Jejak Satu Langkah September 10, 2009
Posted by ariaristides in Catatan-Catatan.trackback
Tut tut…tut tut… jam weker butut itu serak bersuara tepat ketika jarum pendek jam berada di angka empat dan jarum panjangnya nyaris menyentuh angka dua belas. Suara seraknya mengorek telinga, sehingga seisi ruangan itu harus terjaga. Sebenarnya ruangan 4×4 meter itu terlalu banyak menampung penghuni, kalau tidak mau dikatakan terlalu sempit, karena dipaksa menerima lebih dari 15 anak pesantren, pada malam-malam tertentu bahkan lebih dari 15 anak.
Kotak ruang itu pun masih jauh bila disebut sebagai kamar yang nyaman. Di situ tak ada perangkat audio penghibur telinga, yang ada hanya tumpukan kitab suci dan kitab-kitab penebal iman. Tak ada foto Che Guevara sang revolusioner idola anak muda, atau poster cantik Wulan Guritno, yang ada di satu sisi tembok tertempel satu poster tokoh Islam yang entah siapa namanya, tak semua orang mengenalnya. Sisi kanan atas tempelannya lepas, hingga ia tampil seperti sebuah buku yang ingin ditutup. Di lantai masih tergelar beberapa sajadah yang setia menemani tidur malam mereka.
Alwi tertatih bangun dari tidurnya. Bukan karena masih mengantuk ia harus melangkah satu-satu, tapi karena memang sejak lahir ia mengalami cacat pada kaki kirinya. Ribuan langkah telah ia habiskan bersama tongkatnya. Baginya tongkat itu sudah seperti bayang-bayangnya sendiri yang selalu ada kemana ia melangkah. Setiap kali bangun, tak ada yang lain yang dicarinya, diantara redup 15 watt lampu kamar, ia menggapai tongkatnya.
Gelap malam belum habis seluruhnya dan matahari masih malu-malu melepaskan terangnya. Ditemani dingin embun dan sisa paduan suara serangga malam, ia mengambil air wudhu. Tangannya sedikit kaget ketika tetes-tetes air mulai membasahi telapak tangannya. Air dingin tidak hanya membuatnya menggigil, tapi juga menghapus dan melarutkan mimpi-mimpi malamnya.
Tangannya erat menggenggam pegangan tongkatnya menuju masjid. Di depan undakan yang cukup tinggi sebelum belokan sampai ke masjid, ia terpaksa memperlambat langkahnya. Berhati-hati seperti bayi yang baru belajar jalan, langkahnya satu-satu, kiri kanan, saling bergantian kaki kanan, tongkat kiri, kaki kanan, tongkat kiri, begitu seterusnya.
Akhirnya ia sampai di mesjid besar yang ketiga sisinya terbuka sehingga angin dan udara dingin bebas menari-nari di sana. Hanya sisi depan tempat dimana imam memimpin umat saja yang tertutup. Ia bukan orang pertama yang hadir di sana. Karena setiap malam juga tidak sedikit anak-anak yang merebahkan badannya di sana. Setelah mencari posisi, ia mengikuti yang lainnya, membuka kitab di tangannya dan mulai melagukannya.
* * *
Lewat dua tahun sudah Alwi tinggal dan belajar di pondok pesantren. Ia sudah hapal betul dinginnya udara pagi di pondok pesantrennya yang selalu dihiasi lantunan ayat suci dari ratusan mulut para santri. Di kejauhan suara mereka berdengung-dengung seperti ratusan lebah yang mengerubungi putik bunga, ketika dalam waktu yang bersamaan mereka melantunkan ayat-ayat yang berbeda.
Ia merasa masih kanak-kanak ketika masuk ke pesantren itu, hingga tak pernah sadar dorongan apa yang membuat dirinya tiba di tempat yang seolah begitu dekat dengan sang maha segala. Yang ia sadar kemiskinan orang tuanyalah yang membawanya kesana. Sebenarnya ia ingin bersekolah di sekolah umum seperti kebanyakan teman-teman sekampungnya, namun karena orang tuanya tak mampu membiayai keinginannya, ia terpaksa tanpa penolakan ketika harus masuk ke pesantren itu.
Kumandang azan subuh menghentikan dengung suara bacaan ayat suci. Beberapa santri yang terlambat bangun, tergopoh-gopoh mengambil air wudhu lalu dengan wajah yang masih basah berlari menyusul barisan kawan-kawannya yang telah berjajar rapi siap bersujud di hadapanNya.
Sembahyang adalah salah satu waktu dimana ia harus melepaskan tongkat dari dekapannya. Meski sering kali harus sujud dan berdiri paling akhir atau kadang posisinya tak sesempurna jemaat santri lainnya, ia tetap khusuk menjalankan ibadahnya.
Secara fisik ia memang berbeda dengan santri lainnya. Namun tak ingin ada pembedaan yang mengistimewakan dirinya. Saat mandi ia tetap antri menunggu giliran mandi pagi. Dengan tetap ditemani tongkatnya, di tangan kanannya terjinjing ember plastik berukuran kecil berisi satu sikat gigi yang bulu-bulnya sudah mulai berantakan, sabun mandi kecil, dan satu pasta gigi yang kemasannya kurus menandakan isinya hampir habis.
Saat di kelas pun ia tak ingin terlihat berbeda. Bukan karena ia malu memperlihatkan kondisi tubuhnya yang cacat, tapi ia tak ingin orang lain melihatnya dengan rasa iba. Untuk alasan itu, dikelas ia selalu menyembunyikan tongkatnya dan menurunkan sarung kotak-kotaknya hingga ke mata kaki.
Kelas yang ia dan santri lainnya pakai saat ini adalah bangunan yang didirikan atas bantuan Yayasan Budha Tzu Chi.
Bermacam pelajaran ia ikuti di kelas. Pada awalnya, sepeti kebanyakan anak yang lainnya, ia terbata-bata menyusuri huruf-huruf arab di lembar-lembar kitab suci Al Qu’ran. Namun seiring berjalannya hari, ia tak lagi seperti dulu. Saat membaca ayat suci, ia seperti seorang anak yang usai melakukan perjalanan jauh, merasa haus dan meneguk habis secangkir air minum. Ia tak perlu lagi berlama-lama mengulangi ayat demi ayat dalam Al Qur’an yang karena udara lembab halaman-halamannya mulai terlihat lusuh. Ia kini bahkan hapal beberapa surat yang ada dalam kitab kesayangannya. Suaranya mantap, pandangan matanya penuh keyakinan saat ia melafalkan ayat suci. Disampingnya tergeletak tongkat kayunya dengan damai seolah ikut menikmati alunan ayat suci darinya.
Saat makan siang pun ketika anak-anak lainnya harus antri menunggu giliran untuk mendapatkan jatah makan siangnya, kadang ia pun antri mengambil makanan untuk anak-anak sekamarnya. Ia harus meletakkan embernya diurutan yang telah disediakan lalu menunggu santri yang bertugas membagikan makanan mengisinya.
Makan siang mereka sangat sederhana. Nasi yang dibumbui, dan sayur yang lebih banyak airnya dibandingkan dengan sayurannya itu sendiri. Bila beruntung anak-anak santri juga mendapatkan lauk tempe atau tahu. Meski demikian saat makan siang adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh mereka.
Untuk makanan mereka, Tzu Chi tiap bulannya juga menyumbang beras bagi mereka.
Beberapa anak yang telah menyelesaikan makan siangnya lebih dulu, sebagian terlelap di bawah teduhnya pohon-pohon rindang. Ada juga yang tekun terus mengaji di bawah pohon. Tidak sedikit juga yang mencuci pakaiannya di tempat pencucian. Lalu ketika matahari sedang terik-teriknya, mereka menjemur pakaian di rerumputan seberang kamar mereka.
Siang hingga sore hari juga mereka habiskan di kelas-kelas untuk mengikuti berbagai pelajaran. Di hari-hari tertentu tiap minggunya mereka juga memiliki kegiatan ekstra kurikuler seperti taekwondo, kaligrafi, majalah dinding, drama, dan pelatihan multi media.
Sebenarnya Alwi senang juga dengan aktivitas bela diri taekwondo. Baginya olah raga itu membuat orang terlihat gagah dengan tinju dan tendangan-tendangannya yang kuat. Namun karena kakinya yang cacat, ia hanya bisa melihat dari kejauhan anak-anak yang sedang berlatih dan memendam mimpinya itu dalam hati.
Meski cacat, di pesantren itu ia adalah seorang anak yang memiliki kelebihan. Ia pandai melukis kaligrafi. Ia juga termasuk seorang santri yang memiliki keterampilan berceramah. Ia telah berlatih berceramah di kelas ataupun diantara teman-teman sekamarnya.
* * *
Ketaatannya pada kewajiban ibadah tidak kalah dengan santri-santri yang lain. Ia lebih suka menghabiskan senja di mesjid pesantren. Maka jauh sebelum azan maghrib dikumandangkan memanggil para santri, ia telah siap di dalam mesjid. Para santri yang lain memperlihatkan ketaatan yang sama, mereka keluar kamar masing-masing, yang masih melakukan aktivitas pun bergegas mengakhirinya, lalu berbondong-bondong segera menuju masjid.
Malam di pondok pesantren dilalui sangat jauh berbeda dengan kebanyakan orang lainnya. Para santri melewati malam tanpa hiburan musik dari radio, sinetron atau film india dari televisi. Begitu pula Alwi, kadang ia hanya merenung di kamarnya membayangkan saat bertemu dengan keluarganya. Kadang ia menghabiskan malam dengan membaca Al Qur’an di mesjid. Setelah berlembar-lembar halaman Al Qur’an ia tuntaskan dan matanya mulai terserang kantuk, barulah ia mengakhirinya. Menutup kitabnya dan mengucap syukur atas terlewatinya satu hari tersebut. Di beberapa sudut, tidak sedikit santri yang bergeletakan tertidur di masjid. Ia meraih tongkat dengan tangan kirinya dan tangan satunya menggenggam erat Al Qur’an. Diantara gelap malam, ia melangkah satu-satu. Saat melewati jalan yang agak becek langkahnya hanya meninggalkan satu jejak.
semoga tulisannya bisa berguna buat kita semua sebagai pengingat