Ari Aristides


Dua Anak Tak Berdaya, Dijadikan Modus Baru Mengemis
Agustus 12, 2010, 9:58 am
Filed under: Catatan-Catatan

Di langit bintang benderang, berharap malam ini tak hujan.

Sudah beberapa hari terakhir ini, setiap pulang kerja, saat melintas dengan sepeda motor di ujung Jalan Arif Rahman Hakim, Depok tepatnya di depan gym dan firness centre, mataku selalu tertuju pada seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil menggelar tikar di trotoar yang digunakan sebagai parkiran motor para pengunjung gym dan fitness centre itu. Setiap kali melintas dan melihat mereka, selalu muncul perasaan haru atau mungkin lebih tepatnya sedih.

Tempat mereka menggelar tikar seolah berebut ruang dengan banyaknya motor yang diparkir disitu. Kadang kedua anaknya yang masih kecil terlihat bercanda, sementara ibunya duduk termangu bersandar di tembok, seolah menghitung kendaraan yang sedang melintas. Di lain hari, saat aku melintas, mereka bertiga lelap tergeletak hanya beralaskan selembar tikar, melewati dingin malam dan debu jalanan tanpa jaket dan tanpa selimut.

Kesempatan atau mungkin lebih pantas disebut niatan untuk berhenti dan berbincang dengan mereka sebagai tanda perhatian, akhirnya datang juga. Sebelumnya aku membeli 4 kotak susu dan 2 bungkus biskuit untuk kuberikan kepada kedua anaknya yang masih kecil.

Mobil dan motor menderu, melintasi malam, menyisakan asap dan debu

Mereka sudah berbaring berjajar saat aku memarkir sepeda motor lalu menyapa mereka. Yang paling kecil di sebelah kiri, ditengah anak yang lebih besar, dan ibunya disebelah kanan. Seperti menyambut seorang tamu, Ibu itu langsung bangkit saat aku berjongkok dan menyapanya dengan hati-hati. Sebentar kemudian anaknya yang besar ikut bangun mengawasiku dengan rasa ingin tahunya. Kantong plastik berisi susu dan biskuit kuberikan padanya. Namanya Rio. Umurnya hampir 6 tahun, dengan tubuh yang sangat kurus dan matanya yang sayu, Rio jelas bukan anak yang sehat dengan gizi yang cukup. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, saat meraih kantong plastik dari tanganku. Perhatiannya langsung berpindah ke isi kantong itu.

Di pinggir jalan bocah kecil lelap bermimpi

Meski di tempat yang tak layak, anak yang paling kecil itu tidur nyenyak terlentang dengan mulut sedikit terbuka. Wajah innocence-nya terlihat kotor. Jangankan bersih-bersih dan gosok gigi sebelum tidur, ia bisa mandi teratur dua kali sehari pun aku tak yakin. Namanya Riko. Ia baru berumur satu setengah tahun. Anak itu mungkin baru belajar mengeja namanya sendiri, namun ia harus melewati malamnya di atas trotoar, lagu nina bobonya adalah deru mesin kendaraan bermotor, dan selimutnya adalah debu jalanan. Riko anak yang malang. Mungkin saja malam ini ia sedang bermimpi tidur di ranjang yang empuk, dengan selimut bergambar teletubbies yang berbau harum, sambil memeluk boneka winnie the pooh.

Malam terus bergerak, adakah hati yang tergerak?

Lewat simpati yang kutunjukkan melalui 4 kotak susu dan 2 bungkus biskuit, obrolan dapat dimulai dengan mudah. Eti Erayama nama ibu itu. Usia 40 tahun mengaku asal Cibadak, Sukabumi, Jawa barat. Menurut ceritanya, dua bulan lalu suaminya meninggal karena sakit jantung. Ia memilih meninggalkan desanya demi melupakan kesedihan atas kepergian suaminya. Lucunya ia mengaku sudah 3 bulan lebih berada di Kota Depok menggelandang bersama dua anaknya.

Obrolan terus mengalir. Si ibu bercerita dengan bersemangat seolah pengalamannya adalah pengalaman yang membanggakan. Ditengah obrolan, seorang perempuan muda yang diantar oleh laki-laki berkendara sepeda motor, mungkin suaminya, datang membawa satu kantong plastik besar.

“Ibu ini ada selimut untuk anak ibu” katanya singkat. Setelah memberikan itu ia bergegas pamit. “Darimana Mbak?” aku spontan mengajukan pertanyaan.

“Saya rumahnya disekitar sini aja,” ia menjawab, kemudian melanjutkan langkahnya, seperti tak mau memberi kesempatan padaku untuk mengajukan pertanyaan berikutnya. Mungkin ia punya prinsip bahwa perbuatan baik tak perlu diketahui oleh orang lain.

Malam terus bergerak, keherananku pun terus bergerak

Aku dan Ibu Eti melanjutkan obrolan.

“Setiap malam ada saja yang ngasih saya mas,” lanjut Ibu Eti. Aku mengangguk-angguk setengah heran mendengar ceritanya yang tanpa malu dan basa-basi. Di kampungnya, ia masih punya orang tua yang punya rumah dan cukup untuk tempat tinggal bersama. Orang tuanya mengijinkan Ibu Eti dan anak-anaknya untuk tinggal disitu.

“Bapak saya gak setuju kalau saya kesini ngelandang bareng anak-anak dan hidup dari belas kasihan orang-orang,” katanya meyakinkan.

“Kalau ibunya setuju?” tanyaku.

“Kalau ibu saya mah setuju-setuju saja,” sambungnya tanpa ragu.

Belum tuntas rasa heranku, Ibu Eti bercerita bahwa ia adalah lulusan S1 sarjana ekonomi!

“Oh ya???” Refleks saja kuungkapkan rasa heranku.

“Semua orang memang gak percaya mas, kalo saya bilang saya sarjana ekonomi,” balasnya ingin membuatku percaya.

Orang normal mana yang mau percaya bahwa seorang lulusan fakultas ekonomi mau memilih hidup menggelandang dibandingkan hidup bersama orang tuanya di kampung? Alasannya klasik dan benar-benar tidak masuk akal bagiku. Sepeninggal suaminya, ia tak punya kerjaan dan merasa tak mampu menghidupi kedua orang anaknya yang masih kecil. Sementara beberapa bulan ini meski hidup menggelandang di Depok, setiap hari ia bisa mendapatkan uang dari pemberian orang yang lewat. Tak hanya itu, makanan baju-baju baru pun sering ia dapat. Ia mengaku lulusan Universitas Juanda, Bogor. Namun ketika kutelusuri lebih jauh untuk menguji kebenaran pernyataannya, seperti kapan ia masuk, kapan ia lulus, mata kuliah apa yang paling menarik, ia hanya menjawab lupa, lupa dan lupa.

Lalu lintas mulai sepi,  ada seorang ibu tak punya hati seperti tiang traffic light yang cuma punya 3 warna.

Setiap hari Ibu Eti bisa mendapat uang tak kurang dari 100 ribu rupiah! Sebuah angka yang besar untuk sebuah aktivitas yang nyaris tak membutuhkan apa-apa. 100 ribu perhari bahkan nilainya lebih besar dari rata-rata upah perhari seorang buruh di wilayah Jakarta. Ibu Eti bahkan pernah mendapatkan 750 ribu pemberian seorang bapak yang kebetulan melintas dengan mobil di Jalan Arif Rahman Hakim, Depok.  Itu adalah rekor pendapatan terbesarnya selama ia menggelandang (kenapa tak dicatatkan di Museum rekor Indonesia bu?).

Menurutku Ibu Eti bukan sekedar menggelandang, tetapi ia menjalankan “inovasi baru” dalam mengemis. Baginya mengemis bukan lagi sekedar pasang wajah memelas, menengadahkan tangan sambil menggendong anak kecil, diperempatan lampu merah yang padat. Ia mengemis dengan cara: di malam hari membawa kedua anaknya yang masih kecil, tidur di trotoar jalan hanya beralaskan tikar saja. Ia tahu betul bagaimana membangun suasana dramatik dan menggerakkan hati orang yang melihatnya, tanpa perlu capek-capek pasang wajah memelas dan menengadahkan tangan. Aku yakin setiap orang yang melintas, terlebih mereka yang juga punya anak kecil pastilah tersentuh melihat dua anak kecil tak berdosa tertidur mengadu badan kecilnya dengan kerasnya beton paving block.

Pemilihan lokasinya pun sangat tepat. Di Kota Depok pinggiran kota Jakarta. Hasilnya pastilah berbeda bila ia melakukan ini di Jakarta. Belum sempat selonjor meluruskan kaki, ia dan anak-anaknya pasti sudah diangkut oleh Satpol PP karena dianggap mengganggu keindahan kota.

Angin makin kuat berhembus. Dua anak kecil kedinginan.

Ibu Eti seolah tak perduli saat Riko balitanya menggulung-gulung badannya gelisah. Riko bahkan sudah keluar dari ujung tikar, namun si ibu membiarkannya saja. Selimut yang baru saja didapat tak dibuka dan diberikan kepada Riko.

“Uang dari pemberian orang saya simpan. Kalau cukup, saya pulang kampung. Nanti kalau uang di kampung sudah habis, saya berangkat lagi kesini,” ujarnya menjelaskan.

“Saya juga punya simpanan kalung dan cincin emas, tabungan saya kalo ditotal ya adalah dua setengah juta,” katanya bangga.

Aku hanya mengangguk-angguk menggigil bukan karena kedinginan, tapi karena rasa marah melihat ternyata ibu yang kuhadapi ini adalah seorang ibu yang tega mengorbankan kegembiraan serta kesejahteraan anak-anaknya dan tak diberi pilihan lain selain menggelandang bersamanya.

Angin makin kuat, malam ini tak ada hujan, tapi aku lelah.

Tak ada alasan lain yang membuatku buru-buru menutup pembicaraan ini, selain aku muak! Bagaimana mungkin ada orang tua yang tak bertanggung jawab mengorbankan dua anaknya yang masih kecil menjadikannya sebagai alat untuk menggerakkan hati orang-orang, semata-mata hanya demi uang, sekali lagi hanya demi uang! (art)




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.