Filed under: Catatan-Catatan
Apa yang membuat sebuah film dokumenter dikatakan berhasil? Bicara soal keberhasilan tentu juga tak bisa lepas dari bicara soal tujuan. Tujuan film dokumenter dibuat akan sangat berbeda-beda. Akan sangat mungkin bila satu tema dibuat oleh dua pembuat dokumenter maka diantara mereka itu memiliki tujuan yang berbeda. Sederhananya tolok ukur keberhasilan film dokumenter bersifat sangat subyektif tergantung pada tujuan yang mau dicapai oleh si pembuat film tersebut. Tujuannya bisa saja karena sekedar pesanan untuk mendapatkan uang, menyerang satu orang atau kelompok orang lewat film dokumenter pun dapat dilakukan, membela seseorang, propaganda politik, dsb.
Bagi saya sebuah film dokumenter yang berhasil bukan sekedar diterima dan dikagumi oleh banyak penonton, mendapat tepuk tangan ketika film selesai diproyeksikan di layar, atau menang di berbagai kompetisi ketika film dilombakan. Yang terakhir sangat penting, karena ada beberapa kawan yang mengatakan: “Selamat film karyamu sangat berhasil.” Hal ini disampaikan saat satu film karya tim dokumenter DAAI Refleksi menjadi pemenang di ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2010.
Bagi saya, tujuan film itu dibuat bukan untuk memenangkan satu atau bahkan beberapa kompetisi. Semua film yang kami buat bertujuan memberi kesadaran kepada masyarakat luas terhadap satu hal atau persoalan yang kurang atau tidak menjadi perhatian publik. Tujuan berikutnya adalah agar ada dampak langsung terhadap isu atau mungkin juga subyek yang kami angkat dalam fim dokumenter tersebut. Apa artinya bila film kami menang di berbagai kompetisi, tetapi hal yang lebih penting yang diangkat atau diceritakan dalam film dokumenter tersebut tidak terpengaruh secara positif?
Dalam konteks yang sama, ada pertanyaan lain yang juga penting diajukan. Bila sebuah film dokumenter dikatakan bagus atau menarik, sesungguhnya siapa pemilik cerita bagus itu? Pembuat film atau subyek yang diangkat dalam dokumenter tersebut? Menurut saya terlalu sombong bila seorang pembuat dokumenter mengakui bahwa film yang dibuatnya jadi menarik karena kerja kerasnya sendiri. Subyek dalam film dokumenterlah yang sejati pemilik cerita menarik itu. Tugas pembuat film dokumenter cuma memindahkan cerita subyek ke dalam media audio visual. Bahwa pembuat dokumenter harus memiliki keterampilan khusus, itu hanyalah persoalan teknis. Keterampilan yang tinggi tetapi tanpa ada subyek yang memiliki cerita menarik, film dokumenter yang dibuat hanya akan jadi omong kosong belaka. Maka sudah selayaknyalah dengan rendah hati harus dikatakan bahwa apresiasi tertinggi patut ditujukan kepada subyek dalam film dokumenter kita. (art)
Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
