Diarsipkan di bawah: Fiksi
“Bu, mengapa Ibu tak pernah mau menceritakan asal usul namaku?” tanyaku disuatu sore yang cerah saat kami berbincang di teras rumah.
“Nama indah itu pemberian almarhum kakekmu. Mengapa kau tak bangga dengan nama itu?” Ibuku selalu membalas pertanyaanku dengan pertanyaan.
“Ini bukan soal bangga atau tak bangga bu. Sebuah nama dipilih tentu bukan tanpa alasan.” Kataku membantah Ibu.
Demikianlah selalu begitu terus menerus. Pertanyaan melahirkan pertanyaan, seperti sebuah kontradiksi yang antagonistik. Hingga akhirnya aku malas untuk mengetahuinya asal usul nama itu. Terakhir kali kuingat aku mempertanyakan asal usul namaku pada Ibuku saat aku lulus SMA. Nama tinggal nama, ia tak memberi arti apa-apa! Demikianlah aku terpaksa menyimpulkan.
Namaku Dik. Lengkapnya Dik Dopen. Aku lahir dan besar di desa kecil di Rembang, satu kabupaten di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Kabupaten Tuban di timur, Kabupaten Blora di selatan, dan Kabupaten Pati di barat. Nama yang terlalu asing dan aneh buatku sesungguhnya. Sekarang aku tak pernah lagi menanyakan asal usul namaku, meski rasa ingin tahu seolah terus mengikuti sejauh apapun aku pergi meninggalkan rumah kelahiranku.
Hingga aku dewasa dan mampu menentukan langkahku sendiri, aku masih juga tak tahu arti namaku. Aku kini telah menjadi senior accounting disebuah perusahaan besar di kota Jakarta. Disini, di kota yang irama hidupnya sangat jauh berbeda dengan desa asalku, tak banyak orang yang perduli dengan arti sebuah nama. Situasi ini membuatku cukup nyaman untuk tidak mengusik rasa penasaran yang terpendam hingga kini.
Seingatku selama aku tinggal di Jakarta hanya ada dua orang yang pernah menanyakan arti namaku. Pertama adalah manajer HRD tempat aku bekerja dan kedua adalah gadis penjaga kantin tempat aku biasa makan siang.
“Dik adalah panggilan sayang untuk seorang anak. Dopen adalah singkatan dari dokar penumpang. Nama itu diambil karena keluarga kami hidup dari dokar-dokar yang disewakan.” Begitulah jawaban asal yang sudah kusiapkan. Meski asal tapi lumayan mujarab untuk menghentikan pertanyaan yang menggangguku. Orang yang diberi penjelasan biasanya geleng-geleng seakan setuju dengan keteranganku.
Sungguh ironis menurutku. Pemilik nama yang tak mengerti arti nama yang disandangnya. Bahkan secuil sejarahnya pun aku tak tahu. Waktu kecil dulu aku sering iri dengan nama teman-temanku yang begitu bersahaja, mudah diingat dan punya makna yang jelas. Bejo yang berarti beruntung, Pari yang namanya diambil dari Persatoean Amateur Repoeblik Indonesia (1), atau Slamet yang diambil namanya dari nama Gunung Slamet (2). Tapi Dik? Terlebih dengan Dopen-nya? Aku tak habis pikir apa artinya?
* * *
Ia orang yang begitu berbeda denganku. Dengan mata sipit dan kulit putihnya, ia begitu kontras denganku saat berjalan bersama. Lie Ni, namanya begitu sederhana. Bagiku ia perempuan Cina yang cantik. Meski tak pernah menyentuh kulitnya, aku merasakan kelembutan saat memandangnya, terlebih bila aku berjalan di sampingnya.
Asli keturunan Dalu Ren (3), ia memiliki perpaduan dua karakter yang konradiktif. Menurutku ia seorang perempuan modern namun sekaligus ahistoris. Untuk karakter yang kusebutkan terakhir ini, mungkin aku sama ahistorisnya juga. Ya, seorang yang tak mengetahui asal usul namanya adalah seorang yang ahistoris! Namun bila ditimbang kadar ahistorisnya mungkin ia lebih ahistoris dari aku.
Lie demikian aku biasa memanggilnya. Ia perempuan yang tak perduli dengan sejarah nenek moyangnya. Mengapa mereka yang berasal dari Cina bisa sampai ke tanah Jawa. Lie berpikiran modern. Ia menganggap tanah Jawa adalah tanah tumpah darahnya, tak perduli persoalan suku, meski jelas-jelas dengan mata sipit, rambut lurus dan kulit putihnya ia mewakili ras Cina. Lie bisa sangat marah bila ada yang bersikap rasis, terutama bila mempermasalahkan ke-Cinaannya. Lie tak pernah mau mendengar dongeng dari orang tuanya tentang asal usul mereka. Terlebih dari kakeknya yang masih hidup hingga kini, yang selalu mengobarkan semangat kecintaan terhadap leluhur dan tanah asal usul mereka, Lie bisa acuh saja mendengarnya.
“Sejarah Cina di tanah Jawa adalah sejarah pertikaian, aku tak ingin mendengarnya. Mendengar atau mengingatnya berarti melanggengkan pertikaian itu sendiri. Karena secara tak sadar pasti tumbuh benih-benih pertikaian baru.” Begitulah argumentasinya dengan bahasa yang begitu rapi dan lancar, saat aku menanyakan mengapa ia selalu tak antusias mendengar cerita sejarah yang disampaikan orang tuanya atau kakeknya.
* * *
Sejujurnya Aku dan Lie tak begitu akrab. Kami hanya berteman biasa. Pekerjaan kami yang berbeda membuat kami tak sering bertemu. Kami kenal melalui blog (4). Aku pengunjung setia blognya. Aku suka mengikuti cerita-cerita sederhana tentang bermacam pengalaman sehari-harinya. Ia bisa bercerita apa saja, mulai dari rasa jenuh dengan profesi jurnalis yang digelutinya, tentang anak-anak jalanan di Jakarta, tentang kerutan di wajah ibunya, hingga cerita sepele tentang sepotong coklat kesukaannya. Membaca cerita-ceritanya membuatku seolah sedang berjalan bersamanya. Bagiku ia seperti seorang sahabat lama. Sementara Lie hanya sekali-kali mengunjungi blogku. Ia selalu memberikan komentar yang sama, setiap kali masuk ke blogku: “Blog belum di update. Ditunggu sharingnya!”
Tak kusangka Lie begitu bersemangat ketika secara basa-basi aku mengajaknya berkunjung ke museum. Ini kejutan yang aneh buatku. Lie yang begitu ahistoris mau berkunjung ke museum? Saat itu aku berpikir, aku hanya ingin melakukan hal yang berbeda lepas dari rutinitas kesibukan pekerjaanku. Tapi entah apa yang Lie pikirkan?
“Besok aku ketemu temen dari amerika, selesai jam duaan gimana?” demikian sms darinya masuk saat aku mulai berbaring di kamar kos-ku.
Aku malas-malasan dan asal saja membalasnya. “Kalau mau jam sepuluhan. Kalau gak bisa ya kapan-kapan aja deh.”
“Wah gak niat nih! Gimana kalau lusa aja?” balas sms Lie tak lama setelah smsku terkirim.
“Kalau minggu itu hari tidurku seharian he he he..” aku asal lagi membalasnya.
“Ok deh besok hari sabtu jam 10. Kita ketemu dimana?” akhirnya Lie memutuskan. Namun sms terakhir ini hampir satu jam kemudian baru aku baca, karena aku terlanjur tertidur. Begitu membacanya aku buru-buru membalasnya, “Ok besok jam 10 kita ketemu di stasiun kota.” Pesan terakhirku terkirim. Jam menunjukkan pukul 23.11 Wib.
* * *
Menurutku pagi itu Lie terlihat begitu berbeda. Biasanya aku bertemu dia saat mengenakan seragam kerjanya yang sangat formal. Seragam formal membuatnya tampil dewasa, tepatnya membuatnya lebih tua dari umur sebenarnya. Namun kini, dengan t-shirt ketat berwarna putih bertuliskan Just Do It (5) dan dipadu dengan blue jeans Ia tampak begitu segar. Backpack hijau dipunggung tak lupa menemaninya. Senyumnya cerah, begitu aku muncul dihadapannya. Senyumnya khas senyum orang-orang yang bisa lepas dari jeratan rutinitas pekerjaan. Hari sabtu memang hari yang mampu menyihir orang-orang pekerja yang selama lima hari sebelumnya nyaris tanpa senyum, bisa tampil sangat manis seperti seorang artis sedang berakting. Tapi kebanyakan senyum manis itu hanya bertahan hingga hari minggu. Setelahnya, ramai-ramai orang berjamaah melagukan ungkapan: “I hate Monday.”
Langkah Lie begitu mantap sejak kakinya menapak anak tangga pertama Gedung Museum Bank Mandiri (6). “Aku sudah memimpikan masuk ke tempat ini sejak dua tahun lalu. Sejak tempat kerjaku pindah, setiap hari, setiap berangkat dan pulang kerja, aku melewati gedung ini. Tapi selama itu pula aku hanya bisa membayangkan bagaimana dan apa yang ada dalam gedung ini. Aku tak tahu mengapa seolah-olah ada suara yang berbisik mengajakku untuk singgah ke tempat ini.” Lie menjelaskan. Mendengarnya aku jadi paham mengapa Ia antusias dengan ajakan basa-basiku kemarin.
Kami sampai di ujung tangga yang dulunya barangkali menjadi ruang lobby.
“Kita ke kanan…” Lie berkata optimis seolah Ia sudah mengenal betul tempat ini. Sambil berkata demikian Ia menggandeng tangan kananku dengan tangan kirinya. Genggamannya erat tak beda dengan anak kecil yang kuatir ditinggal ibunya. Sesungguhnya aku tak begitu menyukai suasana seperti ini. Ada perasaan beda dan aneh yang sulit kuterjemahkan kedalam kalimat. Aku melirik sejenak pada genggam tangannya yang terasa begitu erat namun lembut di telapak tanganku. Aku merasa antara nyaman dan tak nyaman, antara bangga dan malu. Pendeknya semua sifat yang berkontradiksi muncul secara bersamaan, dan anehnya aku tak berbuat apa-apa selain membiarkan Lie menarik tanganku.
“Ayo Dik, tak tertarikkah kamu dengan semua ini?” katanya seolah melihat kebingunganku. Aku yang ditanya hanya diam saja. Sejenak Lie melemparkan pandangan keseluruh ruang. Aku melihat senyumnya, ada binar di matanya, seolah dunianya telah masuk ke dunia petualangan yang baru. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya di tanganku. Pada saat bersamaan, aku merasa baru saja lepas dari sengatan listrik ratusan volt.
Lie mengambil kamera digital dari tasnya. Pandang matanya mengincar Groot Boek (7) yang dilindungi semacam etalase kaca. Kamera digitalnya mulai beraksi. Aku hanya terdiam setelah sebelumnya aku mengambil jarak darinya. Setiap tekanan shutter kamera dengan bunyinya yang khas seperti menarik mundur hitungan waktuku. Entah berapa banyak Lie mengambil gambar Groot Book yang warnanya coklat dengan ujung-ujungnya yang mulai lapuk itu, sebanyak itu pula aku mundur ke tahun-tahun di masa laluku.
Pandang mataku seperti over exposure 8 Aku kembali ke saat dimana aku begitu memimpikan menjadi seorang jurnalis foto. Tapi cita-cita itu tak tercapai. Cita-cita yang tak kesampaian terkadang berdampak sama dengan orang putus cinta. Kita harus melupakannya karena bila mengingatnya itu berarti menyakiti diri sendiri. Dan cara manjur untuk melupakan itu semua adalah dengan cara membencinya.
Ya, bertahun-tahun sudah aku membenci dan meninggalkan dunia fotografi, bahkan hanya untuk menjalaninya sebagai hobby. Aku hanya ingin melupakan sakit hatiku karena cita-citaku tak mampu kuraih. Aku tak ingin lagi memotret atau bahkan dipotret! Hanya ada satu hal keterpaksaan dimana aku dengan berat hati harus berhadapan dengan kamera, yaitu saat melamar kerja di kantorku yang sekarang ini, aku diminta menyediakan pas foto.
Lie tak tahu hal ini. Entah apa yang dipikirkannya, ketika aku secara sengaja mengalihkan pandanganku agar mataku tak sempat memperhatikan secara detail kamera digital yang dipakainya, namun ia justru mendekatiku lalu menyorongkan kamera digitalnya kehadapan wajahku. “Gimana sih Dik memotret benda yang ada di dalam etalase kaca?” tanyanya.
Aku terpaksa melihat, terpaksa mengamati, dan terpaksa menyentuh benda bernama kamera. Ah, jantungku seperti memompa darah lebih cepat ke seluruh pembuluh darah. Dada berdegup-degup. Setelah sekian lama aku membencinya, aku seakan merasakan kekuatan magnet magis kamera seperti saat pertama kali aku mencobanya.
Jariku dan jari-jari Lie bersentuhan di belakang layar kamera digital miliknya. Aku tak tahu apakah karena kamera atau Lie Ni yang membuatku mabuk kepayang layaknya seorang yang mulai jatuh cinta. Meski gugup namun aku berusaha menutupinya agar Lie tak merasakan apa yang sedang berkecamuk dalam pikiranku. Aku menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan, kulihat wajah Lie tersenyum, senyum termanis diantara koleksi museum yang lusuh dan aku yakin Lie Ni tak tahu barusan saja aku merasakan sengat dahsyat diantara sentuhan kamera dan jari-jemarinya.
* * *
Tak butuh waktu lama untuk kembali menguasai teori fotografi yang pernah kupelajari. Meski telah bertahun-tahun aku membenci dan mencoba melupakannya, semua itu masih lekat menempel di otakku. Sejak itu dengan hanya bermodalkan kamera digital pocket pinjaman milik sahabatku, aku memotret seperti orang kerasukan. 476 frame perhari! Mungkin saja aku sudah kerasukan arwah fotografer. Almarhum fotografer Kevin Carter (9) barangkali.
Diam-diam aku terus mempertajam kemampuan memotretku untuk menarik perhatiannya. Memotret dan mendapakan perhatiannya adalah dua kombinasi lengkap yang sangat menyenangkanku. Setiap hari ada saja foto hasil bidikanku yang kukirimkan untuk Lie Ni. Foto bunga, kupu-kupu, burung di langit, senja di Stasiun Kota, kepadatan penumpang krl, dan lainnya. Macam-macam foto kukirimkan untuknya. Bahkan ada foto seorang anak kecil yang tercebur di Kali Angke yang kuambil sore hari ketika tak sengaja aku lewat disana. Foto itu aku beri judul 1740. Iseng saja sebenarnya aku memberi judul itu, karena momen itu kudapat pada sore hari kurang lebih pukul 17.40 Wib.
Lie Ni memberi komentar via email yang tak pernah kuduga sebelumnya:
“1740, tepatnya 9 Oktober 1740 dikenal sebagai black days adalah peristiwa pembantaian tak kurang dari 10.000 orang Cina di Batavia oleh VOC. Peristiwa ini terjadi karena warga Cina di Batavia dikuatirkan memberontak terhadap kekuasaan Belanda. Kali Angke adalah tempat yang paling banyak digunakan untuk membuang mayat pada peristiwa itu. Angke itu sendiri berarti aliran merah.”
Aku tak tahu apakah perasaanku salah atau benar. Kurasakan ada nada sedih atau mungkin marah dalam email yang ditujukan padaku. Yang pasti mulai kuyakini salah adalah penilaianku terhadap Lie Ni yang ahistoris. Lie ternyata bukan seorang gadis ahistoris. Ia paham sejarah bahkan sejarah Cina di tanah Batavia.
Sejak kejadian itu Lie Ni menghilang dari peredaran. Sms dariku tak berbalas. Kucoba menelpon hapenya pasif, hanya suara mesin yang menerimaku: “nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.” Ya, benar-benar Ia diluar jangkauanku! Email dariku pun tak berbalas.
Aku sibuk untuk sebuah pencarian yang sesungguhnya tak kutahu untuk apa. Aku juga mulai kehilangan keinginan memotret. Dua kombinasi lengkap yang menggembirakanku hilang hampir bersamaan. Kalaupun aku memotret, aku memotret dengan over atau under exposure. Kadang aku lebih suka memotret tanpa focus. Kehilangan Lie Ni berarti kehilangan fokus bagiku.
* * *
Suatu hari dimana aku tak mampu lagi menahan kerinduanku. Aku mengunjungi museum yang sama yang pernah aku kunjungi bersama Lie Ni. Aku memotret dan memotret. Suasana kunjungan saat itu tak terlalu ramai. Aku terduduk kelelahan di ujung tangga menuju lantai dua. Seorang petugas kebersihan – yang dari seragamnya aku tahu namanya Wagiman – menghampiriku.
“Capek mas?” tanyanya ramah sambil tersenyum. Belum sempat aku menjawab Wagiman sudah bicara lagi. “Masuk museum jangan sedih mas, museum ini mungkin sudah terlalu berat menanggung beban sejarah kelam, belum lagi upaya berat untuk bertahan di hari ini dan masa depan…” katanya seperti seorang filsuf mengetahui kesedihanku.
“Mari mas saya ajak ke tempat yang tidak semua orang bisa memasukinya” ajaknya.
Aku tersihir saja mengikuti tawarannya, seolah Wagiman adalah sahabat lama yang sangat kupercaya.
Wagiman mengajakku melewati tangga-tangga yang makin keatas makin mengecil. Tak tahu sudah berapa anak tangga kami lalui hingga akhirnya kami tiba di ruang terbuka, di atap gedung Museum Bank Mandiri. Kesibukan Kota terlihat jelas dari atas sini. Langit senja mulai memerah menambah takjub aku yang sama sekali belum pernah ada di tempat ini. Di belakangku kulirik Wagiman tersenyum. Mungkin ia sedang berpikir adalah pahala yang didapatnya ketika mampu membuat orang sedih jadi gembira.
Dari atas gedung aku memotret dan terus memotret. Beos, jalan raya, pekerja yang bergegas pulang, pengendara sepeda motor yang membuat macet jalan, pemberhentian busway, burung-burung kecil yang terbang bergerombol, tukang ojek sepeda, dan senja makin menggelap. Aku berhenti memotret.
Kusimpan kamera digitalku. Tiba-tiba aku ingin menelpon ibuku.
“Bu, mengapa Ibu tak pernah mau menceritakan asal usul namaku?” tanyaku.
“Nama indah itu pemberian almarhum kakekmu. Mengapa kau tak bangga dengan nama itu?” Ibuku selalu membalas pertanyaanku dengan pertanyaan, bahkan dengan kalimat yang selalu sama.
“Ini bukan soal bangga atau tak bangga bu. Sebuah nama dipilih tentu bukan tanpa alasan.” Kataku membantah Ibu. Demikianlah selalu begitu terus menerus. Pertanyaan melahirkan pertanyaan. Satu lagi senja terlewati dan aku belum tahu juga arti namaku.
* * *
Malam ini terasa bergerak menyiksa dengan begitu lambat. Aku rindu Lie Ni. Aku rindu kulit putihnya yang lembut. Aku rindu matanya yang sipit. Aku rindu segala yang ada padanya. Membuka blog adalah satu-satunya caraku menebus kerinduan. Aku tak percaya, artikel terakhir yang baru saja dipostingnya berjudul “Siapa Dik Dopen, Siapa Dirk Dourven?” Lie benar-benar bukan gadis yang ahistoris. Dengan huruf italic Diakhir postingnya dia menulis:
Aku mengagumi foto2mu Dik, aku mengagumi semua argumentasi yang lahir dari pikiranmu, aku mungkin bisa lebih dari sekedar mengagumi segala tentang kamu. Tapi keluargaku yang berpandangan kuno pasti akan sangat membencimu bila tahu namamu Dik Dopen seperti ucapan lidah jawa untuk nama Dirk Dourven (10). Yakinlah Mereka masih menyimpan dendam sejarah. Meski nama Dik Dopen dan Dirk Dourven mungkin hanya kebetulan. Atau mungkin itu semua bukan kebetulan? Carilah Dik, carilah arti namamu, jangan jadi ahistoris karena tak pernah tahu apa arti namamu. (Filipina, akhir September 2008
Aku tak memberi komentar untuk posting ini. Aku hanya tahu dia berada di Filipina. Perlahan kututup semuanya. Mataku berat. Malam makin menyiksa. “Selamat malam Nie…” hanya dalam hati.
* * *
Endnote:
1 Kegiatan radio amatir di Indonesia sudah ada sejak jaman kolonial. Semasa perang kemerdekaan RI para amatir radio di Indonesia juga aktif berjuang dengan peralatan dan keahliannya mempropagandakan semangat perjuangan. Mereka tergabung dalam wadah Persatoean Amateur Repoeblik Indonesia (PARI). Organisasi inilah yang kini dikenal dengan nama ORARI (Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia).
2 Gunung Slamet adalah salah satu gunung berapi yang ada di Pulau Jawa. Mempunyai ketinggian 3,432 meter dpl. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.
3 Dalu ren dari bahasa mandarin yang berarti Orang Dalu, sebutan bagi orang-orang Cina daratan yang tinggal di luar negeri. Diambil dari sebutan zhongguo dalu; secara harfiah berarti “daratan besar Tiongkok” (Mainland China dalam bahasa Inggris) yaitu wilayah Republik Rakyat Tiongkok yang tidak termasuk Hong Kong dan Makau serta Republik China di Taiwan namun termasuk provinsi Hainan (meskipun terpisah dari Tiongkok Daratan sebagai suatu pulau), Mongolia Dalam, Tibet dan Xinjiang.
4 Blog singkatan web log adalah bentuk aplikasi web berupa tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Situs web seperti ini dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari blog user. Media blog pertama kali dipopulerkan oleh Blogger.com, yang dimiliki oleh PyraLab sebelum akhirnya PyraLab diakuisi oleh Google.Com pada akhir tahun 2002.
5 Tagline terkenal dari Nike Inc. sebuah perusahaan terkemuka berpusat di Amerika Serikat yang memproduksi peralatan dan perlengkapan olah raga.
6 Museum Bank Mandiri terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat. Museum seluas 10.039 m2 ini pada awalnya adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia milik Belanda. Tahun 1960 gedung ini dinasionalisasi dan menjadi gedung milik Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor. Bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) pada 31 Desember 1968, gedung beralih menjadi kantor pusat Bank Export import (Bank Exim). Tahun 1999 diadakan merger 4 bank, yaitu: Bank Exim, Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) menjadi Bank Mandiri.
7 Groot Boek dari bahasa Belanda yang berarti buku besar. Buku Besar itu digunakan Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) untuk mencatat laporan keuangan yaitu rincian perkiraan perubahan debet dan kredit untuk dilaporkan di setiap akhir bulan, serta laporan keuangan dari agen-agen NHM di Surabaya, Semarang, Padang, dan Anyer. Buku ini berisi laporan tahun 1933-1937 yang ditulis tangan dengan sangat rapi, berukuran 67×54x13 cm, tebalnya 334 halaman dan bobotnya 28 kilogram.
8 Istilah dalam dunia fotografi untuk menerangkan kelebihan cahaya yang masuk melalui lensa saat pengambilan gambar, sehingga gambar yang dihasilkan menjadi silau. Lawan dari over exposure adalah under exposure.
9 Seorang fotografer pemenang Pulitzer Award 1994. Fotonya yang melegenda menggambarkan seorang anak Sudan yang kelaparan tergolek lemah di tanah lapang saat menuju kamp PBB untuk mendapatkan makanan, dibelakangnya seekor burung pemakan bangkai menunggu. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana keadaan anak itu, setelah foto tersebut memenangkan Pulitzer Award dan dipublikasikan oleh berbagai media di seluruh dunia. Tak lebih dari tiga bulan setelahnya, Kevin Carter ditemukan bunuh diri.
10 Dirk Durven atau Diederick Durven (1729 – 1731) adalah Gubernur Jenderal VOC ke-22 yang dipulangkan ke Belanda karena kasus memeras orang Cina di Batavia. Tindakannya tersebut telah memunculkan benih dendam dari orang-orang Cina di Batavia yang kemudian dibawah tanah menyiapkan pemberontakan melawan Belanda. Terlebih ketika diberlakukan aturan bahwa orang Cina di Batavia harus memiliki surat ijin khusus. Orang Cina yang tidak memiliki surat ijin ditangkap dan dipekerjakan di Sailan. Ada kabar dari kalangan Cina mengatakan, mereka yang dibawa ke Sailan ternyata ditenggelamkan di laut.
Diarsipkan di bawah: Fiksi

Aku adalah sebuah jalan, Jalan Lurus namaku.
Sesuai dengan namaku, aku harus lurus saja, tidak boleh berbuat lain. Sebenarnya aku tak begitu suka terus menerus lurus, tetapi mereka sudah terlanjur menamakanku demikian. Mereka suka sekali mengulang-ulang namaku yang indah, seolah-olah meyakinkanku bahwa memang sudah sepantasnya aku disebut Jalan lurus.
Sebagai jalan tentu aku tidak begitu suka jika tidak boleh berbuat lain kecuali berusaha untuk tetap lurus, tetapi mau apa lagi, mereka menginginkanku demikian, sesuai dengan namaku. Aku tak tahu kenapa begitu, aku juga tak tahu apakah nama itu semacam anugerah atau kutukan, tetapi apa pula bedanya bagiku? Aku mungkin telah dianugerahi watak lurus, atau telah dikutuk untuk lurus.
Sebenarnya, seperti yang telah kukatakan tadi, Jalan Lurus adalah nama yang indah, setidaknya dibanding dengan Jalan Berkelok atau Jalan Menikung, apalagi Jalan Buntu. Yang selama ini menjadi biang pertanyaanku adalah kenapa mereka suka sekali mengulang-ulang namaku entah berapa kali setiap hari. Aku tak tahu apakah dengan berbuat itu mereka merasa bahagia, atau merasa nikmat – moga-moga saja demikianlah adanya.
Mereka mungkin tidak mengetahui akibat semua itu bagiku, yakni bahwa apa pun yang terjadi aku harus tetap lurus. Bagaimana seandainya aku jadi gila sebab tidak punya hak untuk berbuat lain kecuali berusaha terus menerus agar tetap lurus? Siapa yang mau bertanggung jawab? Apakah aku harus bertanggung jawab atas segala hal yang diakibatkan oleh kelurusanku meskipun merekalah yang telah memberikan nama itu untukku, hal yang sama sekali bukan kehendakku?
Bayangkan, aku harus lurus terus meskipun mendaki bukit, menuruni lembah, menyeberang padang, dan menempuh gurun dan tentu tidak ada diantara mereka yang mau tahu jika pada suatu hari nanti aku capek dan tak bisa berbuat lain kecuali ikut-ikutan menyebut-nyebut namaku sendiri, entah untuk apa.
Aku adalah sebuah jalan, Jalan Lurus namaku.
* Sapardi Djoko Damono (Kumpulan Cerpen “Membunuh Orang Gila.” Penerbit Buku Kompas, 2006)
foto: Ari Trismana lokasi: Lanud TNI AD Blangbintang, NAD
Diarsipkan di bawah: Fiksi
Ini adalah tulisan lamaku yang sempat kutemukan. Banyak tulisan lain yang tercecer dan belum sempat kutemukan. Coba kalo dari dulu udah kenal blog…

Benar-benar aku tak mengenalimu, saat itu aku adalah camar yang terbang gelisah menjelang senja, aku adalah juga orang-orang dengan wajah murung berjalan bergegas dalam kesendirian. Ingatanmu bagai belati tajam dan sapaanmu adalah teriakan yang tidak hanya menyadarkan lamunan berjalanku, tapi juga sempat menghentikan kesibukan dalam isi kepala orang-orang lalu menukarkannya dengan pandangan mata yang kecut. Kau adalah sahabat kecil dan remajaku. Masa dimana kita melukis kanvas polos dan membentuk tanah liat menjadi angan-angan masa depan. Sepuluh tahun adalah waktu yang melelahkan untuk terus mereka-reka membayangkan perubahan wajahmu ketika angka usia terus bertambah, tetapi ini juga bukan waktu yang cukup untuk melupakan kegembiraan masa kecil dan kenakalan masa remaja kita.
Sebagai tanda siraman hujan pada ladang rindu yang gersang, tidak hanya kita leburkan erat kepalan tangan, tapi kita juga saling memeluk, rasanya seperti bayi yang rindu pada pelukan ibu. Kugenggam erat ribuan helai rambut sebahumu yang sebagian mulai kehilangan warna gelapnya, kutepuk-tepuk pipimu seolah ingin terus memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Kau begitu banyak berubah, wajah kuat dan tatapan mata yang meluapkan rasa percaya diri tergusur oleh tubuhmu yang terlihat renta dan letih seperti daun kelapa kering bergantung di dahan menunggu angin yang hendak menggugurkan. Aku begitu takjub bahwa garis nasib yang kadang tak semuanya mampu kita rancang, yang begitu liar menggores dan mencoret hidup, akhirnya bersilangan pada suatu waktu, tempat, dan keadaan yang tak teduga. Kau pun sama tak percayanya denganku, terlonjak terkekeh-kekeh mentertawai nasib yang mempertemukan kita. Disini ribuan kilometer jaraknya dari Jakarta, kita bertemu. Nasib mempertemukan kita dalam mendung tanah Aceh.
Saat bertemu denganmu belum genap sebulan aku berada di bumi yang bergejolak ini. Aku datang sebagai salah seorang dalam rombongan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Aceh. Seperti biasa menjelang senja setelah semua kewajiban kerja dilunasi dan sebelum matahari beristirahat digantikan tugasnya oleh malam, aku berjalan menyusuri jalan aspal, jalan setapak berbatu tajam, sawah-sawah gersang, dan kampung-kampung pemukiman penduduk untuk memotret kehidupan mereka.
Pada awalnya yang kulakukan hanyalah sekedar mengambil gambar, mencetak kenyataan hidup mereka keatas kertas foto dan file-file dalam komputer, tapi beberapa hari berjalan makin kurasakan udara kecemasan di tiap nafas yang mereka hembuskan. Tak jarang udara yang mereka hirup adalah oksigen yang beraroma mesiu yang belum lama dilepaskan dari senjata-senjata tentara. Di sini kecemasan seperti wabah penyakit yang menjalar, menular melalui udara dan pandangan mata, masuk kesetiap aliran darah dan detak jantung hidup siapa saja, tak terkecuali aku yang hanya pendatang. Sejak itu aku tak sekedar mengambil gambar, aku benar-benar larut memotret pisau berkarat yang menancap dikehidupan mereka. Penderitaan perempuan-perempuan malang yang menjanda karena ditinggal suami dan anak laki-lakinya entah karena menghilang atau dihilangkan; atau kepedihan yang mengalirkan hujan air mata seolah hendak memadamkan api yang membakar kampung dan hanya menyisakan arang bagi mereka; juga tak sedikit anak-anak yang belum lancar mengeja namanya sendiri terisak-isak menangis dengan leleran air mata bercampur ingus dan ludah diwajahnya, menggaruk-garuk bumi karena harus terpisah atau kehilangan orang tua yang mereka sayangi.
Aku menceritakan pengalamanku dengan tak lupa berterima kasih kepadamu. Ingatkah kau waktu SMA dulu, kau mencuri pinjam kamera kakakmu yang wartawan itu untuk mengajari aku memotret, dan ketika kakakmu tahu ia menjadi amat berang karena kamera itu adalah nafas dan nyawa hidupnya. Dari situ aku mulai kenal kamera, lensa, speed, diafragma, atau sudut pandang. Kau tidak hanya mengajariku cara mengambil gambar, tapi juga mengingatkan bagaimana menyelami hidup agar gambar yang diciptakan benar-benar hidup!
Kau tersenyum bangga ketika kupamerkan kamera digital milikku dari seri terbaru merk terkenal dengan lensa tele-nya, dengan alat ini aku membuat penduduk dan anak-anak di pelosok kampung memandang kagum bercampur heran, seperti tentara yang mengikuti perintah komandannya mereka berbaris dibelakang mengekori sejauh perjalananku.
“Bagaimana cerita hidupmu sekarang Surya?” pertanyaan ini sekaligus menghentikan cerita tentang diriku sendiri, karena sejak awal ceritaku, aku tak melihat sinar matanya yang dulu terik, aku tak mendengar kalimat-kalimat yang menghentakkan gairah hidup yang keluar dari mulutnya. Yang terpampang di benakku hanyalah bahwa mata, wajah, dan gerak tubuhnya mengisyaratkan kehitam penatan hidup yang meratap berharap untuk segera diakhiri. Badannya condong ke depan dan kepalanya sering tertunduk layu menatapi tanah dan ujung kaki seolah lehernya tak mampu lagi menyangga, sementara dua lengannya tampak bergantung apa adanya, di tangan kanan antara jari tengah dan telunjukknya selalu terselip batang rokok yang tak putus sambung menyambung mengiringi dengus nafasnya, yang selalu dimain putarkan jari-jarinya layaknya ia ingin berbagi kepusingan hidupnya dengan batang rokok itu.
“Yah beginilah hidupku sekarang, barangkali saat ini lukisan nasibku adalah lukisan berwarna gelap pekat,” perkataannya seakan-akan ingin memperkuat dugaan-dugaan dalam pikiranku.
“Arus gelombang hidupku memang sedang berbalik. Tiga tahun lalu aku menikah dengan gadis Aceh dan kami memutuskan tinggal dan menetap di Aceh. Tetapi sekitar empat bulan yang lalu, ketika dalam perjalanan dari Medan ke Aceh, istriku yang saat itu sedang hamil anak pertama beserta mertua laki-lakiku menghilang, dan sampai detik ini aku tak tahu beritanya. Sejak itu kutinggalkan pekerjaanku sebagai salah seorang pengawas di perusahaan perminyakan, aku terus berusaha mencari, bertanya pada seluruh kerabat dan kenalan, dan berputar hampir di setiap pelosok Aceh. Aku tahu setiap usaha setidaknya melahirkan harapan baru, meskipun tidak semua harapan mampu melahirkan kenyataan.” Diantara asap rokok yang dilepaskan berbarengan dengan helaan nafas panjang, terasa betul olehku bahwa perjalanan hidupnya adalah langkah kaki yang digelayuti sarat beban dan harus menyusuri jalan becek berlumpur.
Aku terbengong mendengar cerita nasibnya yang bagai mata angin berlawanan arah dengan lintasan nasibku. Benar bahwa aku menyaksikan dengan mata dan merasakan langsung dengan nafasku penderitaan orang-orang yang mungkin tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, tapi hal itu tak pernah menyiksaku dalam murung dan kecemasan yang berkepanjangan. Barangkali kecemasanku berkurang atau lebih tepatnya habis ketika aku membagi-bagikan makanan, obat, baju, celana, sarung atau selimut kepada mereka.
Ketika dalam mendung Aceh kita bertemu, kurasakan betul bahwa kecemasanmu hanyalah satu titik kecil dari gelombang besar kecemasan rakyat Aceh, tapi itu bagai tamparan di muka dan tonjokkan di dada yang membuat nafas tersengal dan segera sadar bahwa penderitaan hidup manusia lain sesungguhnya adalah penderitaanku juga. Kusadari pula bahwa saat ini kau tidak sedang menciptakan gambar yang benar-benar hidup, tapi kau sedang ada dalam gambar hidup itu, berusaha menjalaninya agar tetap hidup. (Depok, 5 Agustus 2003)
Illustrasi: http://www.minstrum.net/images/art/tlj2/dreamfall_art_044.jpg