“Aku tak ingin bercermin!” Kalimat ini kutuliskan dengan spidol warna merah tepat ditengah cermin yang tergantung disudut kanan kamarku. Ya aku tak ingin bercermin lagi! Karena dicermin tak lagi kulihat wajahku. Sejak akhir pekan kemarin, setiap kali aku berdiri di depan cermin yang ada malah wajahmu! Wajahmu dengan senyum yang tak ku tau maknanya.
Ah…kupikir ini hanya karena kelelahanku saja sehingga aku berhalusinasi…
Cermin di kamar mandi juga memunculkan bayangmu. Bayangmu yang sama sedang tersenyum. Aku ngeri! Berkali-kali ku tutup dengan paksa mataku, ku buka lagi, yang muncul di cermin tetap sama, wajahmu yang tersenyum! Aku ngeri! Berkali-kali kusiram cermin dengan air, lalu aku menghapusnya berharap bayangmu ikut larut bersama air siraman itu. Namun yang muncul di cermin tetap sama, wajahmu yang tersenyum!
Setiap pagi aku tak lagi bercermin…
Bukan hanya cermin yang kuhindari. Semua kaca yang mungkin bisa memunculkan bayang-bayang. Genangan air yang bisa merefleksikan wajah saat aku menatapnya. Badan kendaraan yang berkilap juga! Bahkan kilap di layar ponsel pun sudah cukup untuk menyiksaku, karena disitu hanya ada bayang wajahmu dengan senyum yang sama!
Kupecahkan semua cermin…
Kupandangi cermin retak. Hanya sebentar wajahku muncul disitu, lalu dari retakan-retakannya wajahku berubah menjadi wajahmu…masih sama, dengan senyum yang tak ku tau maknanya.
Sekarang aku hanya ingin memandang jauh ke langit. Ada awan, angin dan mentari. Aku tersenyum…tak ada wajahmu disitu! Namun satu hal yang terus menyiksa. Bila kau ingin meninggalkanku, kenapa ada wajahmu di semua cerminku?