Aku Marah Tanpa Dendam
Tak ada yang meragukan lagi, bahwa aku adalah orang dengan watak keras dan hati yang mudah terbakar. Tak perlu menyiram bensin atau bahan bakar untuk menyalakan kemarahanku, dengan hanya tetes air atau bahkan siraman air kencing saja, aku pasti terbakar. Itulah deskripsi yang tepat tentangku.
Kalau saja ada kamera yang merekam saat-saat bagaimana aku terbakar, pastilah aku akan sangat malu. Aku yang terbakar mudah sekali mengeluarkan kata-kata dengan nada sangat tinggi, meski jarak kami hanya dipisahkan meja selebar tak lebih dari satu setengah meter. Saat itu mungkin tak ada bedanya aku dengan suporter bola yang tak tau aturan, selangkah lagi aku nyaris melompati meja.
Entah sudah berapa puluh kali tepukan seorang teman mencoba menenangkan aku, tapi aku tak ingat, apa persisnya yang aku pikirkan saat itu. Seperti ada jutaan mesiu dipita suaraku yang siap membombardir lawanku. Suaraku tak lagi ringan tapi getar dan penuh nada amarah.
Inilah aku api yang mudah membakar tapi sekaligus mudah menguap tanpa bekas. Inilah aku yang hanya perlu sedikit ruang untuk didengar dan dimengerti. Suka atau tidak suka, inilah aku. Sang pemarah, lantang berteriak namun tak pernah mendendam.
Mei 28, 2008 pada 12:10 pm
Ari banget deh…
Kemarahan adalah kegilaan sesaat, tapi alangkah indahnya bila kita selalu dalam keadaan sadar…
Mei 29, 2008 pada 1:50 am
Yach……inilah Ari!
Wajar……………manusiawi………..
Tapi kepala tetap dingin biar tetap rasional dan tetap bisa mendengarkan nurani!
Apa kabar sekarang?
Salam,
Wahyu
Mei 30, 2008 pada 8:36 am
Marah adalah luapan emosi sesaat. Yang penting selesai dititik itu saja, tak perlu dibawa keluar.
Mei 31, 2008 pada 5:56 pm
daripada mendendam yah…..
Juni 6, 2008 pada 5:37 am
Bangkit itu MARAH… MARAH kalau ada ketidak adilan
Bangkit itu SADAR… SADAR kalau marah itu hanya seperti riak di laut.. sesaat..
nyontek neh..
Juli 15, 2008 pada 1:28 am
mudah-mudahan gw gak salah, kalo ini ari yang gw kenal dulu di semarang. Atau bukan?
Juli 15, 2008 pada 7:13 am
Ari…mudah2an ini Ari yg gw kenal tahun 95-96 an di Undip. Masih dengan segenap idealisme kan?
Lina-ui
Agustus 6, 2008 pada 11:54 am
Salut kamerad..masih setia di garis ideologi
September 19, 2008 pada 2:45 am
walah… masih seperti ari yang kukenal dulu… mudik ke semarang kah?