APA KABAR SAHABAT? NASIKU BUKAN LAGI NASI KESEPIAN…

Apa kabar sahabat? Sudah ribuan hari kita tak pernah lagi bertemu sejak terkahir kali kau lepas aku di stasiun kereta Semarang Tawang. Beberapa lembar uang kertas dengan pecahan terbesar lima ribuan dan lainnya hanya ribuan, kau keluarkan dari kantong celanamu, lalu kau pindahkan ke saku bajuku. “Hanya ini sisa uangku kawan..” katamu sambil bergetar. Tak mungkin kutolak, meski aku tau itu adalah uang makanmu untuk beberapa hari kedepan. Uang makan yang kau dapatkan dari kerja jari-jarimu menjadi tukang ketik di satu rental komputer dekat kampus kita.

Soal makan dan uang, kau memang tak pernah berhitung denganku. Seringkali kita hitung uang receh yang kita miliki bersama-sama, lalu memastikan makan siang atau makan malam apakah yang bisa kita dapatkan dari uang recehan tersebut. Bila uang yang kita miliki tidak mencukupi seringkali kita siasati dengan membeli sebungkus nasi putih yang hanya ditemani sambal.

“Ini namanya nasi kesepian” katamu saat itu padaku.

“Kok nasi kesepian?” tanyaku

“Ya karena nasi ini gak ada lauknya, dia sendirian, dia pasti kesepian” kau menjelaskan sambil tertawa-tawa hingga nasi dalam mulutmu itu ikut menyembur keluar. Aku masih ingat… meski demikian, senyum tak pernah lepas dari bibirmu selama kau mengunyah nasi kesepian itu. Itulah yang kubanggakan darimu sahabat! Kau tau betul menikmati dan bersyukur dengan kesulitan hidup yang ada.

Senyummu masih sama, saat melepasku pergi melanjutkan perjuangan hidup seusai kutamatkan kuliahku dan memutuskan mengadu nasib di kota Jakarta. Aku selalu berpikir ini adalah persahabatan yang ironis. Karena kau yang tak pernah menamatkan kuliahmu tetapi semangat perjuangan hidupmu terus meluap-luap tak kenal kata surut. Sementara aku malah berseberang jalan denganmu, aku merasa lemah…diantara keberuntungan yang kumiliki, aku sering merasa sebagai orang kalah.

“Setidaknya malam ini kau tak makan nasi kesepian” katamu bercanda untuk memecah lamunanku. Aku hanya tersenyum getir.

“Kau sahabatku dari awal kita kuliah. Aku tak ingin kau kesepian, terlebih aku tak ingin kau sering-sering makan nasi kesepian..” balasku.

Lalu di bangku panjang Stasiun Semarang Tawang kita tertawa-tawa bersama.

“Besok kalau kau pulang kemari, kau harus naik kereta ini” kau menunjuk kereta Argo kelas eksekutif yang kita sama-sama belum pernah menaikinya.

“Bukan hanya aku, tapi kita!” jawabku tegas. “dan kau tak perlu lagi menjadi kuli di rental komputer yang bikin jari-jarimu pegal semua. Kau harus jadi pengarang seperti cita-citamu.”

“Ya karena jadi pengarang tak perlu ijasah, tak perlu tampilan mewah” balasmu sambil tersenyum.

Apa kabar sahabat? Sudah ribuan hari kita tak pernah lagi bertemu sejak terkahir kali kau lepas aku di stasiun kereta Semarang Tawang. Beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah ada di saku bajuku. Di dompet kulit yang selalu ada di kantong belakang celana Levi’sku masih ada beberapa puluh lembar lagi. Selain itu masih ada 2 credit card dan 3 kartu ATM dari bank yang berbeda, yang jumlah rekeningnya tak pernah kuhapal, yang pasti sangat berlebihan untuk kuhabiskan sendirian.

Apa kabar sahabat? Sudah ribuan hari kita tak pernah lagi bertemu sejak terkahir kali kau lepas aku di stasiun kereta Semarang Tawang. Berkali-kali aku kembali ke kota dimana kita berjuang bersama, tidak dengan kereta Argo kelas eksekutif, tapi terbang dengan Garuda kelas eksekutif! Nasiku pun tak lagi nasi kesepian, tapi sudah kugantikan dengan steak, pizza atau sphageti. Tapi dimana kamu? Rumah kos tempat dulu kita tinggal dari hasil tarian jarimu di rental komputer masih tetap sama, tapi tak kujumpai kamu. Rental komputer sudah berubah menjadi warung internet, dan warung nasi tempat kita sering berhutang sudah jadi café tempat anak muda mangkal. Tapi tak ada yang tau dimana kamu…

Apa kabar sahabat? Aku ingin berbagi kesuksesanku ini. Tanpamu semua yang kuraih ini kosong…

(Salam untuk sahabat-sahabatku di Semarang)

2 Tanggapan ke “APA KABAR SAHABAT? NASIKU BUKAN LAGI NASI KESEPIAN…”

  1. Huah… Sudah sebanyak itu ya uangmu, Mas… Hehehe… Traktir…

  2. alhamdulilah sekarang lu udah sukses sekarang…
    kapan ke semarang?
    mampir ke rumah…

Tinggalkan Balasan