jump to navigation

Jalan Lurus* November 5, 2008

Posted by ariaristides in Fiksi.
trackback

dsc_0019-copy2

Aku adalah sebuah jalan, Jalan Lurus namaku.

Sesuai dengan namaku, aku harus lurus saja, tidak boleh berbuat lain. Sebenarnya aku tak begitu suka terus menerus lurus, tetapi mereka sudah terlanjur menamakanku demikian. Mereka suka sekali mengulang-ulang namaku yang indah, seolah-olah meyakinkanku bahwa memang sudah sepantasnya aku disebut Jalan lurus.

Sebagai jalan tentu aku tidak begitu suka jika tidak boleh berbuat lain kecuali berusaha untuk tetap lurus, tetapi mau apa lagi, mereka menginginkanku demikian, sesuai dengan namaku. Aku tak tahu kenapa begitu, aku juga tak tahu apakah nama itu semacam anugerah atau kutukan, tetapi apa pula bedanya bagiku? Aku mungkin telah dianugerahi watak lurus, atau telah dikutuk untuk lurus.

Sebenarnya, seperti yang telah kukatakan tadi, Jalan Lurus adalah nama yang indah, setidaknya dibanding dengan Jalan Berkelok atau Jalan Menikung, apalagi Jalan Buntu. Yang selama ini menjadi biang pertanyaanku adalah kenapa mereka suka sekali mengulang-ulang namaku entah berapa kali setiap hari. Aku tak tahu apakah dengan berbuat itu mereka merasa bahagia, atau merasa nikmat – moga-moga saja demikianlah adanya.

Mereka mungkin tidak mengetahui akibat semua itu bagiku, yakni bahwa apa pun yang terjadi aku harus tetap lurus. Bagaimana seandainya aku jadi gila sebab tidak punya hak untuk berbuat lain kecuali berusaha terus menerus agar tetap lurus? Siapa yang mau bertanggung jawab? Apakah aku harus bertanggung jawab atas segala hal yang diakibatkan oleh kelurusanku meskipun merekalah yang telah memberikan nama itu untukku, hal yang sama sekali bukan kehendakku?

Bayangkan, aku harus lurus terus meskipun mendaki bukit, menuruni lembah, menyeberang padang, dan menempuh gurun dan tentu tidak ada diantara mereka yang mau tahu jika pada suatu hari nanti aku capek dan tak bisa berbuat lain kecuali ikut-ikutan menyebut-nyebut namaku sendiri, entah untuk apa.

Aku adalah sebuah jalan, Jalan Lurus namaku.

* Sapardi Djoko Damono (Kumpulan Cerpen “Membunuh Orang Gila.” Penerbit Buku Kompas, 2006)

foto: Ari Trismana lokasi: Lanud TNI AD Blangbintang, NAD


Komentar»

No comments yet — be the first.