si anjing berhenti dan menoleh sebentar.

“hugh..hughh..hughh..” anjing itu menyalak.

Seorang anak yang tidak ikut main dan berdiri dipinggir lapangan, berteriak panik, “anjing…anjing…” ia berseru sambil berlari dengan sekuat tenaga. Melihat ulahnya, teman-temannya yang sedang asyik bermain bola ikut panik, lalu kocar-kacir meningalkan lapangan.

“Mbeeekkk…” seekor kambing berbulu hitam yang asyik makan dari rumput yang tumbuh jarang jarang di pinggiran lapangan bola itu seolah menegur anjing.

“Mengapa kau menggonggong?” tanya kambing

“Aku hanya ingin bertanya kepada mereka, mengapa bila manusia marah mereka selalu menyebut namaku?” kata sang anjing dengan geram.

“Mbeekkk…mbeekkk…” kambing tertawa-tawa memperlihatkan moncongnya yang sedang penuh dengan rumput.

“Mengapa kau protes? Manusia kan mengganggap dirinya paling berkuasa terhadap seluruh isi di muka bumi ini. Apakah kau pernah dengar ungkapan “kambing hitam?” mengapa manusia memakai ungkapan itu untuk menggambarkan orang lain yang dipersalahkan?” tanya kambing sambil terus mengunyah-nguyah rumput dimulutnya. “ Tadinya aku juga seperti kau, terus bertanya-tanya, tapi sudahlah… aku ini kan hanya seekor kambing, tak akan pernah mampu mengalahkan manusia” lanjutnya dengan pasrah.

Anjing makin tak puas, karena ternyata juga ada hewan lain yang disebut-sebut oleh manusia saat menunjuk seseorang yang dipersalahkan. Meski letih, langkah anjing itu masih terlihat gagah saat menyusuri jalan setapak tanpa aspal. Ia melanjutkan perjalanannya, mencari jawab atas pertanyaan yang mengganggu benaknya.

“Gugh..Ouggh…” ia menyalak dengan sekuat tenaga saat melihat seekor binatang berkaki empat, berdiri sendirian di bawah sebatang pohon besar.

“Siapa kau?” tanya anjing

“Aku keledai. Aku keluarga dekat kuda” dengan bangga keledai memperkenalkan dirinya.

“Apakah kau tahu mengapa saat manusia marah ia selalu menyebut-nyebut namaku?” tanya anjing tanpa basa-basi.

“hi…hi..hi…kau ini hewan cerdas tapi berprilaku aneh. Mengapa kau tanyakan itu? Tak ada gunanya kau mencari tahu. Apakah kau tahu saat manusia mengolok-olok manusia lain, mereka selalu bilang, bodoh seperti keledai” katanya sambil tertawa terpingkal-pingkal. “Ngapain kau mencari jawaban soal itu? Santai sajalah…bisa-bisa kalau ada manusia tahu, kau akan disebut anjing yang bodoh seperti keledai! Ha ha ha…” keledai menjelaskan sambil tetap tertawa-tawa hingga kepalanya merunduk hampir mencium tanah.

Dengan kecewa anjing melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia tak berjalan tetapi berlari. Berlari dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki. Ia lelah…tapi ia terus berlari seolah ingin meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang menghinggapi kepalanya. Ia terus berlari hingga ia masuk ke kawasan hutan.

Ia mendengar auman seekor macan, saudara dekat dari singa si raja hutan. Makin ia masuk ke dalam hutan makin keras suara auman yang didengarnya. Langkah anjing terhenti saat dilihatnya satu kurungan besar dan macan ada di dalamnya.

“Hei macan mengapa kau berada dalam kandang besi itu?” tanya anjing

“Aku ditangkap oleh manusia!” katanya dengan tegas. Sambil berkata demikian macan berputar-putar di kandangnya.

Anjing tersadar, ternyata ia bukan tersesat di hutan melainkan di kebun binatang. Ia bertanya kepada macan “Hei macan apakah kau tahu, mengapa manusia menyebut namaku saat mereka marah?”

Macan tak terlihat pusing meski ia terus berputar-putar di kandangnya. “Bagaimana aku tahu? Manusia pun sering menyebut namaku untuk menggambarkan manusia lain yang tak berdaya. Mereka menyebutnya macan ompong!”

Anjing tak puas, ia kembali berjalan tanpa arah. Di depan pohon besar ia berputar. Dahan pohon besar itu bergoyang-goyang. Ternyata ada empat atau lima ekor monyet bergelantungan didahan itu. Suara dahan yang bergoyang berderak-derak. Di langit awan mulai merah, dan matahari beranjak menghilang.

“Apa yang kau cari anjing?” tanya seekor monyet, melihat kegelisahan si anjing.

“Aku mencari tahu, mengapa manusia menyebut namaku saat mereka marah?” kata anjing yang kelelahan itu.

“hu hu..ha ha.. hu hu..ha ha…” kata monyet itu kepada teman-temannya. Lalu suara-monyet-monyet itu kompak seperti paduan suara dan suara dahan yang berderak-derak karena loncatan-loncatan para monyet adalah iringan orkestranya. Monyet-monyet itu tertawa-tawa sambil terus meloncat-loncat.

Anjing terdiam dibawah pohon, kepalanya terus mendongak melihat monyet-monyet itu. Seekor monyet berkata, “anjing..anjing…apakah kau tak tahu manusia juga menyebut nama kami saat mereka marah.” Monyet itu lalu kembali bergabung bersama monyet yang lain, tertawa-tawa dan meloncat-loncat.

Anjing makin geram, marah, bingung, namun letih. Ia kembali berlari mengikuti jalan setapak sekuat tenaga. Kemarahannya seolah melipatgandakan tenaganya menjadi tiga kali lipat. Ia berlari, berlari dan hanya berlari, meloncati lubang, menerobos semak, lalu meloncati pagar. Di depan pagar anjing bertemu dengan seorang manusia yang kebetulan baru saja mengunci pagar itu. Tanpa peringatan apa-apa, anjing menerkam manusia itu. Terdorong oleh kekuatan terkaman anjing, manusia itu terjatuh. Cakar anjing merobek-robek bajunya. Gigi-gigi anjing yang tajam menembus daging kaki kiri orang itu. Darah mengalir dari luka gigitan anjing, orang itu berteriak-teriak kesakitan. Anjing terus menggigit, ia seperti sedang kesurupan arwah anjing gila.

Teriakan orang yang digigit anjing itu ternyata mengundang orang-orang datang ke tempat kejadian. Melihat seseorang yang sedang berusaha melepaskan gigitan seekor anjing, orang-orang yang datang tadi segera bereaksi. Ada orang yang menarik-narik ekor anjing itu, ada yang membawa kayu memukul-mukul badan anjing, ada pula yang menendang-nendang tubuh anjing.

Tak mampu menahan keroyokan orang-orang itu, akhirnya si anjing melepaskan gigitannya, menghindar dan pergi berlari menjauh, menghilang. Lepas si anjing pergi, orang-orang masih mengerubung memberi pertolongan, namun orang yang tadi digigit anjing terus berteriak-teriak “Anjing kau, monyet sialan, kucing kurap, bangsat, keledai, awas kau anjing gila!”

Pesan moral:

1. Hormatilah binatang, jangan sok berkuasa dan merendahkan martabat, tidak memperhatikan perasaan binatang.

2. Hormatilah orang lain, jangan menyebut nama binatang yang ditujukan kepada orang lain.

 

Beranikah Kita Sediakan Ruang Itu?

Posted in Catatan-Catatan on Mei 11, 2007 by ariaristides

 

Tragedi Mei
Ada apa saja di bulan Mei? Bulan Mei diawali dengan peringatan Hari Buruh Internasional atau yang lebih dikenal dengan May Day. Satu hari setelahnya 2 Mei adalah hari Pendidikan Nasional. 5 Mei tercatat sebagai Hari Lembaga Sosial Desa, ini gak populer ya…saya sendiri gak ngerti sejarah asal muasal peringatan hari ini, mungkin ini ada saat Soeharto masih berkuasa barangkali.

Berikutnya 8 Mei ada International Red Cross Day dan saat yang sama adalah hari ulang tahun saya. Lalu ada juga yang tak kalah asingnya dengan Hari Lembaga Sosial Desa, yaitu Hari POM TNI yang jatuh pada tanggal 11 Mei, yang kenal dengan perayaan hari ini pastilah hanya keluarga besar TNI.

Yang menarik adalah tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Saya suka membaca buku, mungkin anda juga, tapi sayang, dengan bermacam alasan yang berbeda-beda belum semua orang Indonesia suka membaca buku.

20 Mei adalah yang paling hebat. Bagaimana tidak hebat? Dari namanya saja kita bisa membayangkan bahwa di dalamnya terkandung semangat yang begitu luar biasa besarnya. 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional. Setiap tahun bangsa Indonesia terus memperingati Hari Kebangkitan Nasional dengan tema kebangkitan yang berbeda-beda. Bangkit dari kemiskinan, keterpurukan, keterpecahan dsb, sayang semangatnya hanya terasa sebatas pada perayaan-perayaan ceremonial belaka. Lepas dari itu rasanya Indonesia masih terpuruk dengan berbagai persoalan.

Apakah tak ada lagi peristiwa penting dibulan mei? Jangan pura-pura lupa ya! Ingat 13-15 Mei 1998? Inilah peristiwa yang paling tragis di bulan mei. Peristiwa 9 tahun lalu itu dikenal dengan “Tragedi Mei.” Menjelang kejatuhan Rejim Soeharto kerusuhan terjadi hampir di semua sudut kota Jakarta.

Provokasi terhadap penjarahan toko, mall atau pusat perbelanjaan terjadi di berbagai tempat. Lalu ketika kaum miskin mulai terprovokasi, terjadi pembakaran di berbagai tempat. Tak sedikit korban yang tewas terjebak di dalam gedung-gedung yang terbakar. Menurut catatan Tim Relawan untuk Kemanusiaan, peristiwa itu menewaskan 1.217 orang, 91 terluka, dan 31 orang hilang. Tragedi ini juga menyeret-nyeret isu yang sangat rasialis. Dikabarkan dibeberapa tempat terjadi pemerkosaan dan pembunuhan terhadap perempuan-perempuan Cina.

Saya bukanlah korban secara langsung tragedi tersebut. Tapi secara tidak langsung saya sendiri merasa sangat sakit. Bukan karena saya Cina atau karena saya menyukai perempuan Cina. Tapi karena 9 tahun sejak peristiwa itu berlalu dan rejim-rejim penguasa telah berganti, tetap saja tak ada penyelesaian yang memuaskan terhadap peristiwa memilukan itu.

Rejim boleh berganti. Habibie, Megawati, Gus Dur, hingga Yudhoyono, semuanya punya semangat yang sama terhadap Tragedi Mei 98, yaitu berusaha melupakan atau setidaknya pura-pura lupa!

Lembaga Independen Komnas HAM telah menjalankan tugas sebagai penyelidik dan mengeluarkan kesimpulan bahwa Peristiwa Mei 1998 memenuhi unsur-unsur kejahatan terhadap kemanusiaan, sebagaimana tercantum dalam UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

Sayangnya laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang diverifikasi oleh Tim Ad Hoc bentukan Komnas HAM setebal 6.000 halaman yang distempel dan dilegalisasi ini terus terombang-ambing antara Komnas HAM dan Kejaksaan Agung. Berkas tersebut telah dikirimkan ke Kejaksaan sejak tahun 2003, tetapi dikembalikan lagi ke Komnas HAM karena dianggap “belum lengkap”. Tahun-tahun berikutnya, berkas tersebut seolah jadi bahan kuno yang tak terjamah. Tak terlihat kesungguhan pemerintah (dalam hal ini Kejaksaan Agung) sebagai institusi penyidikan tidak untuk meneruskan penyidikan kasus tersebut. DPR pun impotent!

Pernah nonton tayangan Oprah Winfrey Special tentang pembantaian yang dilakukan oleh Nazi pada masa perang dunia? Saya sangat terharu nonton tayangan yang menghadirkan Elie Wiesel, seorang Yahudi yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi dan kemudian menjadi novelis penerima Nobel Perdamaian. Disitu Oprah membawa Wiesel mengunjungi beberapa tempat yang kini menjadi semacam “museum tragedi kemanusiaan” dimana dulu Wiesel pernah disekap dan mengalami penyiksaan bersama ribuan orang lainnya.

Berkali-kali Wiesel tercekat tanpa kata-kata dan raut wajahnya menampilkan perasaan trauma, saat Wiesel diajak memasuki ruang demi ruang yang ada di “museum tragedi kemanusiaan.” Ini adalah tempat yang tak ingin dikunjunginya sepanjang sejarah hidupnya. Namun Wiesel bukanlah manusia yang cengeng dengan sejarah kelam, Ia tak ingin melupakan itu, malah Ia ingin sejarah kelam disebarluaskan agar tak ada lagi tragedi-tragedi kemanusiaan di seluruh penjuru dunia. Karena itulah Ia mau datang bersama Oprah Winfrey.

Dalam satu wawancaranya, Elie Wiesel menyatakan bahwa dalam setiap kejahatan, pembunuh membunuh dua kali. Maksudnya, pembunuhan pertama adalah tindakan riil membunuh yang ia lakukan. Pembunuhan kedua dilakukan ketika ia berusaha menghapus ingatan akan kejahatan yang telah dilakukannya.

Menurut Wiesel “Merebut Ruang” adalah hal yang harus dilakukan oleh setiap orang pembela kemanusiaan. Merebut ruang dimana kebenaran tak lagi tersimpan dan dikuasai oleh para pelaku, tetapi harus ada ruang bagi para korban, keluarga korban dan pendukungnya untuk terus menyuarakan kebenaran.

Lalu dimana “Ruang” bagi para korban dan keluarga korban Tragedi 1998 untuk menyuarakan kebenaran? Meski dari hari ke hari ruang bagi mereka makin sempit dan suara mereka makin tak kedengaran, setidaknya ada satu “Ruang” dimana itu tak akan pernah mengecil dan suara-suara tak mungkin melemah. “Ruang” itu adalah hati kita masing-masing. Torehkan pernyataan di hati, bahwa kekerasan, pemerkosaan, pembunuhan, dan semua hal yang menghasilkan tragedi kemanusiaan tak akan pernah kita lakukan.

Beranikah kita sediakan “Ruang” itu?

Foto: Suara Pembaruan

 

 

Ultah: Sebuah Perayaan Mendekati Kematian

Posted in Catatan-Catatan on Mei 8, 2007 by ariaristides

 

Meja kecil disamping tempat tidurku bergetar kecil. Satu pesan singkat masuk ke hpku yang aktif silent mode-nya. Diantara gelap ruang kamar, meski dengan mata terpejam dengan mudah kuraih hpku. Dengan satu mata kanan setengah terbuka kubaca pesan singkat itu. Pesannya: “Happy b’day ya… Aku berdoa smg kamu slalu dlm lindungan dan limpahan kasih TUHAN. Amin..” Di keterangan waktu terbaca 08-May-07 01:02.

 

Antara sadar dan tak sadar karena memang aku baru saja mulai menikmati tidurku, hanya kata “happy b’day” yang aku ingat. Lalu rangkaian informasi yang tertangkap mata mulai menjalar dan berproses di rangkaian syaraf yang ada di otakku.

 

“oh ya aku ulang tahun… oh ya 8 mei ulang tahunku..” rentetan ingatan-ingatan itu terus menjalar hingga membuatku benar-benar terbangun dan tak dapat melanjutkan tidur malamku.

 

Lalu sms demi sms bergantian masuk dari teman dan sahabat-sahabatku. Aku belum ingin membaca isi pesan itu satu persatu. Aku hanya membaca nama-nama pengirimnya. Hp digenggaman tangan kananku. Aku masih terbaring tak beranjak dari tempat tidurku, namun pikiranku terlanjur berproses seperti mesin pabrik yang menyala saat jam kerja.

 

Aku ingin menuliskan perasaan dan apa yang kupikirkan saat itu. Tapi rasa malas lebih berkuasa dibandingkan keinginanku. Jadilah aku hanya bermonolog. Bertanya sendiri, menjawab sendiri, berdebat sendiri, semuanya sendiri. (Siapa juga malem-malem begini mau ditanya-tanyain, dimintai jawaban, bahkan diajak berdebat? )

 

“Apa yang kau ingat dari sebuah perayaan ulang tahun?” pertanyaan pertama muncul.

 

“Pesta dan makan-makan” jawabku secara spontan

 

“Apa ulang tahun hanya berarti pesta dan makan-makan? Apakah tanpa pesta dan makan-makan, ulang tahun jadi tak berarti?” muncul dua pertanyaan sekaligus dari jawaban pertama tadi.

 

Belum lagi sempat kupikirkan jawaban yang pas, sudah muncul rentetan pertanyaan berikutnya. “Mengapa setiap hari ulang tahun, orang-orang mengucapkan semoga panjang umur?”

 

“Ya aku dari dulu memang tak sepakat dengan ucapan itu!” sanggahku. “Kupikir setiap kali kita merayakan hari ulang tahun usia kita memang bertambah, tapi sejatinya jatah hidup kita bernafas didunia semakin berkurang. Artinya kita makin dekat dengan kematian!” aku melengkapi.

 

“Ya kau paham itu. Lalu hal baik apa yang sudah kau lakukan selama ini? Ingat kau sepakat bahwa ulang tahun sebenarnya adalah peringatan mendekati kematian.” pertanyaan yang lebih kritis muncul.

 

“Ya.. ya.. ya.. aku sepakat dengan kata-kata itu. Tapi tunggulah, aku belum menemukan jawaban tentang hal baik apa yang sudah aku lakukan selama puluhan tahun aku hidup di dunia ini. Tunggulah sampai besok… ulang tahun memang peringatan menuju kematian, tapi toh aku kan belum mati esok hari!” sanggahku dengan tegas.

 

“Udah ah… udah ngantuk nih..”

 

Selamat ulang tahun untukku!