Langit mendung, sebentar lagi pasti hujan…
Awalnya aku sangat menikmati perjalanan ini. Perjalanan bersama bayang-bayangku yang hanya bertujuan membunuh waktu. Kami…aku dan bayang-bayangku berteduh dibawah pohon rindang yang mulai langka di sudut kota. Tepat di depan tempat kami berbincang bersama, ada seruang danau yang kami tak tau berapa dalamnya. Yang pasti dipinggiran danau berjajar orang-orang yang menurutku sangat sabar dan setia, melemparkan kail berumpan dan menunggu ikan-ikan lapar terjerat di ujung pancing. Kami…aku dan bayang-bayangku terus bertukar cerita, tertawa bersama, sesekali saling berpelukan.
Kukira datang hujan, tapi matahari makin terik…
Tawa kami terganggu, bukan oleh teriakan gembira sang pengail yang dapat ikan. Wajah kami mulai panas saat mentari meninggi dan sinarnya menembus disela-sela rimbun dedaunan. Kita pindah usulmu… Baiklah kataku… Kami…aku dan bayangku bergerak meninggalkan tempat pinggir danau itu. Kami bergerak diantara pohon-pohon tinggi nan teduh, tak jarang angin berhembus berlawanan arah menampar wajah kami dari arah depan. Teduh katamu…indah kataku… Sebenarnya semua tempat yang kami lewati sudah cukup indah dan teduh, tapi kau tak pernah puas. Disini kataku…Coba disana katamu…
Angin terus berhembus, daun-daun bergemerisik tertiup angin…
Aku hanya membisu mengikuti langkah bayangku. Di sini saja, akhirnya bayangku bersuara. Bayangku memilih tempat terbuka dimana itu cukup untuk kami berdua berdiri, duduk atau bahkan berbaring. Disekeliling kami ada pohon-pohon besar sejenis cemara. Sebenarnya ada yang menyesak di dada. Satu hal yang kupendam dan ingin kusampaikan sejak lama. Bayangku terus bicara, ia terus bercerita tentang hal-hal yang menggembirakannya. Aku hanya hambar…apa yang ingin kusampaikan hanya tercekat di dada. Ah..aku tak ingin merusak kegembiraannya hari ini, pikirku…
Seekor burung berkicau merdu di pucuk pohon cemara…
Kami haus. Ayo kita berjalan, usulku… Mari kita minum, balasmu… dan kami…aku dan bayangku keluar dari kepungan pohon cemara. Berjalan menelusuri jalan setapak, sebentar saja kami sampai di jalan raya. Di persimpangan, kami teguk bersama satu botol air minum dalam kemasan. Kau terkekeh-kekeh saat minumku tertumpah dan membasahi hampir setengah wajahku. Sialan kataku… Sambil terus tertawa bayanganku memberiku sehelai tisu.
Dilangit senja memerah dan langit mulai redup…
Hari beranjak sore dan kami masih berjalan. Aku membisu mengingat sesak rahasia yang tersimpan dihatiku. Memandangku, bayangku hanya tersenyum. Senyum termanis disore hari. Kita duduk disini kataku… Bayangku hanya diam, tapi ia mengikuti langkahku. Telah kukumpulkan keberanianku seharian ini demi terucapnya rahasia itu. Bayangku tak pernah tau, tapi ia terus tersenyum. Bayangku erat menggenggam tangan kiriku. Kakiku letih, hatiku sesak, dijiwaku sedang bertarung antara keberanian dan kelemahanku untuk sampaikan rahasia kepada bayangku. Aku disamping bayangku…kami sama-sama terdiam. Coba kubuka mulutku agar terucap suara, sengaja tak kulihat wajah bayangku, tapi aku tau bayangku sedang memandangku, dan ia tersenyum. Kata-kata diujung lidahku beku. Dadaku makin menyesak. Semampuku aku menahan. Sesak itu berubah jadi tangisan tanpa suara. Mengalir basah dimataku. Berlalu lagi satu hari dan rahasia tak juga terucap.
Malam datang, langit mendung, sebentar lagi pasti hujan…