jump to navigation

Hidup Semua Orang Seperti Film Mei 19, 2008

Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.
trackback

Hidup semua orang seperti film. Film kolosal, drama percintaan yang berakhir tragis atau bahagia, film komedi, hingga film aksi, itulah kehidupan manusia. Masing-masing dari kita adalah tokoh utama di film tersebut. Orang lain mungkin jadi tokoh pendukung atau sekedar numpang lewat saja dalam film kita. Sebaliknya kita bisa jadi tokoh pendukung di dalam film orang lain.

Terkadang saya, anda atau mungkin kita semua berpikir dan berlaku bahwa diri kita adalah tokoh utama dalam film orang lain. Kenyataannya, seringkali kita hanya mendapat bagian sebagai pemeran pembantu. Atau mungkin hanya sedikit peran saja yang kita jalankan dalam film orang lain tersebut. Yang lebih parahnya adalah ada waktu dimana adegan kita telah dipotong dari bagian film orang lain tersebut tanpa kita ketahui.

Lihatlah seorang ibu dan bayi kecil dalam gendongannya. Pada tahun-tahun berikutnya bayi kecil itu pasti akan jadi tokoh utama di film ibunya. Tapi dalam film anak tersebut nantinya, apa peran ibu masih dianggap? Inilah yang sering terjadi dengan kita. Kita selalu menginginkan menjadi tokoh utama dalam film orang lain, namun sesuka hati meminggirkan peran orang lain dalam film kita.

Diluar skenario film ibu dan bayinya tadi. Jangan sekali-kali membiarkan orang lain merebut peran utama dalam film kita. Bagi saya hanya orang bodohlah yang membiarkan filmnya dimainkan oleh peran utama yang dipegang orang lain. Karena saat peran utama dalam film kita sendiri dimainkan oleh orang lain, saat itulah kita bukan lagi orang yang berarti dalam setiap jalan cerita.

Bila hidup semua orang seperti film? Siapakah editornya? Dalam film saya, sayalah editornya. Saya paham adegan mana yang harus dibiarkan dan adegan mana yang harus ditinggalkan. Memastikan semua adegan menjadi utuh dan lengkap adalah kewajiban. Bila terjadi kesalahan pemotongan, saya harus berani menerima akibatnya.

Hidup memang seperti film. Ada durasi dimana film bermula dan pada ujungnya harus berakhir. Tapi teruskanlah filmmu. Tulislah cerita, ambillah gambar, jadilah pemeran utama, edit-lah dan nikmati hasil filmmu. Mau jadi sutradara? Kau taulah siapa sutradara paling jago di dunia ini.

Cibinong, 18 Mei 2008_00.29 Wib

Komentar»

1. jennlie - Mei 19, 2008

Betul banget….setuju ma tulisannya…

2. melly - Mei 23, 2008

film juga tidak akan bisa jadi tanpa peran orang orang yang terlihat tidak penting dan tidak utama dan tidak nongol di film. supir kendaraan alat misalnya.

hidup kita juga gak bisa jalan, tanpa peran banyak orang lain, yang mungkin gak kita sadari.

3. erna - Mei 23, 2008

diri kamu banget tulisannya…

4. Widodo Lir Ing Sambikolo - Mei 30, 2008

Ha……kayaknya g kenal sama fotonya nih. :)

5. Lina - Juli 15, 2008

Ini bener Ari anak Undip 1991?

6. R. iwhan Budiono - November 3, 2008

Kehidupan, apakah seperti film? setuju anda dengan apa yang saya tulis di blog saya?

terima kasih

7. inok - Oktober 24, 2009

klo udah nyampai meja Badan Sensor..trus ada adegan yg di cut, g boleh di tampilin ????? masih bisa kah utuh film kita ????