Pencet Tombol OFF Juni 29, 2007
Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.2 comments

Sore hari di beranda rumah yang sejuk, aku tengah asyik membaca buku tentang kisah percintaan antar bangsa dengan tokoh Hein de Wit dan Hien No. Ini bukan sekedar cerita cinta melankonis dan romantis, kisah mereka adalah kisah berlatar belakang sejarah “Black Days Oktober 1740” yang sekaligus membongkar prasangka-prasangka rasialis yang masih menghuni sebagian besar isi kepala warga Indonesia.
Malam pun boleh hitam satu abad
Asal cinta menerangi jiwaku
Tidak putus…
Belum selesai aku membaca dendang dari tokoh Hein de Wit, tetangga sebelah rumahku muncul sambil bersungut-sungut.
“Kenapa bang?” tanyaku.
“Gila ya sinetron kita! Masak ada cerita anak umur sepuluh tahun mau bunuh ibunya pake cara masukin racun ke sarapan ibunya? Apa gak gila tuh yang bikin? Apa anak-anak kita yang nonton mau diajarin jadi pembunuh semua? Gila deh sinetron kita.. Lagian gimana sih negara kita, apa gak bisa atur tayangan-tayangan di tipi?” tetanggaku ini terus saja nyerocos dengan kening berkerut dan bibir yang monyong-monyong macam ikan mas diangkat dari air.
Mendengar keluh kesah, lebih tepatnya kemarahannya, aku terpaksa menutup bukuku.
“Emang abang nonton sinetron apaan?” tanyaku serius.
“Gua gak tau judulnya, tapi adegan di sinetron itu macem ngajarin anak-anak buat jadi pembunuh” kata tetanggaku ini masih dengan nada yang tinggi.
“Emang kenapa abang nonton sinetron?” tanyaku lagi.
“Ya karena gak ada acara laen lagi di tipi” katanya malu-malu.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Demi menurunkan emosinya, tetanggaku ini menyulut sebatang rokok kreteknya. Aku menutup hidung dan mengibas-ngibaskan bukuku saat ia mulai mengepulkan asap rokoknya.
“He.. he.. maaf.. maaf..” katanya sambil mesam-mesem.
“Gini nih bang…” kataku membuka penjelasan untuk tetanggaku yang gara-gara sinetron gak tau harus berbuat apa. “Selama ini sepertinya emang sebagian besar sinetron dan beberapa program lain yang ditayangkan di tivi-tivi Indonesia gak punya sumbangan untuk mencerdaskan pemirsanya. Sebaliknya program-program tersebut justru lebih banyak meracuni pemirsa. Ya seperti keluhan abang tadi, berisi sadisme, eksploitasi seksual, horor” kataku serius.
Tetanggaku itu hanya manggut-manggut sambil mengepulkan asap rokoknya.
Aku melanjutkan lagi penjelasanku, “dan gilanya lagi nih bang, gak sedikit sinetron yang merupakan hasil jiplakan dari film luar negeri alias nyeplak alias ngebajak!”
Wajah tetanggaku tak lagi terlihat marah, tapi malah mengernyitkan dahinya. Mungkin penjelasan yang aku sampaikan menambah kegundahannya tentang situasi pertelevisian di Indonesia.
“Trus gimana?” tanyanya ingin tahu lebih lanjut.
“Lucunya nih bang, meski udah banyak kritikan atau bahkan kecaman dari berbagai pihak, gak ada satu lembaga pun yang punya kekuatan tegas untuk mengontrol tayangan-tayangan beracun tersebut” kataku meyakinkan tetanggaku.
“Abang tau, apa namanya kalo gak punya kekuatan?” tanyaku.
“Lemes..” kata tetanggaku singkat.
“Bukan! Namanya impoten!” sanggahku.
“Ha..ha..ha..ha..ha…” Kami tertawa berdua. Kata impoten pasti berkonotasi dengan problem seksual.
“Kan ada yang namanya KPI? Eh ngomong-ngomong KPI apaan sih?” tetanggaku bertanya setengah berbisik kepadaku. Aku tersenyum-senyum mendengar pertanyaannya.
“KPI itu komisi penyiaran indonesia, tugasnya sebenernya ya ngatur-ngatur tayangan-tayangan di tivi”
“Tapi kenapa sinetron-sinetron gak mutu masih banyak?” sanggahnya.
“Nah..itulah bang.”
“Itulah apa?” protesnya
“Itulah namanya impoten” jawabku singkat.
“Ha…ha…ha…ha…” kami kompak tertawa bersama lagi.
Aku melanjutkan penjelasanku, “maka bang, sebelum ada lembaga yang tegas mampu mengontrol tayangan-tayangan beracun itu, kekuatan untuk nyetop tayangan beracun sebenarnya ada diujung jari kita sendiri.”
“Maksudnya?” ia bingung sambil garuk-garuk kepala.
“Jangan tonton tayangan-tayangan beracun! Bila semua tivi secara bersamaan cuma nyiarin tayangan beracun, maka bersama-sama pula kita harus pencet tombol OFF di remote tivi kita.” aku menegaskan tentang apa yang harus dilakukannya.
Tiba-tiba tanpa permisi tetanggaku ini berlari sambil nyeletuk, “eh sorri gua matiin tipi dulu ya…”
Aku tersenyum-senyum sendiri. Sebentar kemudian aku kembali larut dengan bukuku.
Rahasia yang Tak Terucap Juni 22, 2007
Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.3 comments
Langit mendung, sebentar lagi pasti hujan…
Awalnya aku sangat menikmati perjalanan ini. Perjalanan bersama bayang-bayangku yang hanya bertujuan membunuh waktu. Kami…aku dan bayang-bayangku berteduh dibawah pohon rindang yang mulai langka di sudut kota. Tepat di depan tempat kami berbincang bersama, ada seruang danau yang kami tak tau berapa dalamnya. Yang pasti dipinggiran danau berjajar orang-orang yang menurutku sangat sabar dan setia, melemparkan kail berumpan dan menunggu ikan-ikan lapar terjerat di ujung pancing. Kami…aku dan bayang-bayangku terus bertukar cerita, tertawa bersama, sesekali saling berpelukan.
Kukira datang hujan, tapi matahari makin terik…
Tawa kami terganggu, bukan oleh teriakan gembira sang pengail yang dapat ikan. Wajah kami mulai panas saat mentari meninggi dan sinarnya menembus disela-sela rimbun dedaunan. Kita pindah usulmu… Baiklah kataku… Kami…aku dan bayangku bergerak meninggalkan tempat pinggir danau itu. Kami bergerak diantara pohon-pohon tinggi nan teduh, tak jarang angin berhembus berlawanan arah menampar wajah kami dari arah depan. Teduh katamu…indah kataku… Sebenarnya semua tempat yang kami lewati sudah cukup indah dan teduh, tapi kau tak pernah puas. Disini kataku…Coba disana katamu…
Angin terus berhembus, daun-daun bergemerisik tertiup angin…
Aku hanya membisu mengikuti langkah bayangku. Di sini saja, akhirnya bayangku bersuara. Bayangku memilih tempat terbuka dimana itu cukup untuk kami berdua berdiri, duduk atau bahkan berbaring. Disekeliling kami ada pohon-pohon besar sejenis cemara. Sebenarnya ada yang menyesak di dada. Satu hal yang kupendam dan ingin kusampaikan sejak lama. Bayangku terus bicara, ia terus bercerita tentang hal-hal yang menggembirakannya. Aku hanya hambar…apa yang ingin kusampaikan hanya tercekat di dada. Ah..aku tak ingin merusak kegembiraannya hari ini, pikirku…
Seekor burung berkicau merdu di pucuk pohon cemara…
Kami haus. Ayo kita berjalan, usulku… Mari kita minum, balasmu… dan kami…aku dan bayangku keluar dari kepungan pohon cemara. Berjalan menelusuri jalan setapak, sebentar saja kami sampai di jalan raya. Di persimpangan, kami teguk bersama satu botol air minum dalam kemasan. Kau terkekeh-kekeh saat minumku tertumpah dan membasahi hampir setengah wajahku. Sialan kataku… Sambil terus tertawa bayanganku memberiku sehelai tisu.
Dilangit senja memerah dan langit mulai redup…
Hari beranjak sore dan kami masih berjalan. Aku membisu mengingat sesak rahasia yang tersimpan dihatiku. Memandangku, bayangku hanya tersenyum. Senyum termanis disore hari. Kita duduk disini kataku… Bayangku hanya diam, tapi ia mengikuti langkahku. Telah kukumpulkan keberanianku seharian ini demi terucapnya rahasia itu. Bayangku tak pernah tau, tapi ia terus tersenyum. Bayangku erat menggenggam tangan kiriku. Kakiku letih, hatiku sesak, dijiwaku sedang bertarung antara keberanian dan kelemahanku untuk sampaikan rahasia kepada bayangku. Aku disamping bayangku…kami sama-sama terdiam. Coba kubuka mulutku agar terucap suara, sengaja tak kulihat wajah bayangku, tapi aku tau bayangku sedang memandangku, dan ia tersenyum. Kata-kata diujung lidahku beku. Dadaku makin menyesak. Semampuku aku menahan. Sesak itu berubah jadi tangisan tanpa suara. Mengalir basah dimataku. Berlalu lagi satu hari dan rahasia tak juga terucap.
Malam datang, langit mendung, sebentar lagi pasti hujan…