Arsip untuk Juli 28, 2007

Satu Kepingan Puzzle Masih Kusimpan

Posted in Catatan-Catatan on Juli 28, 2007 by ariaristides

Hidupku, hidupmu, adalah kepingan puzzle berjumlah jutaan. Tak ada contoh gambar atau template untuk membentuknya. Mungkin hanya mimpi-mimpi abstraklah yang membantu membentuknya.

Awalnya kamulah yang bersemangat dan coba menyusun puzzle dari keping-keping menjadi suatu bentuk nyata. Bila ada kesalahan menyusunnya, kau akan marah tapi kadang tersenyum, lalu membongkar kesalahan, dan bermula lagi dari satu keping ke keping berikutnya. Begitulah terus menerus yang coba kau lakukan.

Dan aku? Aku hanya memandangmu, sesekali tersenyum. Apa kau mengerti arti senyumku? Kau terus asyik saja, “Puzzle adalah mimpi dan cita-cita, ketika menyusunnya aku seperti mewujudkan hidup yang penuh mimpi” begitulah katamu saat kutanya mengapa kau terus asyik menyusun puzzle itu.

Justru aku sesekali dengan sengaja merusak apa yang telah kau susun, memisahkan kembali kepingan-kepingan yang telah kau satukan. Dan kau akan marah dan menangis seperti anak kecil karena ulah nakalku.

Lalu saat kau letih menyerah, puzzle tak juga terbentuk. “Puzzle itu benar-benar seperti mimpi abstrak yang tak tersusun,” katamu mengambil kesimpulan.

Di ruang yang sama aku kesepian, saat kau pergi. Kepingan-kepingan puzzle masih di tempat yang sama. Baru kurasakan sepi, sedih, kosong hanya berteman tumpukan keping-keping puzzle.

Aku kehabisan daya saat menyentuh kepingan-kepingannya, membayangkan kau masih ada untuk menyusunnya.

Taukah kau? Dulu sebelum ini terjadi aku pun pernah ikut mencoba menyusun puzzle. Saat kau beristirahat atau pergi, diam-diam aku ikut menyusun keping-keping itu, meski aku tak pernah tau akan berbentuk seperti apa susunan puzzle ini nantinya. Saat kau kembali dan melanjutkan, aku pura-pura diam, kadang juga bersembunyi agar kau tak tau apa yang kulakukan. Bila dihitung antara aku diam, ikut menyusun puzzle dengan diam-diam, atau merusak susunan puzzle yang telah kau buat, yang terakhirlah yang paling sering kulakukan.

Diam-diam aku mulai paham bahwa kita memang berbeda. Bila kau menyusun puzzle dari ujung kiri, maka aku sengaja menyusunnya dari ujung yang lainnya. Aku menyusunnya dengan jari-jari tangan yang kusembunyikan dibelakang badanku, aku diam-diam menyusun puzzle bersamamu.

Tapi kau tak tau…

Hingga kau menyerah… pergi…

Kau tak pernah tau…

Satu kepingan puzzle masih kusimpan.