<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ari Aristides</title>
	<atom:link href="http://ariaristides.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ariaristides.wordpress.com</link>
	<description>Pemberontakan adalah hak!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Dec 2011 15:49:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ariaristides.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ari Aristides</title>
		<link>http://ariaristides.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ariaristides.wordpress.com/osd.xml" title="Ari Aristides" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ariaristides.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>JURNALISME CINTA KASIH ATAU JURNALISME DIAM?*</title>
		<link>http://ariaristides.wordpress.com/2011/02/09/jurnalisme-cinta-kasih-atau-jurnalisme-diam/</link>
		<comments>http://ariaristides.wordpress.com/2011/02/09/jurnalisme-cinta-kasih-atau-jurnalisme-diam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 09:08:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariaristides</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan-Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariaristides.wordpress.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sebagian besar dari kita mungkin tak tahu dimana letak Kampung Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Mendengar namanya pun mungkin baru kali ini. Meski demikian tanpa beranjak dari kursi, melalui pencarian dengan menggunakan peta google kita dapat mengetahui letak geografis Kampung Peundeuy. Berdasarkan perkiraan dibutuhkan waktu sekitar lima jam dari Serang, ibukota [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariaristides.wordpress.com&amp;blog=977680&amp;post=302&amp;subd=ariaristides&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-309" title="Shutterstock illustrasi" src="http://ariaristides.files.wordpress.com/2011/02/shutterstock-illustrasi2.jpg?w=300&#038;h=178" alt="" width="300" height="178" /><br />
Sebagian besar dari kita mungkin tak tahu dimana letak Kampung Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Mendengar namanya pun mungkin baru kali ini. Meski demikian tanpa beranjak dari kursi, melalui pencarian dengan menggunakan peta google kita dapat mengetahui letak geografis Kampung Peundeuy. Berdasarkan perkiraan dibutuhkan waktu sekitar lima jam dari Serang, ibukota Propinsi Banten untuk menuju ke Kampung Peundeuy, Cikeusik. Sementara untuk menuju ke ibukota Kabupaten Pandeglang, warga Peundeuy membutuhkan waktu tak kurang dari empat jam dengan menggunakan kendaraan bermotor melintasi jarak puluhan kilometer dengan jalan berbatu yang tak mulus. Sedikit gambaran letak geografis yang relatif terpelosok dan jauh dari hiruk pikuk kota tersebut akan membawa kita pada bayangan sebuah kampung yang sepi, tenang, dan damai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bayangan ketenangan itu hilang sudah, saat Minggu (6/2/2011) sekelompok massa menyerang Jamaah Ahmadiyah yang sedang mengadakan pertemuan. Aksi brutal di kampung kecil tersebut mengakibatkan 3 orang Jemaah Ahmadiyah tewas dan beberapa orang lainnya luka berat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah terjadi di Cikeusik, Pandeglang, Banten, amuk massa kembali terjadi pada Selasa (8/2/2011) di Temanggung, Jawa Tengah. Ratusan orang mengamuk, membakar, dan merusak tiga gereja serta beberapa kendaraan roda empat dan roda dua. Kerusuhan dipicu karena ketidak puasan massa terhadap putusan hakim PN Temanggung atas kasus penistaan agama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa daerah tenang di pelosok yang bahkan jauh dari pusat kekuasaan tiba-tiba menjadi dipenuhi semangat kebencian dan hasrat membunuh terhadap kelompok yang berbeda? Terlepas apakah kejadian ini bersifat spontan atau penuh dengan rekayasa, situasi seperti ini tentu sangat memprihatinkan, tak dapat ditolerir, dan harus dihentikan segera sebelum menyebar ke wilayah yang lebih luas lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di media massa banyak pihak sibuk membahas persoalan ini. Sebagian besar menuju pada satu kesimpulan bahwa pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas problem besar yang mengancam keberagaman atau pluralisme yang sudah ada sejak jaman prakemerdekaan di republik ini. Bagi yang percaya kredibilitas pemerintah untuk menangani persoalan ini silahkan mendukung langkah-langkah yang akan diambil pemerintah. Bagi yang meyakini bahwa pemerintahan yang dipimpin SBY telah impoten dan tak mungkin mampu mengatasi  persoalan ini, juga silahkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menurut saya diperlukan tindakan yang lebih konkrit daripada sebuah kecaman pihak yang tak percaya kepada pemerintah, dan juga tindakan lebih daripada sekedar retorika pemerintah yang prihatin dan menyerukan tindakan tegas terhadap individu atau kelompok yang berlaku brutal. Lantas tindakan konkrit apa yang bisa kita lakukan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebagai jurnalis terlebih jurnalis yang bergabung di media yang menyebarkan semangat jurnalisme genre baru yaitu jurnalisme cinta kasih, adalah dosa besar bila kita abai dan alpa bahwa sejatinya kita punya tanggung jawab yang besar baik secara moral maupun secara profesi, guna meredam atau bahkan menghancurkan semangat kebencian dan semangat mengingkari keberagaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam situasi seperti ini jurnalisme cinta kasih sebenarnya sedang diuji dengan dua kemungkinan. <em>Pertama,</em> apakah jurnalisme cinta kasih mampu memberi setitik harapan yang terus menyala dan menyebar menjadi terang di tengah gelap mata.  <em>Kedua, </em>mungkinkah jurnalisme cinta kasih yang menjernihkan hati manusia cuma slogan belaka. Langkah konkrit yang kita perlu jalani segera adalah mengisi tayangan-tayangan kita dengan sebanyak mungkin tema-tema yang mampu menggambarkan bahwa keberagaman itu adalah kekayaan yang sangat indah. Ini adalah kerja nyata untuk membuktikan kemungkinan pertama. Bila kita tak merespon situasi sekarang ini, pelan tapi pasti kita sedang membuktikan kemungkinan yang kedua. Sebagai jurnalis bila kemungkinan kedua yang ingin kita buktikan, saya ucapkan: Selamat datang di Jurnalisme Diam!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>*Catatan untuk kawan-kawan jurnalis DAAI TV</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariaristides.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariaristides.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariaristides.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariaristides.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariaristides.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariaristides.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariaristides.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariaristides.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariaristides.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariaristides.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariaristides.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariaristides.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariaristides.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariaristides.wordpress.com/302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariaristides.wordpress.com&amp;blog=977680&amp;post=302&amp;subd=ariaristides&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariaristides.wordpress.com/2011/02/09/jurnalisme-cinta-kasih-atau-jurnalisme-diam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99c8e6cef5e17130fa5cb2e78b71fb74?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariaristides</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ariaristides.files.wordpress.com/2011/02/shutterstock-illustrasi2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Shutterstock illustrasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Pembuat Dokumenter vs Subyek: Siapa yang Paling Bagus?”</title>
		<link>http://ariaristides.wordpress.com/2010/12/12/%e2%80%9cpembuat-dokumenter-vs-subyek-siapa-yang-paling-bagus%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://ariaristides.wordpress.com/2010/12/12/%e2%80%9cpembuat-dokumenter-vs-subyek-siapa-yang-paling-bagus%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 00:36:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariaristides</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan-Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariaristides.wordpress.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang membuat sebuah film dokumenter dikatakan berhasil? Bicara soal keberhasilan tentu juga tak bisa lepas dari bicara soal tujuan. Tujuan film dokumenter dibuat akan sangat berbeda-beda.  Akan sangat mungkin bila satu tema dibuat oleh dua pembuat dokumenter maka diantara mereka itu memiliki tujuan yang berbeda. Sederhananya tolok ukur keberhasilan film dokumenter bersifat sangat subyektif [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariaristides.wordpress.com&amp;blog=977680&amp;post=291&amp;subd=ariaristides&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/12/img00057-20101209-2240.jpg"><img class="size-medium wp-image-292 aligncenter" title="Anugerah Adiwarta Sampoerna 2010" src="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/12/img00057-20101209-2240.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang membuat sebuah film dokumenter dikatakan berhasil? Bicara soal keberhasilan tentu juga tak bisa lepas dari bicara soal tujuan. Tujuan film dokumenter dibuat akan sangat berbeda-beda.  Akan sangat mungkin bila satu tema dibuat oleh dua pembuat dokumenter maka diantara mereka itu memiliki tujuan yang berbeda. Sederhananya tolok ukur keberhasilan film dokumenter bersifat sangat subyektif tergantung pada tujuan yang mau dicapai oleh si pembuat film tersebut. Tujuannya bisa saja karena sekedar pesanan untuk mendapatkan uang, menyerang satu orang atau kelompok orang lewat film dokumenter pun dapat dilakukan, membela seseorang, propaganda politik, dsb.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya sebuah film dokumenter yang berhasil bukan sekedar diterima dan dikagumi oleh banyak penonton, mendapat tepuk tangan ketika film selesai diproyeksikan di layar, atau menang di berbagai kompetisi ketika film dilombakan. Yang terakhir sangat penting, karena ada beberapa kawan yang mengatakan: “Selamat film karyamu sangat berhasil.” Hal ini disampaikan saat satu film karya tim dokumenter DAAI Refleksi menjadi pemenang di ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2010.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya, tujuan film itu dibuat bukan untuk memenangkan satu atau bahkan beberapa kompetisi. Semua film yang kami buat bertujuan memberi kesadaran kepada masyarakat luas terhadap satu hal atau persoalan yang kurang atau tidak menjadi perhatian publik. Tujuan berikutnya adalah agar ada dampak langsung terhadap isu atau mungkin juga subyek yang kami angkat dalam fim dokumenter tersebut. Apa artinya bila film kami menang di berbagai kompetisi, tetapi hal yang lebih penting yang diangkat atau diceritakan dalam film dokumenter tersebut tidak terpengaruh secara positif?</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam konteks yang sama, ada pertanyaan lain yang juga penting diajukan. Bila sebuah film dokumenter dikatakan bagus atau menarik, sesungguhnya siapa pemilik cerita bagus itu? Pembuat film atau subyek yang diangkat dalam dokumenter tersebut? Menurut saya terlalu sombong bila seorang pembuat dokumenter mengakui bahwa film yang dibuatnya jadi menarik karena kerja kerasnya sendiri. Subyek dalam film dokumenterlah yang sejati pemilik cerita menarik itu. Tugas pembuat film dokumenter cuma memindahkan cerita subyek ke dalam media audio visual. Bahwa pembuat dokumenter harus memiliki keterampilan khusus, itu hanyalah persoalan teknis. Keterampilan yang tinggi tetapi tanpa ada subyek yang memiliki cerita menarik, film dokumenter yang dibuat hanya akan jadi omong kosong belaka. Maka sudah selayaknyalah dengan rendah hati harus dikatakan bahwa apresiasi tertinggi patut ditujukan kepada subyek dalam film dokumenter kita. (art)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariaristides.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariaristides.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariaristides.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariaristides.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariaristides.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariaristides.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariaristides.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariaristides.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariaristides.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariaristides.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariaristides.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariaristides.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariaristides.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariaristides.wordpress.com/291/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariaristides.wordpress.com&amp;blog=977680&amp;post=291&amp;subd=ariaristides&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariaristides.wordpress.com/2010/12/12/%e2%80%9cpembuat-dokumenter-vs-subyek-siapa-yang-paling-bagus%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99c8e6cef5e17130fa5cb2e78b71fb74?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariaristides</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/12/img00057-20101209-2240.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Anugerah Adiwarta Sampoerna 2010</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGIBARKAN BENDERA JINGGA PUTIH SETENGAH TIANG</title>
		<link>http://ariaristides.wordpress.com/2010/08/16/mengibarkan-bendera-jingga-putih-setengah-tiang/</link>
		<comments>http://ariaristides.wordpress.com/2010/08/16/mengibarkan-bendera-jingga-putih-setengah-tiang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 10:35:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariaristides</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan-Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariaristides.wordpress.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang paling banyak terlihat menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia? Sebagian mungkin berpikir tentang patriotisme. Lainnya lagi mungkin berpikir bahwa ini adalah waktu yang pas untuk bicara tentang arti nasionalisme. Menurutku yang paling banyak terlihat adalah bendera merah putih. Jauh sebelum tanggal 17 agustus, kampung-kampung, perumahan, jalan-jalan, kantor apalagi instansi pemerintahan semarak memasang bendera dan pernak-pernik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariaristides.wordpress.com&amp;blog=977680&amp;post=283&amp;subd=ariaristides&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Apa yang paling banyak terlihat menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia? Sebagian mungkin berpikir tentang patriotisme. Lainnya lagi mungkin berpikir bahwa ini adalah waktu yang pas untuk bicara tentang arti nasionalisme. Menurutku yang paling banyak terlihat adalah bendera merah putih.</p>
<p style="text-align:justify;">Jauh sebelum tanggal 17 agustus, kampung-kampung, perumahan, jalan-jalan, kantor apalagi instansi pemerintahan semarak memasang bendera dan pernak-pernik berwarna merah putih. Tak terkecuali di perumahan tempat aku tinggal. Bahkan ada yang sejak awal bulan agustus sudah memasang bendera merah putihnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya tak ada artinya buatku memasang bendera sebanyak apapun. Bagiku itu sama sekali tak berpengaruh dengan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Meski demikian pada akhirnya hari minggu tanggal 15 agustus 2010 aku memasang bendera di depan rumah. Itu pun setelah beberapa tetangga mempertanyakan mengapa aku tak juga memasang bendera merah putih menjelang peringatan kemerdekaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa tetangga masih didepan rumahku, saat aku mempersiapkan bendera dan tiangnya. Ada bapak-bapak dan ada juga ibu-ibu. Kata anakku yang baru berumur 3 tahun, bendera yang kusiapkan bukan bendera merah putih, tapi jingga putih. Aku dan beberapa tetanggaku spontan tertawa. Memang benar bendera itu sudah bertahun-tahun tak ada gantinya. Ada juga yang nyeletuk: “Ini bendera pusaka, jahitan Ibu Fatmawati.” Semuanya tertawa mendengar celetukan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Coba bayangkan, apa artinya ganti bendera dengan yang bendera yang baru, cerah warna merah putihnya, masih halus kainnya atau mungkin dengan ukuran yang lebih besar? Sementara nasib jutaan rakyat tahun demi tahun tak berganti! Sebagian besar rakyat tetap saja miskin hidupnya, tak mampu memenuhi makan 3 kali sehari, tak mampu memberi gizi yang cukup untuk anak-anaknya, tak mampu ke dokter atu rumah sakit saat mereka sakit, tak sanggup menyekolahkan anak-anak, bahkan tak sanggup menolak ketika minyak tanah yang biasa dipakai untuk memasak digantikan secara paksa dengan gas bertabung yang meledak disana-sini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya kemerdekaan, lebih tepatnya kemerdekaan untuk melakukan kegilaan dengan telanjang diperlihatkan oleh mereka yang pegang kuasa. Ada polisi, jaksa dan hakim yang jadi mafia peradilan. Ada petugas pajak dan pastinya para pimpinan institusi tersebut yang licik memainkan hitungan pajak untuk mengisi kantongnya sendiri. Ada banyak pejabat pemerintah yang merdeka ngomong semaunya, sementara rakyat dibuat sakit hati karenanya. Gilanya lagi tak sedikit anggota Dewan yang Terhormat bertingkah seolah-olah membela kepentingan rakyat, padahal yang gamblang terlihat adalah upaya memperkaya diri sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana seandainya saya pasang bendera setengah tiang Pak? Untuk merayakan naiknya harga-harga dan penderitaan rakyat yang tak pernah selesai?” tanya saya kepada seorang tetangga saya. Bapak itu hanya mengerutkan dahi. Saya tak tau apa artinya? Sementara Ibu-ibu yang mendengar pernyataanku, seolah menemukan kesempatan untuk bersuara. Mereka bersahut-sahutan, berapa harga cabe sekarang? Telur ayam aja mahal banget? Masa kita diminta seorang menteri untuk masak tanpa cabe? Kemaren yang tabung gasnya meledak, gak ada tuh dapet santunan? Pertanyaan dan pernyataan ibu-ibu itu seolah meluruhkan arti kemerdekaan yang dibanggakan entah oleh siapa.</p>
<p style="text-align:justify;">Kumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak terus saja mengoceh. Sementara aku memasang bendera jingga putihku. Aku tak lagi mendengar ocehan mereka. Sambil menegakkan tiang bendera, dalam hatiku bersenandung Lagu “Indonesia Tanah Air Beta” dengan lirik yang dipelesetkan menjadi:</p>
<p><em>Indonesia tanah air siapa? </em></p>
<p><em>Katanya tanah air beta </em></p>
<p><em>Indonesia sejak 45 Janjinya rakyat sejahtera </em></p>
<p><em>Nyatanya kini kubertanya </em></p>
<p><em>Petani digusur sawahnya </em></p>
<p><em>Buruh hidup miskin dan sengsara </em></p>
<p><em>Hingga akhir menutup mata&#8230; </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariaristides.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariaristides.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariaristides.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariaristides.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariaristides.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariaristides.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariaristides.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariaristides.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariaristides.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariaristides.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariaristides.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariaristides.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariaristides.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariaristides.wordpress.com/283/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariaristides.wordpress.com&amp;blog=977680&amp;post=283&amp;subd=ariaristides&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariaristides.wordpress.com/2010/08/16/mengibarkan-bendera-jingga-putih-setengah-tiang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99c8e6cef5e17130fa5cb2e78b71fb74?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariaristides</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Anak Tak Berdaya, Dijadikan Modus Baru Mengemis</title>
		<link>http://ariaristides.wordpress.com/2010/08/12/dua-anak-tak-berdaya-dijadikan-modus-baru-mengemis/</link>
		<comments>http://ariaristides.wordpress.com/2010/08/12/dua-anak-tak-berdaya-dijadikan-modus-baru-mengemis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 09:58:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariaristides</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan-Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariaristides.wordpress.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Di langit bintang benderang, berharap malam ini tak hujan. Sudah beberapa hari terakhir ini, setiap pulang kerja, saat melintas dengan sepeda motor di ujung Jalan Arif Rahman Hakim, Depok tepatnya di depan gym dan firness centre, mataku selalu tertuju pada seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil menggelar tikar di trotoar yang digunakan sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariaristides.wordpress.com&amp;blog=977680&amp;post=273&amp;subd=ariaristides&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Di langit bintang benderang, berharap malam ini tak hujan.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sudah beberapa hari terakhir ini, setiap pulang kerja, saat melintas dengan sepeda motor di ujung Jalan Arif Rahman Hakim, Depok tepatnya di depan gym dan firness centre, mataku selalu tertuju pada seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil menggelar tikar di trotoar yang digunakan sebagai parkiran motor para pengunjung gym dan fitness centre itu. Setiap kali melintas dan melihat mereka, selalu muncul perasaan haru atau mungkin lebih tepatnya sedih.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture119.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-274" title="Tidur di trotoar memancing iba" src="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture119.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Tempat mereka menggelar tikar seolah berebut ruang dengan banyaknya motor yang diparkir disitu. Kadang kedua anaknya yang masih kecil terlihat bercanda, sementara ibunya duduk termangu bersandar di tembok, seolah menghitung kendaraan yang sedang melintas. Di lain hari, saat aku melintas, mereka bertiga lelap tergeletak hanya beralaskan selembar tikar, melewati dingin malam dan debu jalanan tanpa jaket dan tanpa selimut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kesempatan atau mungkin lebih pantas disebut niatan untuk berhenti dan berbincang dengan mereka sebagai tanda perhatian, akhirnya datang juga. Sebelumnya aku membeli 4 kotak susu dan 2 bungkus biskuit untuk kuberikan kepada kedua anaknya yang masih kecil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Mobil dan motor menderu, melintasi malam, menyisakan asap dan debu</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mereka sudah berbaring berjajar saat aku memarkir sepeda motor lalu menyapa mereka. Yang paling kecil di sebelah kiri, ditengah anak yang lebih besar, dan ibunya disebelah kanan. Seperti menyambut seorang tamu, Ibu itu langsung bangkit saat aku berjongkok dan menyapanya dengan hati-hati. Sebentar kemudian anaknya yang besar ikut bangun mengawasiku dengan rasa ingin tahunya. Kantong plastik berisi susu dan biskuit kuberikan padanya. Namanya Rio. Umurnya hampir 6 tahun, dengan tubuh yang sangat kurus dan matanya yang sayu, Rio jelas bukan anak yang sehat dengan gizi yang cukup. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, saat meraih kantong plastik dari tanganku. Perhatiannya langsung berpindah ke isi kantong itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Di pinggir jalan bocah kecil lelap bermimpi</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Meski di tempat yang tak layak, anak yang paling kecil itu tidur nyenyak terlentang dengan mulut sedikit terbuka. Wajah <em>innocence-</em>nya terlihat kotor. Jangankan bersih-bersih dan gosok gigi sebelum tidur, ia bisa mandi teratur dua kali sehari pun aku tak yakin. Namanya Riko. Ia baru berumur satu setengah tahun. Anak itu mungkin baru belajar mengeja namanya sendiri, namun ia harus melewati malamnya di atas trotoar, lagu nina bobonya adalah deru mesin kendaraan bermotor, dan selimutnya adalah debu jalanan. Riko anak yang malang. Mungkin saja malam ini ia sedang bermimpi tidur di ranjang yang empuk, dengan selimut bergambar <em>teletubbies</em> yang berbau harum, sambil memeluk boneka <em>winnie the pooh.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Malam terus bergerak, adakah hati yang tergerak?</em><a href="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture1141.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-276" title="Bermalam di trotoar memancing iba2" src="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture1141.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lewat simpati yang kutunjukkan melalui 4 kotak susu dan 2 bungkus biskuit, obrolan dapat dimulai dengan mudah. Eti Erayama nama ibu itu. Usia 40 tahun mengaku asal Cibadak, Sukabumi, Jawa barat. Menurut ceritanya, dua bulan lalu suaminya meninggal karena sakit jantung. Ia memilih meninggalkan desanya demi melupakan kesedihan atas kepergian suaminya. Lucunya ia mengaku sudah 3 bulan lebih berada di Kota Depok menggelandang bersama dua anaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Obrolan terus mengalir. Si ibu bercerita dengan bersemangat seolah pengalamannya adalah pengalaman yang membanggakan. Ditengah obrolan, seorang perempuan muda yang diantar oleh laki-laki berkendara sepeda motor, mungkin suaminya, datang membawa satu kantong plastik besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Ibu ini ada selimut untuk anak ibu” katanya singkat. Setelah memberikan itu ia bergegas pamit. “Darimana Mbak?” aku spontan mengajukan pertanyaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Saya rumahnya disekitar sini aja,” ia menjawab, kemudian melanjutkan langkahnya, seperti tak mau memberi kesempatan padaku untuk mengajukan pertanyaan berikutnya. Mungkin ia punya prinsip bahwa perbuatan baik tak perlu diketahui oleh orang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Malam terus bergerak, keherananku pun terus bergerak</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku dan Ibu Eti melanjutkan obrolan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Setiap malam ada saja yang ngasih saya mas,” lanjut Ibu Eti. Aku mengangguk-angguk setengah heran mendengar ceritanya yang tanpa malu dan basa-basi. Di kampungnya, ia masih punya orang tua yang punya rumah dan cukup untuk tempat tinggal bersama. Orang tuanya mengijinkan Ibu Eti dan anak-anaknya untuk tinggal disitu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Bapak saya gak setuju kalau saya kesini ngelandang bareng anak-anak dan hidup dari belas kasihan orang-orang,” katanya meyakinkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kalau ibunya setuju?” tanyaku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kalau ibu saya mah setuju-setuju saja,” sambungnya tanpa ragu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Belum tuntas rasa heranku, Ibu Eti bercerita bahwa ia adalah lulusan S1 sarjana ekonomi!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Oh ya???” Refleks saja kuungkapkan rasa heranku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Semua orang memang gak percaya mas, kalo saya bilang saya sarjana ekonomi,” balasnya ingin membuatku percaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture116.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-278" title="Rio (5,5th) kurus dan terlihat tak sehat" src="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture116.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Orang normal mana yang mau percaya bahwa seorang lulusan fakultas ekonomi mau memilih hidup menggelandang dibandingkan hidup bersama orang tuanya di kampung? Alasannya klasik dan benar-benar tidak masuk akal bagiku. Sepeninggal suaminya, ia tak punya kerjaan dan merasa tak mampu menghidupi kedua orang anaknya yang masih kecil. Sementara beberapa bulan ini meski hidup menggelandang di Depok, setiap hari ia bisa mendapatkan uang dari pemberian orang yang lewat. Tak hanya itu, makanan baju-baju baru pun sering ia dapat. Ia mengaku lulusan Universitas Juanda, Bogor. Namun ketika kutelusuri lebih jauh untuk menguji kebenaran pernyataannya, seperti kapan ia masuk, kapan ia lulus, mata kuliah apa yang paling menarik, ia hanya menjawab lupa, lupa dan lupa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Lalu lintas mulai sepi,  ada seorang ibu tak punya hati seperti tiang traffic light yang cuma punya 3 warna.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setiap hari Ibu Eti bisa mendapat uang tak kurang dari 100 ribu rupiah! Sebuah angka yang besar untuk sebuah aktivitas yang nyaris tak membutuhkan apa-apa. 100 ribu perhari bahkan nilainya lebih besar dari rata-rata upah perhari seorang buruh di wilayah Jakarta. Ibu Eti bahkan pernah mendapatkan 750 ribu pemberian seorang bapak yang kebetulan melintas dengan mobil di Jalan Arif Rahman Hakim, Depok.  Itu adalah rekor pendapatan terbesarnya selama ia menggelandang (kenapa tak dicatatkan di Museum rekor Indonesia bu?).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menurutku Ibu Eti bukan sekedar menggelandang, tetapi ia menjalankan “inovasi baru” dalam mengemis. Baginya mengemis bukan lagi sekedar pasang wajah memelas, menengadahkan tangan sambil menggendong anak kecil, diperempatan lampu merah yang padat. Ia mengemis dengan cara: di malam hari membawa kedua anaknya yang masih kecil, tidur di trotoar jalan hanya beralaskan tikar saja. Ia tahu betul bagaimana membangun suasana dramatik dan menggerakkan hati orang yang melihatnya, tanpa perlu capek-capek pasang wajah memelas dan menengadahkan tangan. Aku yakin setiap orang yang melintas, terlebih mereka yang juga punya anak kecil pastilah tersentuh melihat dua anak kecil tak berdosa tertidur mengadu badan kecilnya dengan kerasnya beton paving block.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pemilihan lokasinya pun sangat tepat. Di Kota Depok pinggiran kota Jakarta. Hasilnya pastilah berbeda bila ia melakukan ini di Jakarta. Belum sempat selonjor meluruskan kaki, ia dan anak-anaknya pasti sudah diangkut oleh Satpol PP karena dianggap mengganggu keindahan kota.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Angin makin kuat berhembus. Dua anak kecil kedinginan.</em><em><a href="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture118.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-277" title="Rico (1,5th) dipaksa menggelandang oleh ibunya" src="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture118.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ibu Eti seolah tak perduli saat Riko balitanya menggulung-gulung badannya gelisah. Riko bahkan sudah keluar dari ujung tikar, namun si ibu membiarkannya saja. Selimut yang baru saja didapat tak dibuka dan diberikan kepada Riko.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Uang dari pemberian orang saya simpan. Kalau cukup, saya pulang kampung. Nanti kalau uang di kampung sudah habis, saya berangkat lagi kesini,” ujarnya menjelaskan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Saya juga punya simpanan kalung dan cincin emas, tabungan saya kalo ditotal ya adalah dua setengah juta,” katanya bangga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku hanya mengangguk-angguk menggigil bukan karena kedinginan, tapi karena rasa marah melihat ternyata ibu yang kuhadapi ini adalah seorang ibu yang tega mengorbankan kegembiraan serta kesejahteraan anak-anaknya dan tak diberi pilihan lain selain menggelandang bersamanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Angin makin kuat, malam ini tak ada hujan, tapi aku lelah.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tak ada alasan lain yang membuatku buru-buru menutup pembicaraan ini, selain aku muak! Bagaimana mungkin ada orang tua yang tak bertanggung jawab mengorbankan dua anaknya yang masih kecil menjadikannya sebagai alat untuk menggerakkan hati orang-orang, semata-mata hanya demi uang, sekali lagi hanya demi uang! <em>(art)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariaristides.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariaristides.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariaristides.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariaristides.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariaristides.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariaristides.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariaristides.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariaristides.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariaristides.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariaristides.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariaristides.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariaristides.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariaristides.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariaristides.wordpress.com/273/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariaristides.wordpress.com&amp;blog=977680&amp;post=273&amp;subd=ariaristides&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariaristides.wordpress.com/2010/08/12/dua-anak-tak-berdaya-dijadikan-modus-baru-mengemis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99c8e6cef5e17130fa5cb2e78b71fb74?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariaristides</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture119.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tidur di trotoar memancing iba</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture1141.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bermalam di trotoar memancing iba2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture116.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rio (5,5th) kurus dan terlihat tak sehat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/08/picture118.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rico (1,5th) dipaksa menggelandang oleh ibunya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saksikan Serial Dokumenter REFLEKSI Edisi Menembus Batas</title>
		<link>http://ariaristides.wordpress.com/2010/07/26/263/</link>
		<comments>http://ariaristides.wordpress.com/2010/07/26/263/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 05:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariaristides</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan-Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariaristides.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Salam Cinta Kasih, Tak dapat dipungkiri, hingga saat ini kaum difabel masih mengalami diskriminasi dalam berbagai bentuk. Semua diskriminasi seharusnya tidak terjadi bila seluruh elemen masyarakat sadar bahwa penyandang cacat juga punya hak yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Guna mempromosikan kesetaraan hak kaum difabel, DAAI TV bekerjasama dengan Pusat Kajian Disabilitas Universitas Indonesia memproduksi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariaristides.wordpress.com&amp;blog=977680&amp;post=263&amp;subd=ariaristides&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Salam Cinta Kasih,</em></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/07/public-poster-rfmb-copy-kecil2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-269" title="public poster RFMB" src="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/07/public-poster-rfmb-copy-kecil2.jpg?w=212&#038;h=300" alt="" width="212" height="300" /></a> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tak dapat dipungkiri, hingga saat ini kaum difabel masih mengalami diskriminasi dalam berbagai bentuk. Semua diskriminasi seharusnya tidak terjadi bila seluruh elemen masyarakat sadar</p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">bahwa penyandang cacat juga punya hak yang sama dengan anggota masyarakat lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Guna mempromosikan kesetaraan hak kaum difabel, DAAI TV bekerjasama dengan Pusat Kajian</p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Disabilitas Universitas Indonesia memproduksi 13 episode film dokumenter yang mengisahkan perjuangan kaum difabel. Saksikan program film dokumenter <strong>REFLEKSI</strong> Edisi <strong>Menembus Batas</strong> di <strong>DAAI TV</strong> mulai bulan <strong>Agustus – Oktober 2010</strong> setiap hari <strong>Selasa pukul 20.30 Wib.</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariaristides.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariaristides.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariaristides.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariaristides.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariaristides.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariaristides.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariaristides.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariaristides.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariaristides.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariaristides.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariaristides.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariaristides.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariaristides.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariaristides.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariaristides.wordpress.com&amp;blog=977680&amp;post=263&amp;subd=ariaristides&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariaristides.wordpress.com/2010/07/26/263/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99c8e6cef5e17130fa5cb2e78b71fb74?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariaristides</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ariaristides.files.wordpress.com/2010/07/public-poster-rfmb-copy-kecil2.jpg?w=212" medium="image">
			<media:title type="html">public poster RFMB</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
