Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan
Sudah hukumnya bahwa tulisan dalam huruf braille tentu bukan dibaca dengan cara dilihat tetapi diraba. Namun bagi saya yang terbiasa membaca dengan cara melihat tentu bukan hal yang mudah meraba titik-titik timbul huruf braille.
“Sebagai langkah awal bolehlah kalian membaca huruf braille dengan cara melihat” kata Ibu Mimi M. Lusli sang trainer pada “Pelatihan Sensitivitas Jurnalis Terhadap Persoalan Disabilitas.” Seperti anak SD yang mencontek, saya berlomba membaca titik-titik timbul yang ada dengan cara mencocokkan dengan simbol-simbol huruf braille.
Suasana makin seru tak ada beda dengan anak kecil yang mendapatkan mainan baru ketika saya mencoba menggunakan riglet, alat untuk menulis dalam huruf braille. Saya lirik teman-teman saya yang lain juga tak kalah antusiasnya dengan saya. Lagi-lagi kami terpaksa mengeja huruf per huruf apa yang akan kami tuliskan. Awalnya saya lupa bahwa menulis huruf braille harus dari kanan ke kiri, karena ketika seseorang menusukkan jarum di atas kertas yang dijepit oleh riglet, titik-titik akan timbul dibagian belakang kertas. Untuk membaca titik-titik timbul tersebut, sisi kertas harus dibalik, maka sisi belakang menjadi sisi depan. Lalu tulisan braille siap dibaca seperti tulisan umum dari kiri ke kanan.
Oleh Ibu Mimi kami hanya diminta menuliskan nama. Lalu Ibu Mimi yang memang tuna netra membacakan dengan rabaan jari tangannya. Ada yang benar, ada yang salah. Saya pikir wajar sajalah bila masih ada yang salah menulis nama sendiri, karena diantara kami tak ada yang pernah belajar menggunakan huruf braille. Kami yang kaum awas bisa jadi setiap hari membaca jutaan karakter huruf yang ada di jalan, angkutan, bungkus makanan, koran, internet, bahkan sebelum masuk toilet pun kita membaca tulisan agar tak salah masuk antara toliet pria atau wanita. Namun di dunia tuna netra yang membaca dengan huruf braille, kami adalah orang-orang yang buta huruf!
Saya selesai menulis. Ibu Mimi meraba tulisan braille buatanku. Ia membaca lalu berhenti mendadak. Ia mengernyitkan dahinya. Saya tersenyum, lalu semuanya tertawa.
“Menyesal saya membacanya” kata Ibu Mimi bercanda. Saya menuliskan: “Ari Cakep.”
Rasanya begitu menggembirakan pelatihan ini. Saya yakin bukan hanya saya saja yang merasakannya. Teman-teman saya yang lain, saya lihat juga seperti itu. Saya pikir simulasi hanyalah sebuah permainan. Saya dan teman-teman yang secara fisik tidak mengalami kecacatan hanya bermain-main dan singgah sebentar di dunia kaum cacat. Kita tersenyum, tertawa, gembira selama permainan itu. Tapi apakah kita masih bisa menunjukkan wajah yang sama bila suatu ketika kita tak hanya singgah sebentar, tapi menetap di dunia kaum cacat?
Bila anda seorang kameramen bayangkanlah anda menjadi seorang tuna netra. Bila anda seorang reporter bayangkanlah anda kehilangan dua tangan yang biasa anda gunakan untuk mengetik naskah. Bila anda seorang pimpinan, coba bayangkan suatu hari anda menjadi seorang tuna wicara sehingga tak mampu lagi bersuara memberi perintah kepada bawahan. Jujur saja bila saya membayangkan itu, hanya ada satu ungkapan sederhana dengan dua kata yang bisa mewakili situasi tersebut, yaitu: “Dunia Runtuh!”
Apakah memang sepert itu dunia kaum cacat yang sesungguhnya? Dunia yang runtuh porak poranda, hancur berkeping-keping? Saya yakin tidak! Kaum cacat juga punya semangat, punya harapan, punya cita-cita, dan punya keinginan maju. Pada hakikatnya penyandang cacat juga manusia yang sama seperti kita. Artinya mereka juga punya hak yang sama atas semua hal yang bisa kita nikmati didunia sebagai manusia normal. Tak ada satu alasan pun yang boleh diajukan guna mendiskreditkan penyandang cacat.
Untuk soal ini Ibu Mimi memberikan ungkapan yang sangat menarik. Sejak Sekolah Dasar kita dikenalkan pada slogan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Nah perbedaan itu seharusnya bukan hanya dimaknai sebagai perbedaan suku, ras, agama, warna kulit, bahasa atau perbedaan budaya semata. Perbedaan bentuk fisik pun harus diakomodir dalam slogan itu. Artinya jangan ada lagi kenyataan penyandang cacat dengan kondisi fisik yang berbeda dikategorikan sebagai warga negara kelas dua. Indonesia belum Bhinneka Tunggal Ika jika masih ada perlakuan yang tak adil bagi penyandang cacat.
Jadi mari sebelum kita sendiri masuk ke dunia kaum cacat dan menetap didalamnya, mulai sekarang ikutlah memperjuangkan hak dan kesetaraan bagi penyandang cacat, memperjuangkan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika secara sesungguhnya.