Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan
Tak ada yang meragukan lagi, bahwa aku adalah orang dengan watak keras dan hati yang mudah terbakar. Tak perlu menyiram bensin atau bahan bakar untuk menyalakan kemarahanku, dengan hanya tetes air atau bahkan siraman air kencing saja, aku pasti terbakar. Itulah deskripsi yang tepat tentangku.
Kalau saja ada kamera yang merekam saat-saat bagaimana aku terbakar, pastilah aku akan sangat malu. Aku yang terbakar mudah sekali mengeluarkan kata-kata dengan nada sangat tinggi, meski jarak kami hanya dipisahkan meja selebar tak lebih dari satu setengah meter. Saat itu mungkin tak ada bedanya aku dengan suporter bola yang tak tau aturan, selangkah lagi aku nyaris melompati meja.
Entah sudah berapa puluh kali tepukan seorang teman mencoba menenangkan aku, tapi aku tak ingat, apa persisnya yang aku pikirkan saat itu. Seperti ada jutaan mesiu dipita suaraku yang siap membombardir lawanku. Suaraku tak lagi ringan tapi getar dan penuh nada amarah.
Inilah aku api yang mudah membakar tapi sekaligus mudah menguap tanpa bekas. Inilah aku yang hanya perlu sedikit ruang untuk didengar dan dimengerti. Suka atau tidak suka, inilah aku. Sang pemarah, lantang berteriak namun tak pernah mendendam.
Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan

Hidup semua orang seperti film. Film kolosal, drama percintaan yang berakhir tragis atau bahagia, film komedi, hingga film aksi, itulah kehidupan manusia. Masing-masing dari kita adalah tokoh utama di film tersebut. Orang lain mungkin jadi tokoh pendukung atau sekedar numpang lewat saja dalam film kita. Sebaliknya kita bisa jadi tokoh pendukung di dalam film orang lain.
Terkadang saya, anda atau mungkin kita semua berpikir dan berlaku bahwa diri kita adalah tokoh utama dalam film orang lain. Kenyataannya, seringkali kita hanya mendapat bagian sebagai pemeran pembantu. Atau mungkin hanya sedikit peran saja yang kita jalankan dalam film orang lain tersebut. Yang lebih parahnya adalah ada waktu dimana adegan kita telah dipotong dari bagian film orang lain tersebut tanpa kita ketahui.
Lihatlah seorang ibu dan bayi kecil dalam gendongannya. Pada tahun-tahun berikutnya bayi kecil itu pasti akan jadi tokoh utama di film ibunya. Tapi dalam film anak tersebut nantinya, apa peran ibu masih dianggap? Inilah yang sering terjadi dengan kita. Kita selalu menginginkan menjadi tokoh utama dalam film orang lain, namun sesuka hati meminggirkan peran orang lain dalam film kita.
Diluar skenario film ibu dan bayinya tadi. Jangan sekali-kali membiarkan orang lain merebut peran utama dalam film kita. Bagi saya hanya orang bodohlah yang membiarkan filmnya dimainkan oleh peran utama yang dipegang orang lain. Karena saat peran utama dalam film kita sendiri dimainkan oleh orang lain, saat itulah kita bukan lagi orang yang berarti dalam setiap jalan cerita.
Bila hidup semua orang seperti film? Siapakah editornya? Dalam film saya, sayalah editornya. Saya paham adegan mana yang harus dibiarkan dan adegan mana yang harus ditinggalkan. Memastikan semua adegan menjadi utuh dan lengkap adalah kewajiban. Bila terjadi kesalahan pemotongan, saya harus berani menerima akibatnya.
Hidup memang seperti film. Ada durasi dimana film bermula dan pada ujungnya harus berakhir. Tapi teruskanlah filmmu. Tulislah cerita, ambillah gambar, jadilah pemeran utama, edit-lah dan nikmati hasil filmmu. Mau jadi sutradara? Kau taulah siapa sutradara paling jago di dunia ini.
Cibinong, 18 Mei 2008_00.29 Wib