Arsip untuk Catatan-Catatan kategori

Respect Dalam Sepotong Roti

Posted in Catatan-Catatan on Februari 13, 2009 by ariaristides

Suatu sore sendirian aku tergopoh-gopoh menyiapkan suatu acara. Ini adalah hukum mutlak, suatu hal yang dilakukan tergesa-gesa pasti ada saja kurangnya. Notebook yang tidak tersambung dengan LCD, suara yang tidak keluar di sound system, hingga peserta acara yang tak tepat waktu.

Aku setengah berlari mnuju meja kerjaku untuk mengambil daftar hadir peserta yang tetinggal. Seperti biasa meja kerjaku dalam keadaan berantakan. Ini adalah salah satu contoh seolah-olah aku sibuk dan bekerja keras.

Diantara kertas-kertas, koran dan buku-buku yang tak teratur, ada sepotong roti. Jangankan di atas meja sendiri, di dapur, di kulkas, atau bahkan di meja bos kalau ada makanan yang kuinginkan pasti kusikat. Sepotong roti di atas mejaku seperti memprovokasi. Aku menyambarnya, lalu sambil bergerak cepat kembali ke ruang meeting, aku memindahkan roti itu kemulutku. Roti habis tak lebih dari 30 detik.

Tapi siapa sangka sepotong roti yang sudah busuk diususku dan sudah jadi kotoran yang mungkin sudah aku buang di lubang WC ternyata menyisakan masalah.

Sang penaruh roti (aku menyebutnya penaruh, karena ia sekedar menaruh bukan memberi dengan sepengetahuanku) merasa aku tidak respect terhadap apa yang telah dilakukannya. Ia memprotesku. Tak ada pertanyaan “dari siapa ini?” terlebih tak ada ucapan terima kasih yang kusampaikan padanya. Ia protes atas itu semua.

Tak bermaksud membela diri, semua itu sesungguhnya berjalan begitu saja. Kalaupun ada yang terlupa bukankah itu kealpaan yang wajar saja? Terlebih saat itu aku memang sedang ribet dengan persiapan suatu acara. Kalau mau dipikir lebih jauh, bukankah tak berlebihan bila dalam satu relasi yang bukan lagi sebatas teman akan banyak hal yang berjalan tanpa perlu disertai ungkapan-ungkapan lagi?

Tapi sang penaruh roti di mejaku berpikir lain. Aku harusnya bertanya. Aku harusnya berterima kasih atas tindakannya itu. Aku harusnya menaruh respect dalam sepotong roti. Aku lantas berpikir dari sisi yang lain. Apakah si penaruh roti di atas mejaku itu melakukan itu karena mengganggap aku sebagai seorang yang istimewa atau dia menaruh roti itu dalam rangka ingin mendapatkan ucapan terima kasih? Kalau memang tujuan yang kedua yang ingin dicapainya, mengapa tidak ia berikan saja sepotong roti itu pada seorang pengemis? Aku berani bertaruh, pengemis pinggir jalan yang diberi sepotong roti pasti tak akan lupa mengucapkan kata terima kasih dan mungkin saja ditambah bonus sederet doa-doa darinya.

Aku tak habis pikir bila ia menaruh roti di atas mejaku sebagai ungkapan bahwa aku adalah seorang yang istimewa baginya, lantas kenapa dihari berikutnya ketika roti itu sudah masuk ke dalam septic tank, ia justru menjadikan kejadian itu sebagai persoalan disertai bumbu-bumbu tak sedap lainnya.

Sebagai seorang yang lebih dari sekedar teman atau sahabat, bagiku ada sekat-sekat yang telah lebur, yang seringkali dalam tiap tiap tindakan tidak lagi memerlukan ungkapan-ungkapan eksplisit.

Bagiku tak masalah ketika mentraktir sahabatku lalu setelah itu ia hanya bilang: “kenyang ya, tadi nasinya kebanyakan.” Tak masalah pula saat bersama sahabat-sahabat aku membayari mereka nonton, lalu selepas itu ada yang bilang: “Tuh kan film pilihan loe jelek!” yang lain menimpali: “Tapi tadi cewek yang samping gua cakep” Lalu yang terakhir bilang ke aku: “Abis ini traktir makan dong.” Kami tertawa bersama. Tapi mereka semua lupa, tak ada satupun diantara mereka yang mengucapkan terima kasih. Apakah itu masalah?

Baiklah…tak ada yang salah bila memberi sedikit respect dalam sepotong roti, atau respect dalam sepotong, sekeping, atau secuil apapun pemberian orang. Tapi tolong…beri aku respect yang lebih dibandingkan harga sepotong roti!

Note: Judul dalam tulisan ini bukan bermaksud tak memberi respect pada film Garin Nugroho: “Cinta Dalam Sepotong Roti” Dengan memberi judul yang mirip justru saya respect pada film itu.

Tak Apa Apa Lawan Pasti Ada Apa Apa

Posted in Catatan-Catatan on Februari 10, 2009 by ariaristides

Aku mengartikan “tak apa-apa” untuk tempat duduk di kereta yang kuberikan untukmu dipagi hari perjalanan kita. Sementara sebentar kemudian kamu justru tertidur. Aku hanya diam berdiri memandang dan tetap berpikir “tidak apa-apa.”

Aku mengartikan “tak apa-apa” untuk langkahku yang kuperlambat, namun kau masih saja berjalan dibelakangku, padahal aku sudah pernah sampaikan keberatanku. Namun aku berpikir, uh…baiklah tak apa-apa.

Aku paham betul arti “tak apa-apa” ketika dimalam yang tertutup lebat hujan aku mengantarmu menemui seseorang yang sangat berarti buatmu. Sementara aku hanya bisa termangu ditemani basah air disudut stasiun. Kau tau apa yang kupikirkan saat itu? Dipikiranku hanya ada: “it’s oke, tak apa-apa.”

Malam setelah hari kerja yang melelahkan juga menjemukan, sesungguhnya aku ingin menutup hari dan memanfaatkan sisa waktu bersamamu. Tapi apa yang kau lakukan? Sepanjang perjalanan kau sibuk dengan handphonemu, seolah itu adalah alat bantu pernafasanmu. Lalu ketika kereta yang mengantarkan kita tiba ditujuan, katamu: “kita berpisah disini saja,” padahal aku masih ingin sedikit saja nikmati waktu bersamamu. Aku berusaha tersenyum dan berpikir dalam hati, “tidak apa-apalah.”

Bahkan suatu ketika saat kau mengatakan: “aku harus turun disini,” dan aku harus melihatmu turun mendahuluiku, aku tersenyum dan melambaikan tangan. Aku tak ingin mengakhiri malam dengan kekecewaan dan aku menyimpan kalimat dalam hati: “tidak apa-apa kok.”

Sebaliknya apa yang kau pikirkan, ketika aku asyik saja makan dan berbincang dengan teman-teman lain? Kupikir itu wajar saja dan tak ada pikiran jelek atau hal buruk yang sengaja kulakukan. Tapi apa yang kau pikir? Ini pasti ada apa-apa!

Apa yang terlintas dipikiranmu, ketika ditengah kesibukanku kutelan sepotong roti yang ada di atas mejaku. Aku menelannya tanpa permisi atau mengucap terima kasih, lalu apa yang kau pikir? Ini pasti ada apa-apa!

Lalu bagaimana ketika disela perjalanan kita, sepotong obrolan menjadi penuh kritik dan perdebatan. Bukankah itu hal yang biasa saja bagi jiwa yang sehat? Aku tau pasti apa yang kau pikirkan saat itu: Ini pasti ada apa-apa!

Dalam beberapa situasi cara berpikir “tidak apa-apa” adalah cara berpikir yang sangat sederhana namun hebat. Tapi dalam setiap situasi cara berpikir “pasti ada apa-apa” adalah cara berpikir busuk dari seorang irasional dengan jiwa kerdil yang nyaris sakit jiwa. Berhentilah dengan cara berpikir seperti itu. Dengan isi kepalamu yang penuh dengan “pasti ada apa-apa” itu barangkali suatu saat aku tak sanggup meyakinkan diriku bahwa ini tak apa-apa.

Aku tak tau berasal dari setan mana cara berpikir “pasti ada apa-apa” seperti itu. Barangkali aku salah. Karena mungkin saja setan tak pernah berpikir. Yang mungkin benar adalah bahwa kamu yang tak pernah mau menerimaku. Kamu yang tak mau menerima perbedaan sebagai sesuatu yang wajar yang justru memperkaya jiwa. Kamu yang selalu memupuk rasa curiga dan tak percaya, lalu memanennya menjadi cara pikir “pasti ada apa-apa!” Kamu yang tak mau menerimaku dengan cara pikir yang: “oke…ini tak apa-apa!”

Sekarang, apa kamu masih mau terus gunakan cara berpikir “pasti ada apa-apa” itu.

Okelah…tak apa-apa, itu semua terserah kamu!

Bhinneka Tunggal Ika: Berbeda Fisik Tetapi Tetap Satu

Posted in Catatan-Catatan on Januari 28, 2009 by ariaristides

Sudah hukumnya bahwa tulisan dalam huruf braille tentu bukan dibaca dengan cara dilihat tetapi diraba. Namun bagi saya yang terbiasa membaca dengan cara melihat tentu bukan hal yang mudah meraba titik-titik timbul huruf braille.

“Sebagai langkah awal bolehlah kalian membaca huruf braille dengan cara melihat” kata Ibu Mimi M. Lusli sang trainer pada “Pelatihan Sensitivitas Jurnalis Terhadap Persoalan Disabilitas.” Seperti anak SD yang mencontek, saya berlomba membaca titik-titik timbul yang ada dengan cara mencocokkan dengan simbol-simbol huruf braille.

Suasana makin seru tak ada beda dengan anak kecil yang mendapatkan mainan baru ketika saya mencoba menggunakan riglet, alat untuk menulis dalam huruf braille. Saya lirik teman-teman saya yang lain juga tak kalah antusiasnya dengan saya. Lagi-lagi kami terpaksa mengeja huruf per huruf apa yang akan kami tuliskan. Awalnya saya lupa bahwa menulis huruf braille harus dari kanan ke kiri, karena ketika seseorang menusukkan jarum di atas kertas yang dijepit oleh riglet, titik-titik akan timbul dibagian belakang kertas. Untuk membaca titik-titik timbul tersebut, sisi kertas harus dibalik, maka sisi belakang menjadi sisi depan. Lalu tulisan braille siap dibaca seperti tulisan umum dari kiri ke kanan.

Oleh Ibu Mimi kami hanya diminta menuliskan nama. Lalu Ibu Mimi yang memang tuna netra membacakan dengan rabaan jari tangannya. Ada yang benar, ada yang salah. Saya pikir wajar sajalah bila masih ada yang salah menulis nama sendiri, karena diantara kami tak ada yang pernah belajar menggunakan huruf braille. Kami yang kaum awas bisa jadi setiap hari membaca jutaan karakter huruf yang ada di jalan, angkutan, bungkus makanan, koran, internet, bahkan sebelum masuk toilet pun kita membaca tulisan agar tak salah masuk antara toliet pria atau wanita. Namun di dunia tuna netra yang membaca dengan huruf braille, kami adalah orang-orang yang buta huruf!

Saya selesai menulis. Ibu Mimi meraba tulisan braille buatanku. Ia membaca lalu berhenti mendadak. Ia mengernyitkan dahinya. Saya tersenyum, lalu semuanya tertawa.

“Menyesal saya membacanya” kata Ibu Mimi bercanda. Saya menuliskan: “Ari Cakep.”

Rasanya begitu menggembirakan pelatihan ini. Saya yakin bukan hanya saya saja yang merasakannya. Teman-teman saya yang lain, saya lihat juga seperti itu. Saya pikir simulasi hanyalah sebuah permainan. Saya dan teman-teman yang secara fisik tidak mengalami kecacatan hanya bermain-main dan singgah sebentar di dunia kaum cacat. Kita tersenyum, tertawa, gembira selama permainan itu. Tapi apakah kita masih bisa menunjukkan wajah yang sama bila suatu ketika kita tak hanya singgah sebentar, tapi menetap di dunia kaum cacat?

Bila anda seorang kameramen bayangkanlah anda menjadi seorang tuna netra. Bila anda seorang reporter bayangkanlah anda kehilangan dua tangan yang biasa anda gunakan untuk mengetik naskah. Bila anda seorang pimpinan, coba bayangkan suatu hari anda menjadi seorang tuna wicara sehingga tak mampu lagi bersuara memberi perintah kepada bawahan. Jujur saja bila saya membayangkan itu, hanya ada satu ungkapan sederhana dengan dua kata yang bisa mewakili situasi tersebut, yaitu: “Dunia Runtuh!”

Apakah memang sepert itu dunia kaum cacat yang sesungguhnya? Dunia yang runtuh porak poranda, hancur berkeping-keping? Saya yakin tidak! Kaum cacat juga punya semangat, punya harapan, punya cita-cita, dan punya keinginan maju. Pada hakikatnya penyandang cacat juga manusia yang sama seperti kita. Artinya mereka juga punya hak yang sama atas semua hal yang bisa kita nikmati didunia sebagai manusia normal. Tak ada satu alasan pun yang boleh diajukan guna mendiskreditkan penyandang cacat.

Untuk soal ini Ibu Mimi memberikan ungkapan yang sangat menarik. Sejak Sekolah Dasar kita dikenalkan pada slogan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Nah perbedaan itu seharusnya bukan hanya dimaknai sebagai perbedaan suku, ras, agama, warna kulit, bahasa atau perbedaan budaya semata. Perbedaan bentuk fisik pun harus diakomodir dalam slogan itu. Artinya jangan ada lagi kenyataan penyandang cacat dengan kondisi fisik yang berbeda dikategorikan sebagai warga negara kelas dua. Indonesia belum Bhinneka Tunggal Ika jika masih ada perlakuan yang tak adil bagi penyandang cacat.

Jadi mari sebelum kita sendiri masuk ke dunia kaum cacat dan menetap didalamnya, mulai sekarang ikutlah memperjuangkan hak dan kesetaraan bagi penyandang cacat, memperjuangkan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika secara sesungguhnya.