Berbuat Baik Tanpa Berpikir vs Berpikir Tanpa berbuat Baik Oktober 15, 2008
Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.5 comments
Kita adalah manusia berpikir. Aktivitas berpikir mungkin adalah aktivitas paling membanggakan bagi kita yang selalu ingin terlihat cerdas atau hebat. Ada banyak situasi atau hal yang membuat kita untuk selalu berpikir. Sedikit atau banyak setiap orang pasti berpikir tentang suatu hal. Baik atau buruk, senang atau susah, semuanya tak pernah lepas dari pikiran seseorang. Praktisnya selama orang itu masih punya pikiran sehat dan masih mampu bernapas, ia pasti melakukan aktivitas berpikir.
Namun ada satu pertanyaan, bagi kita yang terbiasa berpikir sebelum, selama atau setelah melakukan satu aktivitas, perlukah kita berpikir sebelum melakukan perbuatan baik? Berpikir adalah awal yang baik, tapi berpikir juga bisa menjadi satu hal yang membuat penyesalan bila kita berpikir terlalu lama, lalu terlambat bertindak.
Saya punya pengalaman sederhana yang bisa menjelaskan kesimpulan yang saya maksud. Setiap hari, setiap berangkat dan pulang kerja saya selalu punya waktu untuk mengamati situasi di Stasiun Kota, karena saya selalu menggunakan jasa kereta ekspres jurusan Depok – Jakarta dan sebaliknya. Tak seperti biasanya, suatu malam saat menunggu kereta datang saya ingin sekali mampir di tukang pecel dan gorengan yang banyak berjualan disepanjang peron tak jauh dari rel kereta. Biasanya sih saya selalu menahan keinginan untuk makan disitu, karena kebersihan dan kualitas makanan dari berbagai aspeknya sangat patut dipertanyakan.
Namun kali itu saya memutuskan untuk makan di salah satu pedagang pecel disitu. Sambil berharap perut saya tak menolak makanan yang masuk, saya coba menikmatinya. Belum habis separuh pecel yang saya makan, datang seorang ibu muda dengan bayi yang tertidur digendongannya. Wajahnya terlihat letih dan kerepotan dengan tas besar yang dijinjingnya. Ibu itu ingin makan disitu, ia melontarkan pertanyaan kepada penjual: “Apakah dua ribu boleh?” Si penjual mengiyakan, tapi hanya untuk dua gorengan. Ibu itu lalu menjawab dengan pasrah: “ya sudah, dua ribu aja”
Mendengar perbincangan itu aku seperti dikagetkan, terlebih melihat bayi digendongannya. Si bayi pasti masih menetek pada ibunya, tapi si ibu hanya mampu makan dengan makanan seharga dua ribu rupiah saja! Saat itu juga aku diserang kesedihan. Aku berpikir… di tempat lain para pejabat sibuk bicara kesejahteraan rakyat, para politisi sibuk bicara berlagak mewakili kepentingan rakyat, tapi disini aku berhadapan dengan seorang ibu yang perlu menyusui bayinya, namun ia hanya bisa makan dengan dua gorengan saja!
Seandainya aku tak lama berpikir tentang macam-macam hal tentu aku bisa berbuat sesuatu untuk ibu itu. Di dompetku masih tersedia cukup uang, aku bisa saja membelikan ibu itu makanan yang lebih pantas buat seorang ibu yang sedang menyusui. Tapi aku terlanjur sibuk berpikir…sementara seorang pemuda sederhana lain disampingku yang datang setelahku, tanpa berpikir panjang berkata kepada si ibu: “Bu silahkan makan yang lain biar nanti saya yang bayar” Ia lalu meminta kepada si penjual pecel untuk menyediakan makanan yang lain untuk si ibu itu. Si ibu tersenyum dan berkata singkat: “Makasih ya mas.”
Mengingat kejadian itu, sampai saat ini aku menyesal setengah mati. Sejak itu aku selalu mengingatkan diriku: “Berbuat baik tanpa berpikir jauh lebih baik dibandingkan berpikir tanpa berbuat baik!”