Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan

Pahlawan Tanpa Senyum
Jaman SD dulu saya diajari oleh guru-guru bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa dengan penduduknya yang memiliki sifat murah senyum dan ramah tamah. Tapi dimana ya kita bisa mendapatkan gambaran indah seperti ungkapan guru saya itu?
Pernah gak anda mengamati gambar yang ada di lembaran uang kertas rupiah? Satu sisi ada gambar keindahan alam suatu tempat atau keaneka-ragaman budaya Indonesia. Sementara sisi yang lain adalah gambar pahlawan nasional.
Nah yang membingungkan saya adalah gambar para pahlawan nasional itu. Kenapa tak ada satu pun gambar pahlawan nasional yang tersenyum? Mengapa dari pandangan matanya yang melotot, mereka terkesan galak dan jauh dari semangat yang ramah?
Bahkan gambar pahlawan Kapitan Pattimura di lembar uang seribuan terlihat membawa sebilah golok di tangan kanannya. Bukankah gambar semacam ini berkesan sangar dan sadis?
Mungkin karena gambar para pahlawan nasional itu dibuat saat Indonesia sibuk melawan bangsa kolonial. Ini pertimbangan yang masuk akal. Bayangkan bila saat memperjuangkan kemerdekaan, orang-orang yang dimata penjajah itu dikatakan sebagai pemberontak, justru ditampilkan dengan gambar sedang membawa gitar. Pihak kolonial pasti akan tertawa terbahak-bahak karena merasa geli, lalu bilang “mereka ini mau berperang atau ngamen sih?” Atau bila gambar Kapitan Pattimura membawa sekuntum mawar, pihak kolonial pasti bilang, “Kapitan, you orang mau berperang atau mau say love to me?”
Gambar pahlawan nasional yang kaku, keras, heroik atau galak mungkin memang pas pada masa Indonesia berperang melawan penjajah. Tapi saya pikir pada era yang berbeda sekarang ini, mungkin perlu juga dipikirkan memberikan gambaran pahlawan nasional yang lebih manis atau ramah. Terlebih bila gambar itu dicetak di atas uang kertas rupiah. Bukankah uang kertas itu ditujukan bagi rakyat Indonesia. Lantas mengapa Kapitan Pattimura masih saja tampil galak dengan golok ditangan? Diarahkan kepada siapa lagi golok kapitan itu?
Sekarang bayangkan hal lain. Bagaimana jika pas foto anak sekolah, karyawan kantor, pegawai negeri, calon legislatif, presiden dan wakil presiden atau yang lainnya difoto dengan pose tangan kanan membawa pisau atau golok?
Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan
Suatu sore sendirian aku tergopoh-gopoh menyiapkan suatu acara. Ini adalah hukum mutlak, suatu hal yang dilakukan tergesa-gesa pasti ada saja kurangnya. Notebook yang tidak tersambung dengan LCD, suara yang tidak keluar di sound system, hingga peserta acara yang tak tepat waktu.
Aku setengah berlari mnuju meja kerjaku untuk mengambil daftar hadir peserta yang tetinggal. Seperti biasa meja kerjaku dalam keadaan berantakan. Ini adalah salah satu contoh seolah-olah aku sibuk dan bekerja keras.
Diantara kertas-kertas, koran dan buku-buku yang tak teratur, ada sepotong roti. Jangankan di atas meja sendiri, di dapur, di kulkas, atau bahkan di meja bos kalau ada makanan yang kuinginkan pasti kusikat. Sepotong roti di atas mejaku seperti memprovokasi. Aku menyambarnya, lalu sambil bergerak cepat kembali ke ruang meeting, aku memindahkan roti itu kemulutku. Roti habis tak lebih dari 30 detik.
Tapi siapa sangka sepotong roti yang sudah busuk diususku dan sudah jadi kotoran yang mungkin sudah aku buang di lubang WC ternyata menyisakan masalah.
Sang penaruh roti (aku menyebutnya penaruh, karena ia sekedar menaruh bukan memberi dengan sepengetahuanku) merasa aku tidak respect terhadap apa yang telah dilakukannya. Ia memprotesku. Tak ada pertanyaan “dari siapa ini?” terlebih tak ada ucapan terima kasih yang kusampaikan padanya. Ia protes atas itu semua.
Tak bermaksud membela diri, semua itu sesungguhnya berjalan begitu saja. Kalaupun ada yang terlupa bukankah itu kealpaan yang wajar saja? Terlebih saat itu aku memang sedang ribet dengan persiapan suatu acara. Kalau mau dipikir lebih jauh, bukankah tak berlebihan bila dalam satu relasi yang bukan lagi sebatas teman akan banyak hal yang berjalan tanpa perlu disertai ungkapan-ungkapan lagi?
Tapi sang penaruh roti di mejaku berpikir lain. Aku harusnya bertanya. Aku harusnya berterima kasih atas tindakannya itu. Aku harusnya menaruh respect dalam sepotong roti. Aku lantas berpikir dari sisi yang lain. Apakah si penaruh roti di atas mejaku itu melakukan itu karena mengganggap aku sebagai seorang yang istimewa atau dia menaruh roti itu dalam rangka ingin mendapatkan ucapan terima kasih? Kalau memang tujuan yang kedua yang ingin dicapainya, mengapa tidak ia berikan saja sepotong roti itu pada seorang pengemis? Aku berani bertaruh, pengemis pinggir jalan yang diberi sepotong roti pasti tak akan lupa mengucapkan kata terima kasih dan mungkin saja ditambah bonus sederet doa-doa darinya.
Aku tak habis pikir bila ia menaruh roti di atas mejaku sebagai ungkapan bahwa aku adalah seorang yang istimewa baginya, lantas kenapa dihari berikutnya ketika roti itu sudah masuk ke dalam septic tank, ia justru menjadikan kejadian itu sebagai persoalan disertai bumbu-bumbu tak sedap lainnya.
Sebagai seorang yang lebih dari sekedar teman atau sahabat, bagiku ada sekat-sekat yang telah lebur, yang seringkali dalam tiap tiap tindakan tidak lagi memerlukan ungkapan-ungkapan eksplisit.
Bagiku tak masalah ketika mentraktir sahabatku lalu setelah itu ia hanya bilang: “kenyang ya, tadi nasinya kebanyakan.” Tak masalah pula saat bersama sahabat-sahabat aku membayari mereka nonton, lalu selepas itu ada yang bilang: “Tuh kan film pilihan loe jelek!” yang lain menimpali: “Tapi tadi cewek yang samping gua cakep” Lalu yang terakhir bilang ke aku: “Abis ini traktir makan dong.” Kami tertawa bersama. Tapi mereka semua lupa, tak ada satupun diantara mereka yang mengucapkan terima kasih. Apakah itu masalah?
Baiklah…tak ada yang salah bila memberi sedikit respect dalam sepotong roti, atau respect dalam sepotong, sekeping, atau secuil apapun pemberian orang. Tapi tolong…beri aku respect yang lebih dibandingkan harga sepotong roti!
Note: Judul dalam tulisan ini bukan bermaksud tak memberi respect pada film Garin Nugroho: “Cinta Dalam Sepotong Roti” Dengan memberi judul yang mirip justru saya respect pada film itu.
Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan
Aku mengartikan “tak apa-apa” untuk tempat duduk di kereta yang kuberikan untukmu dipagi hari perjalanan kita. Sementara sebentar kemudian kamu justru tertidur. Aku hanya diam berdiri memandang dan tetap berpikir “tidak apa-apa.”
Aku mengartikan “tak apa-apa” untuk langkahku yang kuperlambat, namun kau masih saja berjalan dibelakangku, padahal aku sudah pernah sampaikan keberatanku. Namun aku berpikir, uh…baiklah tak apa-apa.
Aku paham betul arti “tak apa-apa” ketika dimalam yang tertutup lebat hujan aku mengantarmu menemui seseorang yang sangat berarti buatmu. Sementara aku hanya bisa termangu ditemani basah air disudut stasiun. Kau tau apa yang kupikirkan saat itu? Dipikiranku hanya ada: “it’s oke, tak apa-apa.”
Malam setelah hari kerja yang melelahkan juga menjemukan, sesungguhnya aku ingin menutup hari dan memanfaatkan sisa waktu bersamamu. Tapi apa yang kau lakukan? Sepanjang perjalanan kau sibuk dengan handphonemu, seolah itu adalah alat bantu pernafasanmu. Lalu ketika kereta yang mengantarkan kita tiba ditujuan, katamu: “kita berpisah disini saja,” padahal aku masih ingin sedikit saja nikmati waktu bersamamu. Aku berusaha tersenyum dan berpikir dalam hati, “tidak apa-apalah.”
Bahkan suatu ketika saat kau mengatakan: “aku harus turun disini,” dan aku harus melihatmu turun mendahuluiku, aku tersenyum dan melambaikan tangan. Aku tak ingin mengakhiri malam dengan kekecewaan dan aku menyimpan kalimat dalam hati: “tidak apa-apa kok.”
Sebaliknya apa yang kau pikirkan, ketika aku asyik saja makan dan berbincang dengan teman-teman lain? Kupikir itu wajar saja dan tak ada pikiran jelek atau hal buruk yang sengaja kulakukan. Tapi apa yang kau pikir? Ini pasti ada apa-apa!
Apa yang terlintas dipikiranmu, ketika ditengah kesibukanku kutelan sepotong roti yang ada di atas mejaku. Aku menelannya tanpa permisi atau mengucap terima kasih, lalu apa yang kau pikir? Ini pasti ada apa-apa!
Lalu bagaimana ketika disela perjalanan kita, sepotong obrolan menjadi penuh kritik dan perdebatan. Bukankah itu hal yang biasa saja bagi jiwa yang sehat? Aku tau pasti apa yang kau pikirkan saat itu: Ini pasti ada apa-apa!
Dalam beberapa situasi cara berpikir “tidak apa-apa” adalah cara berpikir yang sangat sederhana namun hebat. Tapi dalam setiap situasi cara berpikir “pasti ada apa-apa” adalah cara berpikir busuk dari seorang irasional dengan jiwa kerdil yang nyaris sakit jiwa. Berhentilah dengan cara berpikir seperti itu. Dengan isi kepalamu yang penuh dengan “pasti ada apa-apa” itu barangkali suatu saat aku tak sanggup meyakinkan diriku bahwa ini tak apa-apa.
Aku tak tau berasal dari setan mana cara berpikir “pasti ada apa-apa” seperti itu. Barangkali aku salah. Karena mungkin saja setan tak pernah berpikir. Yang mungkin benar adalah bahwa kamu yang tak pernah mau menerimaku. Kamu yang tak mau menerima perbedaan sebagai sesuatu yang wajar yang justru memperkaya jiwa. Kamu yang selalu memupuk rasa curiga dan tak percaya, lalu memanennya menjadi cara pikir “pasti ada apa-apa!” Kamu yang tak mau menerimaku dengan cara pikir yang: “oke…ini tak apa-apa!”
Sekarang, apa kamu masih mau terus gunakan cara berpikir “pasti ada apa-apa” itu.
Okelah…tak apa-apa, itu semua terserah kamu!