Pencet Tombol OFF

Sore hari di beranda rumah yang sejuk, aku tengah asyik membaca buku tentang kisah percintaan antar bangsa dengan tokoh Hein de Wit dan Hien No. Ini bukan sekedar cerita cinta melankonis dan romantis, kisah mereka adalah kisah berlatar belakang sejarah “Black Days Oktober 1740” yang sekaligus membongkar prasangka-prasangka rasialis yang masih menghuni sebagian besar isi kepala warga Indonesia.
Malam pun boleh hitam satu abad
Asal cinta menerangi jiwaku
Tidak putus…
Belum selesai aku membaca dendang dari tokoh Hein de Wit, tetangga sebelah rumahku muncul sambil bersungut-sungut.
“Kenapa bang?” tanyaku.
“Gila ya sinetron kita! Masak ada cerita anak umur sepuluh tahun mau bunuh ibunya pake cara masukin racun ke sarapan ibunya? Apa gak gila tuh yang bikin? Apa anak-anak kita yang nonton mau diajarin jadi pembunuh semua? Gila deh sinetron kita.. Lagian gimana sih negara kita, apa gak bisa atur tayangan-tayangan di tipi?” tetanggaku ini terus saja nyerocos dengan kening berkerut dan bibir yang monyong-monyong macam ikan mas diangkat dari air.
Mendengar keluh kesah, lebih tepatnya kemarahannya, aku terpaksa menutup bukuku.
“Emang abang nonton sinetron apaan?” tanyaku serius.
“Gua gak tau judulnya, tapi adegan di sinetron itu macem ngajarin anak-anak buat jadi pembunuh” kata tetanggaku ini masih dengan nada yang tinggi.
“Emang kenapa abang nonton sinetron?” tanyaku lagi.
“Ya karena gak ada acara laen lagi di tipi” katanya malu-malu.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Demi menurunkan emosinya, tetanggaku ini menyulut sebatang rokok kreteknya. Aku menutup hidung dan mengibas-ngibaskan bukuku saat ia mulai mengepulkan asap rokoknya.
“He.. he.. maaf.. maaf..” katanya sambil mesam-mesem.
“Gini nih bang…” kataku membuka penjelasan untuk tetanggaku yang gara-gara sinetron gak tau harus berbuat apa. “Selama ini sepertinya emang sebagian besar sinetron dan beberapa program lain yang ditayangkan di tivi-tivi Indonesia gak punya sumbangan untuk mencerdaskan pemirsanya. Sebaliknya program-program tersebut justru lebih banyak meracuni pemirsa. Ya seperti keluhan abang tadi, berisi sadisme, eksploitasi seksual, horor” kataku serius.
Tetanggaku itu hanya manggut-manggut sambil mengepulkan asap rokoknya.
Aku melanjutkan lagi penjelasanku, “dan gilanya lagi nih bang, gak sedikit sinetron yang merupakan hasil jiplakan dari film luar negeri alias nyeplak alias ngebajak!”
Wajah tetanggaku tak lagi terlihat marah, tapi malah mengernyitkan dahinya. Mungkin penjelasan yang aku sampaikan menambah kegundahannya tentang situasi pertelevisian di Indonesia.
“Trus gimana?” tanyanya ingin tahu lebih lanjut.
“Lucunya nih bang, meski udah banyak kritikan atau bahkan kecaman dari berbagai pihak, gak ada satu lembaga pun yang punya kekuatan tegas untuk mengontrol tayangan-tayangan beracun tersebut” kataku meyakinkan tetanggaku.
“Abang tau, apa namanya kalo gak punya kekuatan?” tanyaku.
“Lemes..” kata tetanggaku singkat.
“Bukan! Namanya impoten!” sanggahku.
“Ha..ha..ha..ha..ha…” Kami tertawa berdua. Kata impoten pasti berkonotasi dengan problem seksual.
“Kan ada yang namanya KPI? Eh ngomong-ngomong KPI apaan sih?” tetanggaku bertanya setengah berbisik kepadaku. Aku tersenyum-senyum mendengar pertanyaannya.
“KPI itu komisi penyiaran indonesia, tugasnya sebenernya ya ngatur-ngatur tayangan-tayangan di tivi”
“Tapi kenapa sinetron-sinetron gak mutu masih banyak?” sanggahnya.
“Nah..itulah bang.”
“Itulah apa?” protesnya
“Itulah namanya impoten” jawabku singkat.
“Ha…ha…ha…ha…” kami kompak tertawa bersama lagi.
Aku melanjutkan penjelasanku, “maka bang, sebelum ada lembaga yang tegas mampu mengontrol tayangan-tayangan beracun itu, kekuatan untuk nyetop tayangan beracun sebenarnya ada diujung jari kita sendiri.”
“Maksudnya?” ia bingung sambil garuk-garuk kepala.
“Jangan tonton tayangan-tayangan beracun! Bila semua tivi secara bersamaan cuma nyiarin tayangan beracun, maka bersama-sama pula kita harus pencet tombol OFF di remote tivi kita.” aku menegaskan tentang apa yang harus dilakukannya.
Tiba-tiba tanpa permisi tetanggaku ini berlari sambil nyeletuk, “eh sorri gua matiin tipi dulu ya…”
Aku tersenyum-senyum sendiri. Sebentar kemudian aku kembali larut dengan bukuku.
Juli 1, 2007 pada 6:12 am
Hahaha..iyaa matiin tuh tombol tipi !
Gw nonton TV kalo pas makan aja, nemenin makan sambil nonton TV.
Selebihnya asik di depan PC
Juli 10, 2007 pada 11:25 pm
Waktu aku pulkam tahun lalu, aku juga geleng2 kepala sama tayangan tv di Indonesia. Bayangin aja, tiap hari dari pagi sampai sore banyak banget tayangan berita2 selebritisnya.
Udah gitu, sinetron2 agama yg seharusnya bermanfaat malah sama sekali nggak mendidik!
Aku ikut prihatin, Ri.