Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan
Hidupku, hidupmu, adalah kepingan puzzle berjumlah jutaan. Tak ada contoh gambar atau template untuk membentuknya. Mungkin hanya mimpi-mimpi abstraklah yang membantu membentuknya.
Awalnya kamulah yang bersemangat dan coba menyusun puzzle dari keping-keping menjadi suatu bentuk nyata. Bila ada kesalahan menyusunnya, kau akan marah tapi kadang tersenyum, lalu membongkar kesalahan, dan bermula lagi dari satu keping ke keping berikutnya. Begitulah terus menerus yang coba kau lakukan.
Dan aku? Aku hanya memandangmu, sesekali tersenyum. Apa kau mengerti arti senyumku? Kau terus asyik saja, “Puzzle adalah mimpi dan cita-cita, ketika menyusunnya aku seperti mewujudkan hidup yang penuh mimpi” begitulah katamu saat kutanya mengapa kau terus asyik menyusun puzzle itu.
Justru aku sesekali dengan sengaja merusak apa yang telah kau susun, memisahkan kembali kepingan-kepingan yang telah kau satukan. Dan kau akan marah dan menangis seperti anak kecil karena ulah nakalku.
Lalu saat kau letih menyerah, puzzle tak juga terbentuk. “Puzzle itu benar-benar seperti mimpi abstrak yang tak tersusun,” katamu mengambil kesimpulan.
Di ruang yang sama aku kesepian, saat kau pergi. Kepingan-kepingan puzzle masih di tempat yang sama. Baru kurasakan sepi, sedih, kosong hanya berteman tumpukan keping-keping puzzle.
Aku kehabisan daya saat menyentuh kepingan-kepingannya, membayangkan kau masih ada untuk menyusunnya.
Taukah kau? Dulu sebelum ini terjadi aku pun pernah ikut mencoba menyusun puzzle. Saat kau beristirahat atau pergi, diam-diam aku ikut menyusun keping-keping itu, meski aku tak pernah tau akan berbentuk seperti apa susunan puzzle ini nantinya. Saat kau kembali dan melanjutkan, aku pura-pura diam, kadang juga bersembunyi agar kau tak tau apa yang kulakukan. Bila dihitung antara aku diam, ikut menyusun puzzle dengan diam-diam, atau merusak susunan puzzle yang telah kau buat, yang terakhirlah yang paling sering kulakukan.
Diam-diam aku mulai paham bahwa kita memang berbeda. Bila kau menyusun puzzle dari ujung kiri, maka aku sengaja menyusunnya dari ujung yang lainnya. Aku menyusunnya dengan jari-jari tangan yang kusembunyikan dibelakang badanku, aku diam-diam menyusun puzzle bersamamu.
Tapi kau tak tau…
Hingga kau menyerah… pergi…
Kau tak pernah tau…
Satu kepingan puzzle masih kusimpan.
Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan
Apa kabar sahabat? Sudah ribuan hari kita tak pernah lagi bertemu sejak terkahir kali kau lepas aku di stasiun kereta Semarang Tawang. Beberapa lembar uang kertas dengan pecahan terbesar lima ribuan dan lainnya hanya ribuan, kau keluarkan dari kantong celanamu, lalu kau pindahkan ke saku bajuku. “Hanya ini sisa uangku kawan..” katamu sambil bergetar. Tak mungkin kutolak, meski aku tau itu adalah uang makanmu untuk beberapa hari kedepan. Uang makan yang kau dapatkan dari kerja jari-jarimu menjadi tukang ketik di satu rental komputer dekat kampus kita.
Soal makan dan uang, kau memang tak pernah berhitung denganku. Seringkali kita hitung uang receh yang kita miliki bersama-sama, lalu memastikan makan siang atau makan malam apakah yang bisa kita dapatkan dari uang recehan tersebut. Bila uang yang kita miliki tidak mencukupi seringkali kita siasati dengan membeli sebungkus nasi putih yang hanya ditemani sambal.
“Ini namanya nasi kesepian” katamu saat itu padaku.
“Kok nasi kesepian?” tanyaku
“Ya karena nasi ini gak ada lauknya, dia sendirian, dia pasti kesepian” kau menjelaskan sambil tertawa-tawa hingga nasi dalam mulutmu itu ikut menyembur keluar. Aku masih ingat… meski demikian, senyum tak pernah lepas dari bibirmu selama kau mengunyah nasi kesepian itu. Itulah yang kubanggakan darimu sahabat! Kau tau betul menikmati dan bersyukur dengan kesulitan hidup yang ada.
Senyummu masih sama, saat melepasku pergi melanjutkan perjuangan hidup seusai kutamatkan kuliahku dan memutuskan mengadu nasib di kota Jakarta. Aku selalu berpikir ini adalah persahabatan yang ironis. Karena kau yang tak pernah menamatkan kuliahmu tetapi semangat perjuangan hidupmu terus meluap-luap tak kenal kata surut. Sementara aku malah berseberang jalan denganmu, aku merasa lemah…diantara keberuntungan yang kumiliki, aku sering merasa sebagai orang kalah.
“Setidaknya malam ini kau tak makan nasi kesepian” katamu bercanda untuk memecah lamunanku. Aku hanya tersenyum getir.
“Kau sahabatku dari awal kita kuliah. Aku tak ingin kau kesepian, terlebih aku tak ingin kau sering-sering makan nasi kesepian..” balasku.
Lalu di bangku panjang Stasiun Semarang Tawang kita tertawa-tawa bersama.
“Besok kalau kau pulang kemari, kau harus naik kereta ini” kau menunjuk kereta Argo kelas eksekutif yang kita sama-sama belum pernah menaikinya.
“Bukan hanya aku, tapi kita!” jawabku tegas. “dan kau tak perlu lagi menjadi kuli di rental komputer yang bikin jari-jarimu pegal semua. Kau harus jadi pengarang seperti cita-citamu.”
“Ya karena jadi pengarang tak perlu ijasah, tak perlu tampilan mewah” balasmu sambil tersenyum.
Apa kabar sahabat? Sudah ribuan hari kita tak pernah lagi bertemu sejak terkahir kali kau lepas aku di stasiun kereta Semarang Tawang. Beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah ada di saku bajuku. Di dompet kulit yang selalu ada di kantong belakang celana Levi’sku masih ada beberapa puluh lembar lagi. Selain itu masih ada 2 credit card dan 3 kartu ATM dari bank yang berbeda, yang jumlah rekeningnya tak pernah kuhapal, yang pasti sangat berlebihan untuk kuhabiskan sendirian.
Apa kabar sahabat? Sudah ribuan hari kita tak pernah lagi bertemu sejak terkahir kali kau lepas aku di stasiun kereta Semarang Tawang. Berkali-kali aku kembali ke kota dimana kita berjuang bersama, tidak dengan kereta Argo kelas eksekutif, tapi terbang dengan Garuda kelas eksekutif! Nasiku pun tak lagi nasi kesepian, tapi sudah kugantikan dengan steak, pizza atau sphageti. Tapi dimana kamu? Rumah kos tempat dulu kita tinggal dari hasil tarian jarimu di rental komputer masih tetap sama, tapi tak kujumpai kamu. Rental komputer sudah berubah menjadi warung internet, dan warung nasi tempat kita sering berhutang sudah jadi café tempat anak muda mangkal. Tapi tak ada yang tau dimana kamu…
Apa kabar sahabat? Aku ingin berbagi kesuksesanku ini. Tanpamu semua yang kuraih ini kosong…
(Salam untuk sahabat-sahabatku di Semarang)
Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan
Pernahkan kau tak bimbang tentang persoalan maaf memaafkan suatu kesalahan? Inilah yang terjadi padaku sekarang. Sejuta pertanyaan dalam kepala seolah kendaraan yang melaju dan saling bertubrukan.
Apakah aku harus memaafkan orang lain? Atau sebaliknya apakah aku harus meminta maaf kepada orang lain, meski belum terbukti aku memiliki andil dalam satu kesalahan. Begitulah aku terlalu berat berkata maaf, untuk memberi juga meminta.
Sesungguhnya ini bukan persoalan siapa yang salah atau siapa yang benar. Persoalannya adalah harus tersedia ruang yang besar dalam hati untuk bisa meminta atau memberi maaf.
Tapi sadar atau tidak, seringkali ruang hati tak cukup luas dan terbuka untuk itu. Ruang hati justru terisi oleh hal-hal yang tak semestinya berada disitu. Cobalah buka dan bongkar ruang hati kita dengan jujur dan tulus. Disitu sedikit banyak pasti akan ditemukan iri, benci, sombong dan sifat lain yang tak semestinya.
Dalam beberapa situasi terlalu mudah untuk mengetahui tentang apa-apa yang seharusnya kita lakukan. Tetapi yang tersulit adalah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
Seperti inilah aku saat ini. Aku tahu kesalahanku dan tahu apa yang harusnya kukatakan padamu, tapi kata maaf itu tak juga mampu terucap dari mulutku. Aku tahu…semua itu karena ruang hatiku terlalu sempit!