Filed under: Catatan-Catatan
Apa yang paling banyak terlihat menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia? Sebagian mungkin berpikir tentang patriotisme. Lainnya lagi mungkin berpikir bahwa ini adalah waktu yang pas untuk bicara tentang arti nasionalisme. Menurutku yang paling banyak terlihat adalah bendera merah putih.
Jauh sebelum tanggal 17 agustus, kampung-kampung, perumahan, jalan-jalan, kantor apalagi instansi pemerintahan semarak memasang bendera dan pernak-pernik berwarna merah putih. Tak terkecuali di perumahan tempat aku tinggal. Bahkan ada yang sejak awal bulan agustus sudah memasang bendera merah putihnya.
Sebenarnya tak ada artinya buatku memasang bendera sebanyak apapun. Bagiku itu sama sekali tak berpengaruh dengan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Meski demikian pada akhirnya hari minggu tanggal 15 agustus 2010 aku memasang bendera di depan rumah. Itu pun setelah beberapa tetangga mempertanyakan mengapa aku tak juga memasang bendera merah putih menjelang peringatan kemerdekaan.
Beberapa tetangga masih didepan rumahku, saat aku mempersiapkan bendera dan tiangnya. Ada bapak-bapak dan ada juga ibu-ibu. Kata anakku yang baru berumur 3 tahun, bendera yang kusiapkan bukan bendera merah putih, tapi jingga putih. Aku dan beberapa tetanggaku spontan tertawa. Memang benar bendera itu sudah bertahun-tahun tak ada gantinya. Ada juga yang nyeletuk: “Ini bendera pusaka, jahitan Ibu Fatmawati.” Semuanya tertawa mendengar celetukan itu.
Coba bayangkan, apa artinya ganti bendera dengan yang bendera yang baru, cerah warna merah putihnya, masih halus kainnya atau mungkin dengan ukuran yang lebih besar? Sementara nasib jutaan rakyat tahun demi tahun tak berganti! Sebagian besar rakyat tetap saja miskin hidupnya, tak mampu memenuhi makan 3 kali sehari, tak mampu memberi gizi yang cukup untuk anak-anaknya, tak mampu ke dokter atu rumah sakit saat mereka sakit, tak sanggup menyekolahkan anak-anak, bahkan tak sanggup menolak ketika minyak tanah yang biasa dipakai untuk memasak digantikan secara paksa dengan gas bertabung yang meledak disana-sini.
Sebaliknya kemerdekaan, lebih tepatnya kemerdekaan untuk melakukan kegilaan dengan telanjang diperlihatkan oleh mereka yang pegang kuasa. Ada polisi, jaksa dan hakim yang jadi mafia peradilan. Ada petugas pajak dan pastinya para pimpinan institusi tersebut yang licik memainkan hitungan pajak untuk mengisi kantongnya sendiri. Ada banyak pejabat pemerintah yang merdeka ngomong semaunya, sementara rakyat dibuat sakit hati karenanya. Gilanya lagi tak sedikit anggota Dewan yang Terhormat bertingkah seolah-olah membela kepentingan rakyat, padahal yang gamblang terlihat adalah upaya memperkaya diri sendiri.
“Bagaimana seandainya saya pasang bendera setengah tiang Pak? Untuk merayakan naiknya harga-harga dan penderitaan rakyat yang tak pernah selesai?” tanya saya kepada seorang tetangga saya. Bapak itu hanya mengerutkan dahi. Saya tak tau apa artinya? Sementara Ibu-ibu yang mendengar pernyataanku, seolah menemukan kesempatan untuk bersuara. Mereka bersahut-sahutan, berapa harga cabe sekarang? Telur ayam aja mahal banget? Masa kita diminta seorang menteri untuk masak tanpa cabe? Kemaren yang tabung gasnya meledak, gak ada tuh dapet santunan? Pertanyaan dan pernyataan ibu-ibu itu seolah meluruhkan arti kemerdekaan yang dibanggakan entah oleh siapa.
Kumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak terus saja mengoceh. Sementara aku memasang bendera jingga putihku. Aku tak lagi mendengar ocehan mereka. Sambil menegakkan tiang bendera, dalam hatiku bersenandung Lagu “Indonesia Tanah Air Beta” dengan lirik yang dipelesetkan menjadi:
Indonesia tanah air siapa?
Katanya tanah air beta
Indonesia sejak 45 Janjinya rakyat sejahtera
Nyatanya kini kubertanya
Petani digusur sawahnya
Buruh hidup miskin dan sengsara
Hingga akhir menutup mata…
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Terakhir saya pasang bendera merah putih tahun 1995. Setelah itu tidak pernah lagi. Kecewa. Bahkan rumah kami (ayah saya) yang letaknya di jalan raya pernah didatangi aparat karena tidak memasang bendera dan diberi peringatan.
Komentar oleh Lina Agustus 20, 2010 @ 2:22 am