Tak Apa Apa Lawan Pasti Ada Apa Apa Februari 10, 2009
Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.1 comment so far
Aku mengartikan “tak apa-apa” untuk tempat duduk di kereta yang kuberikan untukmu dipagi hari perjalanan kita. Sementara sebentar kemudian kamu justru tertidur. Aku hanya diam berdiri memandang dan tetap berpikir “tidak apa-apa.”
Aku mengartikan “tak apa-apa” untuk langkahku yang kuperlambat, namun kau masih saja berjalan dibelakangku, padahal aku sudah pernah sampaikan keberatanku. Namun aku berpikir, uh…baiklah tak apa-apa.
Aku paham betul arti “tak apa-apa” ketika dimalam yang tertutup lebat hujan aku mengantarmu menemui seseorang yang sangat berarti buatmu. Sementara aku hanya bisa termangu ditemani basah air disudut stasiun. Kau tau apa yang kupikirkan saat itu? Dipikiranku hanya ada: “it’s oke, tak apa-apa.”
Malam setelah hari kerja yang melelahkan juga menjemukan, sesungguhnya aku ingin menutup hari dan memanfaatkan sisa waktu bersamamu. Tapi apa yang kau lakukan? Sepanjang perjalanan kau sibuk dengan handphonemu, seolah itu adalah alat bantu pernafasanmu. Lalu ketika kereta yang mengantarkan kita tiba ditujuan, katamu: “kita berpisah disini saja,” padahal aku masih ingin sedikit saja nikmati waktu bersamamu. Aku berusaha tersenyum dan berpikir dalam hati, “tidak apa-apalah.”
Bahkan suatu ketika saat kau mengatakan: “aku harus turun disini,” dan aku harus melihatmu turun mendahuluiku, aku tersenyum dan melambaikan tangan. Aku tak ingin mengakhiri malam dengan kekecewaan dan aku menyimpan kalimat dalam hati: “tidak apa-apa kok.”
Sebaliknya apa yang kau pikirkan, ketika aku asyik saja makan dan berbincang dengan teman-teman lain? Kupikir itu wajar saja dan tak ada pikiran jelek atau hal buruk yang sengaja kulakukan. Tapi apa yang kau pikir? Ini pasti ada apa-apa!
Apa yang terlintas dipikiranmu, ketika ditengah kesibukanku kutelan sepotong roti yang ada di atas mejaku. Aku menelannya tanpa permisi atau mengucap terima kasih, lalu apa yang kau pikir? Ini pasti ada apa-apa!
Lalu bagaimana ketika disela perjalanan kita, sepotong obrolan menjadi penuh kritik dan perdebatan. Bukankah itu hal yang biasa saja bagi jiwa yang sehat? Aku tau pasti apa yang kau pikirkan saat itu: Ini pasti ada apa-apa!
Dalam beberapa situasi cara berpikir “tidak apa-apa” adalah cara berpikir yang sangat sederhana namun hebat. Tapi dalam setiap situasi cara berpikir “pasti ada apa-apa” adalah cara berpikir busuk dari seorang irasional dengan jiwa kerdil yang nyaris sakit jiwa. Berhentilah dengan cara berpikir seperti itu. Dengan isi kepalamu yang penuh dengan “pasti ada apa-apa” itu barangkali suatu saat aku tak sanggup meyakinkan diriku bahwa ini tak apa-apa.
Aku tak tau berasal dari setan mana cara berpikir “pasti ada apa-apa” seperti itu. Barangkali aku salah. Karena mungkin saja setan tak pernah berpikir. Yang mungkin benar adalah bahwa kamu yang tak pernah mau menerimaku. Kamu yang tak mau menerima perbedaan sebagai sesuatu yang wajar yang justru memperkaya jiwa. Kamu yang selalu memupuk rasa curiga dan tak percaya, lalu memanennya menjadi cara pikir “pasti ada apa-apa!” Kamu yang tak mau menerimaku dengan cara pikir yang: “oke…ini tak apa-apa!”
Sekarang, apa kamu masih mau terus gunakan cara berpikir “pasti ada apa-apa” itu.
Okelah…tak apa-apa, itu semua terserah kamu!