OBAT, CURHAT, DAN KALENG SUSU* Oktober 10, 2007
Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.6 comments
* (Catatan perjalanan menemui orang-orang yang dipecat menjelang hari raya)
Namanya berarti “sudah berakhir” ya..sudah berakhir! Kamu taulah siapa yang aku maksud. Benar, yang aku maksud adalah Pak Tamat salah seorang rekan kita yang dulu sering mengantar tim liputan Daai TV sambil memutar lagu-lagu Bob Marley ditape mobilnya. “No woman, no cry… No woman, no cry…” Biasanya ia bernyanyi-nyanyi sambil tertawa, karena tak tau artinya.
Meski namanya berarti “sudah berakhir” tapi semangatnya tak pernah berakhir. Aku sengaja menemuinya pada sore hari, lewat beberapa hari setelah pemecatannya dari Daai TV. Cara berjalannya masih sama, kepala gundulnya juga sama, tapi aku melihat senyumnya berbeda dari biasanya. Seperti ada suatu beban yang sudah terlepas dari pundaknya, hingga bisa membuatnya tersenyum tulus.
“Apa kabar pak?” kataku membuka pembicaraan sambil menyalaminya.
“Baik…baik…” jawabnya. Sebuah jawaban yang standar, karena aku tau selepas pemecatan, tekanan darahnya naik dan asam uratnya kambuh, hingga ia terpaksa harus rutin tiga hari sekali memeriksakan kesehatannya.
Dibangku beton bundar diantara dua blok rusun cinta kasih, kami terus berbincang, sementara anak-anak kecil bermain bola dan berlarian diantara kami. Senyumnya tak lepas selama perbincangan, bahkan saat aku mengajukan pertanyaan yang lebih serius.
“Apa rencana bapak selanjutnya?”
“Yah…sekarang kan mau lebaran, susah cari kerjaan. Rencana setelah lebaran aku mau ngelamar di blue bird, sementara ini aku tidur aja dululah..ha..ha..ha…” katanya sambil terkekeh-kekeh.
Untuk pertama kalinya aku bercermin, membayangkan apa yang harus aku lakukan seandainya aku yang mengalami pemecatan seperti Pak Tamat. Mungkin aku masih bisa lebih baik, karena usia aku barangkali tak sampai setengah kali usia Pak Tamat. Atau bisa jadi nasib aku lebih buruk, karena aku tak cukup murah senyum seperti Pak Tamat. Aku membayangkan apa saja bisa terjadi. Yang pasti bisa jadi tak pasti. Sebaliknya yang tak pasti bisa jadi pasti. Bukankah hidup kita selalu dipenuhi keajaiban?
Aku mengakhiri lamunan, karena bukan ini tujuan aku menemuinya. Tujuan utama aku untuk bertemu dengannya adalah menyampaikan amanah dari seluruh teman-teman Daai TV. Teman-teman di Daai TV mengumpulkan uang secara sukarela sebagai bentuk berbagi kasih menjelang Hari Raya Idul Fitri. Terlebih Pak Tamat adalah salah seorang driver yang dipecat menjelang lebaran tanpa memperoleh THR apalagi pesangon.
Salamnya erat dari kedua tangannya di tangan kananku. Senyumnya tulus sambil terus berkata seperti doa yang tak putus, “Terima kasih mas, terima kasih mas…terima kasih buat semua kawan-kawan…” Sementara itu dimatanya aku liat ada lapisan bening, ia terharu tapi berusaha menahan air matanya.
“Rejeki bukan ditentukan manusia pak, biarpun ia bos, pimpinan, atau orang kaya raya sekalipun,” kataku mencegat keharuannya. “Rejeki ada di tangan Tuhan” sambungku.
Saat berpamitan dengannya, ia kembali menjabat erat tangan kananku dengan kedua tangannya. “Terima kasih mas, mohon maaf lahir dan bathin meski belum lebaran,” katanya diselingi senyum yang seolah tak pernah habis dari bibirnya.
Di gang diantara dua blok rusun cinta kasih cengkareng aku berjalan meninggalkannya. Aku tak menoleh, tapi aku tau, Pak Tamat terus memandangku hingga aku berbelok. Entah apa yang dipikirkannya. Aku hanya berharap, beberapa lembar uang yang kawan-kawan kumpulkan, yang terlipat rapi dalam amplop dan telah berpindah ke saku bajunya, dapat digunakannya untuk membeli obat dari resep dokter yang belum sempat ditebusnya.
* * *
Sejujurnya aku tak mengenalnya secara akrab. Tapi ia curhat tentang suaminya, anak-anaknya, kondisi ekonomi rumah tangganya dan sederet curhat lain yang aku tak mampu menghapalnya. Aku hanya terbengong-bengong mendengar bermacam curhatnya, terlebih beberapa detik setelah ia membuka curhatnya, air mata mengalir deras tak terbendung.
Ia menerima aku diruang tamunya di salah satu blok di rusun cinta kasih Cengkareng.
“Bapak gak ada om..” katanya ketika menerima kedatanganku untuk mencari Pak Solihin, mantan driver Daai TV yang juga menerima pemecatan satu paket dengan Pak Tamat.
Harusnya aku bisa berbagi semangat kepada Pak Solihin, tapi sayang ia tak ada dirumah. Istrinya yang menemuiku seolah tak memberi kesempatan padaku untuk menjelaskan maksud kedatanganku. Sambil berurai air mata ia terus saja bercerita tentang kesulitan dan masalah-masalah yang dihadapi selepas pemecatan suaminya. Bahkan segelas air putih dan teh botol yang dihidangkan dimeja tak sempat ia tawarkan kepadaku.
Lidahku kelu, tercekat, saat ia bercerita bahwa ia sempat berpikir untuk hidup berpisah dengan suaminya. Aku hanya terdiam, ingin rasanya melancarkan kerongkonganku dengan teh botol dingin yang disediakan, tapi ia tak juga mempersilahkan padaku untuk meminumnya.
Rentetan cerita lebih tepatnya keluh kesah yang ia sampaikan, membuat aku berpikir bahwa sebenarnya satu peristiwa terlebih peristiwa yang tak dikehendaki berpotensi menimbulkan peristiwa-peristiwa lain yang berantai dan sambung menyambung. Lalu apakah satu orang yang terlibat pada satu peristiwa awal boleh lepas tanggung jawab pada peristiwa-peristiwa susulan berikutnya?
PHK tanpa selembarpun surat keputusan atau penjelasan, siapakah yang bertanggung jawab?
Bila peristiwa pertama berlanjut dengan konflik keluarga hingga perceraian, siapakah yang mau bertanggung jawab?
Konflik keluarga yang membuat seseorang frustasi, siapakah yang bertanggung jawab?
Manusia seperti apakah kita bila merasa tak bertanggung jawab terhadap rangkaian peristiwa yang dialami orang lain?
Malu aku, hanya bisa mendapatkan pelajaran-pelajaran berharga buat diri sendiri dari pengalaman buruk milik orang lain. Sementara orang lain itu tetap berjuang sendirian dengan masalahnya, hanya karena manusia-manusia lain merasa tak bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi.
Buru-buru aku memotong pembicaraannya yang banyak tak kusimak, karena aku sibuk oleh pikiranku sendiri. “Sudahlah bu, masalah yang lalu biar berlalu, kita musti lihat perjalanan ke depan, jangan perlihatkan kesusahan ibu dan keluarga. Perlihatkan saja perjuangan ibu”
Sambil berkata demikian, aku menyelipkan amplop berkop Daai TV serta menjelaskan maksudnya.
Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali, menjabat tanganku sambil membungkuk hampir 90 derajat dihadapanku, tapi aku menahan pundaknya agar ia tak melakukan itu. Ia tak tau saat berpamitan dengannya, terbayang wajah ibuku yang sedang menangis.
* * *
Di lantai 3 salah satu blok di rusun cinta kasih cengkareng suasana muram sungguh terasa. Lantainya kotor berdebu, ironis dengan stiker yang tertempel di pintu, “Jagalah Kebersihan.” Di depan pintu terserak sepatu, sendal jepit butut yang hanya sebelah, serta sepatu anak-anak. Pintu terkunci rapat dengan gembok terpasang disalah satu sudutnya.
“Dullah gak ada pak. Tadi pagi semuanya pergi ke Kapuk” kata tetangga depan rumah Pak Dullah.
“Biasanya pulang jam berapa ya bu?” tanyaku
“Wah gak tau pak.”
Aku terdiam sejenak dan berpikir. Belum usai berpikir apa yang harus aku lakukan, tetangga itu berkata lagi,”Coba aja paranin ke Kapuk Pak, di sana di rumah orang tuanya,”
Setelah mendapatkan info alamat Pak Dullah di Kapuk Muara, aku segera meluncur ke sana.
Di pos satpam perumahan, seorang satpam mengabarkan bahwa Pak Dullah ada di rumah sakit cengkareng menunggui orang tuanya yang sedang operasi.
“Oh God…kenapa ada saja cobaan berat yang kau jatuhkan?” tanyaku dalam hati. Karena tak jauh lokasi rumah sakit yang dimaksud, aku memutuskan mencari Pak Dullah kesana. Di depan bagian informasi aku baru sadar bahwa tak ada info memadai yang kumiliki untuk menemui Pak Dullah. Nama pasien tak tau, alamat tak tau, diagnosa penyakit apalagi. Maka benar tagline pada iklan harian bisnis indonesia: “Miskin informasi fatal akibatnya.”
Aku berputar-putar kebingungan, mencari asal-asalan. Ketika seorang suster dengan ramah bertanya aku mencari siapa, dia hanya tersenyum mendengar penjelasanku.
Diluar hari mulai temaram, akhirnya aku memutuskan meluncur ke Kapuk Muara. Setelah sempat salah masuk gang, akhirnya aku berhasil menemui Pak Dullah. Seluruh keluarganya lengkap menginap di rumah orang tuanya.
Rumahnya sangat sederhana, khas rumah-rumah yang ada di gang sempit tak jauh dari pinggir kali angke. Aroma kali angke ditambah tumpukan sampah yang entah dimana keberadaannya tercium hingga ke nafasku.
Duduk melingkar di ruang depan yang sangat sederhana, Pak Dullah ditemani istrinya dan anak-anaknya. Ibunya menyandar di dinding triplek di depanku. Nada bicara Pak Dullah masih terdengar seperti orang yang berduka. Berbeda dengan istrinya yang terlihat tegar dan mengaku memberikan banyak dorongan semangat untuk Pak Dullah.
“Kerja itu bisa dimana aja pak, yang penting jangan cari masalah,” kata istri Pak Dullah tegas. Mendengar itu Pak Dullah hanya tersenyum kecut.
“Lagi susah kok perut Pak Dullah tambah gemuk sih?” tanyaku iseng. Yang ditanya hanya tertawa-tawa saja tanpa menjawab.
Di depan pintu anak-anak kecil bermain dan berceloteh bersaing dengan pembicaraan kami di ruang depan rumah orang tua Pak Dullah.
“Anak siapa pak?” tanyaku ketika seorang anak kecil berlari masuk, melintas di depan kami.
“Anak saya yang paling kecil, namanya Rizal. Umurnya dua setengah tahun”
Tanpa sengaja perbincangan tentang Rizal berlanjut. “Waktu hari saya dipecat, saya seharusnya beliin susu buat Rizal karena susunya habis, tapi ternyata…” kata-kata Pak Dullah berhenti dan saya tak tega untuk terus bertanya.
“Sudahlah pak, mungkin ini memang waktunya datang cobaan untuk Pak Dullah sekeluarga,” kataku sambil menepuk-nepuk bahu kanannya sebagai simbol memberi semangat.
Semua yang ada di ruang depan terdiam, istrinya, anak-anak Pak Dullah, juga ibu Pak Dullah. Aku pikir sudah cukup basa-basi dariku. Amplop kulipat dan kusembunyikan digenggaman tangan Pak Dullah.
“Dari teman-teman Daai untuk beli susu Rizal Pak,” bisikku.
Saat berpamitan dengannya, terlintas kesedihan dipikiranku seperti sebuah adegan dalam film: seorang anak kecil menangis, sementara ketika ibunya hendak membuatkan sebotol susu, kalengnya terjatuh, suaranya berdentang keras beradu dengan lantai, tutup kaleng terbuka, tak ada susu lagi didalamnya!
* * *
Untuk Rekan-Rekan Daai TV
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 Hijriah