Ari Aristides


Tak Apa Apa Lawan Pasti Ada Apa Apa
Februari 10, 2009, 6:55 am
Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan

Aku mengartikan “tak apa-apa” untuk tempat duduk di kereta yang kuberikan untukmu dipagi hari perjalanan kita. Sementara sebentar kemudian kamu justru tertidur. Aku hanya diam berdiri memandang dan tetap berpikir “tidak apa-apa.”

Aku mengartikan “tak apa-apa” untuk langkahku yang kuperlambat, namun kau masih saja berjalan dibelakangku, padahal aku sudah pernah sampaikan keberatanku. Namun aku berpikir, uh…baiklah tak apa-apa.

Aku paham betul arti “tak apa-apa” ketika dimalam yang tertutup lebat hujan aku mengantarmu menemui seseorang yang sangat berarti buatmu. Sementara aku hanya bisa termangu ditemani basah air disudut stasiun. Kau tau apa yang kupikirkan saat itu? Dipikiranku hanya ada: “it’s oke, tak apa-apa.”

Malam setelah hari kerja yang melelahkan juga menjemukan, sesungguhnya aku ingin menutup hari dan memanfaatkan sisa waktu bersamamu. Tapi apa yang kau lakukan? Sepanjang perjalanan kau sibuk dengan handphonemu, seolah itu adalah alat bantu pernafasanmu. Lalu ketika kereta yang mengantarkan kita tiba ditujuan, katamu: “kita berpisah disini saja,” padahal aku masih ingin sedikit saja nikmati waktu bersamamu. Aku berusaha tersenyum dan berpikir dalam hati, “tidak apa-apalah.”

Bahkan suatu ketika saat kau mengatakan: “aku harus turun disini,” dan aku harus melihatmu turun mendahuluiku, aku tersenyum dan melambaikan tangan. Aku tak ingin mengakhiri malam dengan kekecewaan dan aku menyimpan kalimat dalam hati: “tidak apa-apa kok.”

Sebaliknya apa yang kau pikirkan, ketika aku asyik saja makan dan berbincang dengan teman-teman lain? Kupikir itu wajar saja dan tak ada pikiran jelek atau hal buruk yang sengaja kulakukan. Tapi apa yang kau pikir? Ini pasti ada apa-apa!

Apa yang terlintas dipikiranmu, ketika ditengah kesibukanku kutelan sepotong roti yang ada di atas mejaku. Aku menelannya tanpa permisi atau mengucap terima kasih, lalu apa yang kau pikir? Ini pasti ada apa-apa!

Lalu bagaimana ketika disela perjalanan kita, sepotong obrolan menjadi penuh kritik dan perdebatan. Bukankah itu hal yang biasa saja bagi jiwa yang sehat? Aku tau pasti apa yang kau pikirkan saat itu: Ini pasti ada apa-apa!

Dalam beberapa situasi cara berpikir “tidak apa-apa” adalah cara berpikir yang sangat sederhana namun hebat. Tapi dalam setiap situasi cara berpikir “pasti ada apa-apa” adalah cara berpikir busuk dari seorang irasional dengan jiwa kerdil yang nyaris sakit jiwa. Berhentilah dengan cara berpikir seperti itu. Dengan isi kepalamu yang penuh dengan “pasti ada apa-apa” itu barangkali suatu saat aku tak sanggup meyakinkan diriku bahwa ini tak apa-apa.

Aku tak tau berasal dari setan mana cara berpikir “pasti ada apa-apa” seperti itu. Barangkali aku salah. Karena mungkin saja setan tak pernah berpikir. Yang mungkin benar adalah bahwa kamu yang tak pernah mau menerimaku. Kamu yang tak mau menerima perbedaan sebagai sesuatu yang wajar yang justru memperkaya jiwa. Kamu yang selalu memupuk rasa curiga dan tak percaya, lalu memanennya menjadi cara pikir “pasti ada apa-apa!” Kamu yang tak mau menerimaku dengan cara pikir yang: “oke…ini tak apa-apa!”

Sekarang, apa kamu masih mau terus gunakan cara berpikir “pasti ada apa-apa” itu.

Okelah…tak apa-apa, itu semua terserah kamu!



Bhinneka Tunggal Ika: Berbeda Fisik Tetapi Tetap Satu
Januari 28, 2009, 8:02 am
Diarsipkan di bawah: Catatan-Catatan

Sudah hukumnya bahwa tulisan dalam huruf braille tentu bukan dibaca dengan cara dilihat tetapi diraba. Namun bagi saya yang terbiasa membaca dengan cara melihat tentu bukan hal yang mudah meraba titik-titik timbul huruf braille.

“Sebagai langkah awal bolehlah kalian membaca huruf braille dengan cara melihat” kata Ibu Mimi M. Lusli sang trainer pada “Pelatihan Sensitivitas Jurnalis Terhadap Persoalan Disabilitas.” Seperti anak SD yang mencontek, saya berlomba membaca titik-titik timbul yang ada dengan cara mencocokkan dengan simbol-simbol huruf braille.

Suasana makin seru tak ada beda dengan anak kecil yang mendapatkan mainan baru ketika saya mencoba menggunakan riglet, alat untuk menulis dalam huruf braille. Saya lirik teman-teman saya yang lain juga tak kalah antusiasnya dengan saya. Lagi-lagi kami terpaksa mengeja huruf per huruf apa yang akan kami tuliskan. Awalnya saya lupa bahwa menulis huruf braille harus dari kanan ke kiri, karena ketika seseorang menusukkan jarum di atas kertas yang dijepit oleh riglet, titik-titik akan timbul dibagian belakang kertas. Untuk membaca titik-titik timbul tersebut, sisi kertas harus dibalik, maka sisi belakang menjadi sisi depan. Lalu tulisan braille siap dibaca seperti tulisan umum dari kiri ke kanan.

Oleh Ibu Mimi kami hanya diminta menuliskan nama. Lalu Ibu Mimi yang memang tuna netra membacakan dengan rabaan jari tangannya. Ada yang benar, ada yang salah. Saya pikir wajar sajalah bila masih ada yang salah menulis nama sendiri, karena diantara kami tak ada yang pernah belajar menggunakan huruf braille. Kami yang kaum awas bisa jadi setiap hari membaca jutaan karakter huruf yang ada di jalan, angkutan, bungkus makanan, koran, internet, bahkan sebelum masuk toilet pun kita membaca tulisan agar tak salah masuk antara toliet pria atau wanita. Namun di dunia tuna netra yang membaca dengan huruf braille, kami adalah orang-orang yang buta huruf!

Saya selesai menulis. Ibu Mimi meraba tulisan braille buatanku. Ia membaca lalu berhenti mendadak. Ia mengernyitkan dahinya. Saya tersenyum, lalu semuanya tertawa.

“Menyesal saya membacanya” kata Ibu Mimi bercanda. Saya menuliskan: “Ari Cakep.”

Rasanya begitu menggembirakan pelatihan ini. Saya yakin bukan hanya saya saja yang merasakannya. Teman-teman saya yang lain, saya lihat juga seperti itu. Saya pikir simulasi hanyalah sebuah permainan. Saya dan teman-teman yang secara fisik tidak mengalami kecacatan hanya bermain-main dan singgah sebentar di dunia kaum cacat. Kita tersenyum, tertawa, gembira selama permainan itu. Tapi apakah kita masih bisa menunjukkan wajah yang sama bila suatu ketika kita tak hanya singgah sebentar, tapi menetap di dunia kaum cacat?

Bila anda seorang kameramen bayangkanlah anda menjadi seorang tuna netra. Bila anda seorang reporter bayangkanlah anda kehilangan dua tangan yang biasa anda gunakan untuk mengetik naskah. Bila anda seorang pimpinan, coba bayangkan suatu hari anda menjadi seorang tuna wicara sehingga tak mampu lagi bersuara memberi perintah kepada bawahan. Jujur saja bila saya membayangkan itu, hanya ada satu ungkapan sederhana dengan dua kata yang bisa mewakili situasi tersebut, yaitu: “Dunia Runtuh!”

Apakah memang sepert itu dunia kaum cacat yang sesungguhnya? Dunia yang runtuh porak poranda, hancur berkeping-keping? Saya yakin tidak! Kaum cacat juga punya semangat, punya harapan, punya cita-cita, dan punya keinginan maju. Pada hakikatnya penyandang cacat juga manusia yang sama seperti kita. Artinya mereka juga punya hak yang sama atas semua hal yang bisa kita nikmati didunia sebagai manusia normal. Tak ada satu alasan pun yang boleh diajukan guna mendiskreditkan penyandang cacat.

Untuk soal ini Ibu Mimi memberikan ungkapan yang sangat menarik. Sejak Sekolah Dasar kita dikenalkan pada slogan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Nah perbedaan itu seharusnya bukan hanya dimaknai sebagai perbedaan suku, ras, agama, warna kulit, bahasa atau perbedaan budaya semata. Perbedaan bentuk fisik pun harus diakomodir dalam slogan itu. Artinya jangan ada lagi kenyataan penyandang cacat dengan kondisi fisik yang berbeda dikategorikan sebagai warga negara kelas dua. Indonesia belum Bhinneka Tunggal Ika jika masih ada perlakuan yang tak adil bagi penyandang cacat.

Jadi mari sebelum kita sendiri masuk ke dunia kaum cacat dan menetap didalamnya, mulai sekarang ikutlah memperjuangkan hak dan kesetaraan bagi penyandang cacat, memperjuangkan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika secara sesungguhnya.



“Seribu Satu Tanya Untuk Satu Nama”
Desember 11, 2008, 10:32 am
Diarsipkan di bawah: Fiksi

“Bu, mengapa Ibu tak pernah mau menceritakan asal usul namaku?” tanyaku disuatu sore yang cerah saat kami berbincang di teras rumah.

“Nama indah itu pemberian almarhum kakekmu. Mengapa kau tak bangga dengan nama itu?” Ibuku selalu membalas pertanyaanku dengan pertanyaan.

“Ini bukan soal bangga atau tak bangga bu. Sebuah nama dipilih tentu bukan tanpa alasan.” Kataku membantah Ibu.

Demikianlah selalu begitu terus menerus. Pertanyaan melahirkan pertanyaan, seperti sebuah kontradiksi yang antagonistik. Hingga akhirnya aku malas untuk mengetahuinya asal usul nama itu. Terakhir kali kuingat aku mempertanyakan asal usul namaku pada Ibuku saat aku lulus SMA. Nama tinggal nama, ia tak memberi arti apa-apa! Demikianlah aku terpaksa menyimpulkan.

Namaku Dik. Lengkapnya Dik Dopen. Aku lahir dan besar di desa kecil di Rembang, satu kabupaten di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Kabupaten Tuban di timur, Kabupaten Blora di selatan, dan Kabupaten Pati di barat. Nama yang terlalu asing dan aneh buatku sesungguhnya. Sekarang aku tak pernah lagi menanyakan asal usul namaku, meski rasa ingin tahu seolah terus mengikuti sejauh apapun aku pergi meninggalkan rumah kelahiranku.

Hingga aku dewasa dan mampu menentukan langkahku sendiri, aku masih juga tak tahu arti namaku. Aku kini telah menjadi senior accounting disebuah perusahaan besar di kota Jakarta. Disini, di kota yang irama hidupnya sangat jauh berbeda dengan desa asalku, tak banyak orang yang perduli dengan arti sebuah nama. Situasi ini membuatku cukup nyaman untuk tidak mengusik rasa penasaran yang terpendam hingga kini.

Seingatku selama aku tinggal di Jakarta hanya ada dua orang yang pernah menanyakan arti namaku. Pertama adalah manajer HRD tempat aku bekerja dan kedua adalah gadis penjaga kantin tempat aku biasa makan siang.

“Dik adalah panggilan sayang untuk seorang anak. Dopen adalah singkatan dari dokar penumpang. Nama itu diambil karena keluarga kami hidup dari dokar-dokar yang disewakan.” Begitulah jawaban asal yang sudah kusiapkan. Meski asal tapi lumayan mujarab untuk menghentikan pertanyaan yang menggangguku. Orang yang diberi penjelasan biasanya geleng-geleng seakan setuju dengan keteranganku.

Sungguh ironis menurutku. Pemilik nama yang tak mengerti arti nama yang disandangnya. Bahkan secuil sejarahnya pun aku tak tahu. Waktu kecil dulu aku sering iri dengan nama teman-temanku yang begitu bersahaja, mudah diingat dan punya makna yang jelas. Bejo yang berarti beruntung, Pari yang namanya diambil dari Persatoean Amateur Repoeblik Indonesia (1), atau Slamet yang diambil namanya dari nama Gunung Slamet (2). Tapi Dik? Terlebih dengan Dopen-nya? Aku tak habis pikir apa artinya?

* * *

Ia orang yang begitu berbeda denganku. Dengan mata sipit dan kulit putihnya, ia begitu kontras denganku saat berjalan bersama. Lie Ni, namanya begitu sederhana. Bagiku ia perempuan Cina yang cantik. Meski tak pernah menyentuh kulitnya, aku merasakan kelembutan saat memandangnya, terlebih bila aku berjalan di sampingnya.

Asli keturunan Dalu Ren (3), ia memiliki perpaduan dua karakter yang konradiktif. Menurutku ia seorang perempuan modern namun sekaligus ahistoris. Untuk karakter yang kusebutkan terakhir ini, mungkin aku sama ahistorisnya juga. Ya, seorang yang tak mengetahui asal usul namanya adalah seorang yang ahistoris! Namun bila ditimbang kadar ahistorisnya mungkin ia lebih ahistoris dari aku.

Lie demikian aku biasa memanggilnya. Ia perempuan yang tak perduli dengan sejarah nenek moyangnya. Mengapa mereka yang berasal dari Cina bisa sampai ke tanah Jawa. Lie berpikiran modern. Ia menganggap tanah Jawa adalah tanah tumpah darahnya, tak perduli persoalan suku, meski jelas-jelas dengan mata sipit, rambut lurus dan kulit putihnya ia mewakili ras Cina. Lie bisa sangat marah bila ada yang bersikap rasis, terutama bila mempermasalahkan ke-Cinaannya. Lie tak pernah mau mendengar dongeng dari orang tuanya tentang asal usul mereka. Terlebih dari kakeknya yang masih hidup hingga kini, yang selalu mengobarkan semangat kecintaan terhadap leluhur dan tanah asal usul mereka, Lie bisa acuh saja mendengarnya.

“Sejarah Cina di tanah Jawa adalah sejarah pertikaian, aku tak ingin mendengarnya. Mendengar atau mengingatnya berarti melanggengkan pertikaian itu sendiri. Karena secara tak sadar pasti tumbuh benih-benih pertikaian baru.” Begitulah argumentasinya dengan bahasa yang begitu rapi dan lancar, saat aku menanyakan mengapa ia selalu tak antusias mendengar cerita sejarah yang disampaikan orang tuanya atau kakeknya.

* * *

Sejujurnya Aku dan Lie tak begitu akrab. Kami hanya berteman biasa. Pekerjaan kami yang berbeda membuat kami tak sering bertemu. Kami kenal melalui blog (4). Aku pengunjung setia blognya. Aku suka mengikuti cerita-cerita sederhana tentang bermacam pengalaman sehari-harinya. Ia bisa bercerita apa saja, mulai dari rasa jenuh dengan profesi jurnalis yang digelutinya, tentang anak-anak jalanan di Jakarta, tentang kerutan di wajah ibunya, hingga cerita sepele tentang sepotong coklat kesukaannya. Membaca cerita-ceritanya membuatku seolah sedang berjalan bersamanya. Bagiku ia seperti seorang sahabat lama. Sementara Lie hanya sekali-kali mengunjungi blogku. Ia selalu memberikan komentar yang sama, setiap kali masuk ke blogku: “Blog belum di update. Ditunggu sharingnya!”

Tak kusangka Lie begitu bersemangat ketika secara basa-basi aku mengajaknya berkunjung ke museum. Ini kejutan yang aneh buatku. Lie yang begitu ahistoris mau berkunjung ke museum? Saat itu aku berpikir, aku hanya ingin melakukan hal yang berbeda lepas dari rutinitas kesibukan pekerjaanku. Tapi entah apa yang Lie pikirkan?

“Besok aku ketemu temen dari amerika, selesai jam duaan gimana?” demikian sms darinya masuk saat aku mulai berbaring di kamar kos-ku.

Aku malas-malasan dan asal saja membalasnya. “Kalau mau jam sepuluhan. Kalau gak bisa ya kapan-kapan aja deh.”

“Wah gak niat nih! Gimana kalau lusa aja?” balas sms Lie tak lama setelah smsku terkirim.

“Kalau minggu itu hari tidurku seharian he he he..” aku asal lagi membalasnya.

“Ok deh besok hari sabtu jam 10. Kita ketemu dimana?” akhirnya Lie memutuskan. Namun sms terakhir ini hampir satu jam kemudian baru aku baca, karena aku terlanjur tertidur. Begitu membacanya aku buru-buru membalasnya, “Ok besok jam 10 kita ketemu di stasiun kota.” Pesan terakhirku terkirim. Jam menunjukkan pukul 23.11 Wib.

* * *

Menurutku pagi itu Lie terlihat begitu berbeda. Biasanya aku bertemu dia saat mengenakan seragam kerjanya yang sangat formal. Seragam formal membuatnya tampil dewasa, tepatnya membuatnya lebih tua dari umur sebenarnya. Namun kini, dengan t-shirt ketat berwarna putih bertuliskan Just Do It (5) dan dipadu dengan blue jeans Ia tampak begitu segar. Backpack hijau dipunggung tak lupa menemaninya. Senyumnya cerah, begitu aku muncul dihadapannya. Senyumnya khas senyum orang-orang yang bisa lepas dari jeratan rutinitas pekerjaan. Hari sabtu memang hari yang mampu menyihir orang-orang pekerja yang selama lima hari sebelumnya nyaris tanpa senyum, bisa tampil sangat manis seperti seorang artis sedang berakting. Tapi kebanyakan senyum manis itu hanya bertahan hingga hari minggu. Setelahnya, ramai-ramai orang berjamaah melagukan ungkapan: “I hate Monday.”

Langkah Lie begitu mantap sejak kakinya menapak anak tangga pertama Gedung Museum Bank Mandiri (6). “Aku sudah memimpikan masuk ke tempat ini sejak dua tahun lalu. Sejak tempat kerjaku pindah, setiap hari, setiap berangkat dan pulang kerja, aku melewati gedung ini. Tapi selama itu pula aku hanya bisa membayangkan bagaimana dan apa yang ada dalam gedung ini. Aku tak tahu mengapa seolah-olah ada suara yang berbisik mengajakku untuk singgah ke tempat ini.” Lie menjelaskan. Mendengarnya aku jadi paham mengapa Ia antusias dengan ajakan basa-basiku kemarin.

Kami sampai di ujung tangga yang dulunya barangkali menjadi ruang lobby.

“Kita ke kanan…” Lie berkata optimis seolah Ia sudah mengenal betul tempat ini. Sambil berkata demikian Ia menggandeng tangan kananku dengan tangan kirinya. Genggamannya erat tak beda dengan anak kecil yang kuatir ditinggal ibunya. Sesungguhnya aku tak begitu menyukai suasana seperti ini. Ada perasaan beda dan aneh yang sulit kuterjemahkan kedalam kalimat. Aku melirik sejenak pada genggam tangannya yang terasa begitu erat namun lembut di telapak tanganku. Aku merasa antara nyaman dan tak nyaman, antara bangga dan malu. Pendeknya semua sifat yang berkontradiksi muncul secara bersamaan, dan anehnya aku tak berbuat apa-apa selain membiarkan Lie menarik tanganku.

“Ayo Dik, tak tertarikkah kamu dengan semua ini?” katanya seolah melihat kebingunganku. Aku yang ditanya hanya diam saja. Sejenak Lie melemparkan pandangan keseluruh ruang. Aku melihat senyumnya, ada binar di matanya, seolah dunianya telah masuk ke dunia petualangan yang baru. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya di tanganku. Pada saat bersamaan, aku merasa baru saja lepas dari sengatan listrik ratusan volt.

Lie mengambil kamera digital dari tasnya. Pandang matanya mengincar Groot Boek (7) yang dilindungi semacam etalase kaca. Kamera digitalnya mulai beraksi. Aku hanya terdiam setelah sebelumnya aku mengambil jarak darinya. Setiap tekanan shutter kamera dengan bunyinya yang khas seperti menarik mundur hitungan waktuku. Entah berapa banyak Lie mengambil gambar Groot Book yang warnanya coklat dengan ujung-ujungnya yang mulai lapuk itu, sebanyak itu pula aku mundur ke tahun-tahun di masa laluku.

Pandang mataku seperti over exposure 8 Aku kembali ke saat dimana aku begitu memimpikan menjadi seorang jurnalis foto. Tapi cita-cita itu tak tercapai. Cita-cita yang tak kesampaian terkadang berdampak sama dengan orang putus cinta. Kita harus melupakannya karena bila mengingatnya itu berarti menyakiti diri sendiri. Dan cara manjur untuk melupakan itu semua adalah dengan cara membencinya.

Ya, bertahun-tahun sudah aku membenci dan meninggalkan dunia fotografi, bahkan hanya untuk menjalaninya sebagai hobby. Aku hanya ingin melupakan sakit hatiku karena cita-citaku tak mampu kuraih. Aku tak ingin lagi memotret atau bahkan dipotret! Hanya ada satu hal keterpaksaan dimana aku dengan berat hati harus berhadapan dengan kamera, yaitu saat melamar kerja di kantorku yang sekarang ini, aku diminta menyediakan pas foto.

Lie tak tahu hal ini. Entah apa yang dipikirkannya, ketika aku secara sengaja mengalihkan pandanganku agar mataku tak sempat memperhatikan secara detail kamera digital yang dipakainya, namun ia justru mendekatiku lalu menyorongkan kamera digitalnya kehadapan wajahku. “Gimana sih Dik memotret benda yang ada di dalam etalase kaca?” tanyanya.

Aku terpaksa melihat, terpaksa mengamati, dan terpaksa menyentuh benda bernama kamera. Ah, jantungku seperti memompa darah lebih cepat ke seluruh pembuluh darah. Dada berdegup-degup. Setelah sekian lama aku membencinya, aku seakan merasakan kekuatan magnet magis kamera seperti saat pertama kali aku mencobanya.

Jariku dan jari-jari Lie bersentuhan di belakang layar kamera digital miliknya. Aku tak tahu apakah karena kamera atau Lie Ni yang membuatku mabuk kepayang layaknya seorang yang mulai jatuh cinta. Meski gugup namun aku berusaha menutupinya agar Lie tak merasakan apa yang sedang berkecamuk dalam pikiranku. Aku menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan, kulihat wajah Lie tersenyum, senyum termanis diantara koleksi museum yang lusuh dan aku yakin Lie Ni tak tahu barusan saja aku merasakan sengat dahsyat diantara sentuhan kamera dan jari-jemarinya.

* * *

Tak butuh waktu lama untuk kembali menguasai teori fotografi yang pernah kupelajari. Meski telah bertahun-tahun aku membenci dan mencoba melupakannya, semua itu masih lekat menempel di otakku. Sejak itu dengan hanya bermodalkan kamera digital pocket pinjaman milik sahabatku, aku memotret seperti orang kerasukan. 476 frame perhari! Mungkin saja aku sudah kerasukan arwah fotografer. Almarhum fotografer Kevin Carter (9) barangkali.

Diam-diam aku terus mempertajam kemampuan memotretku untuk menarik perhatiannya. Memotret dan mendapakan perhatiannya adalah dua kombinasi lengkap yang sangat menyenangkanku. Setiap hari ada saja foto hasil bidikanku yang kukirimkan untuk Lie Ni. Foto bunga, kupu-kupu, burung di langit, senja di Stasiun Kota, kepadatan penumpang krl, dan lainnya. Macam-macam foto kukirimkan untuknya. Bahkan ada foto seorang anak kecil yang tercebur di Kali Angke yang kuambil sore hari ketika tak sengaja aku lewat disana. Foto itu aku beri judul 1740. Iseng saja sebenarnya aku memberi judul itu, karena momen itu kudapat pada sore hari kurang lebih pukul 17.40 Wib.

Lie Ni memberi komentar via email yang tak pernah kuduga sebelumnya:

“1740, tepatnya 9 Oktober 1740 dikenal sebagai black days adalah peristiwa pembantaian tak kurang dari 10.000 orang Cina di Batavia oleh VOC. Peristiwa ini terjadi karena warga Cina di Batavia dikuatirkan memberontak terhadap kekuasaan Belanda. Kali Angke adalah tempat yang paling banyak digunakan untuk membuang mayat pada peristiwa itu. Angke itu sendiri berarti aliran merah.”

Aku tak tahu apakah perasaanku salah atau benar. Kurasakan ada nada sedih atau mungkin marah dalam email yang ditujukan padaku. Yang pasti mulai kuyakini salah adalah penilaianku terhadap Lie Ni yang ahistoris. Lie ternyata bukan seorang gadis ahistoris. Ia paham sejarah bahkan sejarah Cina di tanah Batavia.

Sejak kejadian itu Lie Ni menghilang dari peredaran. Sms dariku tak berbalas. Kucoba menelpon hapenya pasif, hanya suara mesin yang menerimaku: “nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.” Ya, benar-benar Ia diluar jangkauanku! Email dariku pun tak berbalas.

Aku sibuk untuk sebuah pencarian yang sesungguhnya tak kutahu untuk apa. Aku juga mulai kehilangan keinginan memotret. Dua kombinasi lengkap yang menggembirakanku hilang hampir bersamaan. Kalaupun aku memotret, aku memotret dengan over atau under exposure. Kadang aku lebih suka memotret tanpa focus. Kehilangan Lie Ni berarti kehilangan fokus bagiku.

* * *

Suatu hari dimana aku tak mampu lagi menahan kerinduanku. Aku mengunjungi museum yang sama yang pernah aku kunjungi bersama Lie Ni. Aku memotret dan memotret. Suasana kunjungan saat itu tak terlalu ramai. Aku terduduk kelelahan di ujung tangga menuju lantai dua. Seorang petugas kebersihan – yang dari seragamnya aku tahu namanya Wagiman – menghampiriku.

“Capek mas?” tanyanya ramah sambil tersenyum. Belum sempat aku menjawab Wagiman sudah bicara lagi. “Masuk museum jangan sedih mas, museum ini mungkin sudah terlalu berat menanggung beban sejarah kelam, belum lagi upaya berat untuk bertahan di hari ini dan masa depan…” katanya seperti seorang filsuf mengetahui kesedihanku.

“Mari mas saya ajak ke tempat yang tidak semua orang bisa memasukinya” ajaknya.

Aku tersihir saja mengikuti tawarannya, seolah Wagiman adalah sahabat lama yang sangat kupercaya.

Wagiman mengajakku melewati tangga-tangga yang makin keatas makin mengecil. Tak tahu sudah berapa anak tangga kami lalui hingga akhirnya kami tiba di ruang terbuka, di atap gedung Museum Bank Mandiri. Kesibukan Kota terlihat jelas dari atas sini. Langit senja mulai memerah menambah takjub aku yang sama sekali belum pernah ada di tempat ini. Di belakangku kulirik Wagiman tersenyum. Mungkin ia sedang berpikir adalah pahala yang didapatnya ketika mampu membuat orang sedih jadi gembira.

Dari atas gedung aku memotret dan terus memotret. Beos, jalan raya, pekerja yang bergegas pulang, pengendara sepeda motor yang membuat macet jalan, pemberhentian busway, burung-burung kecil yang terbang bergerombol, tukang ojek sepeda, dan senja makin menggelap. Aku berhenti memotret.

Kusimpan kamera digitalku. Tiba-tiba aku ingin menelpon ibuku.

“Bu, mengapa Ibu tak pernah mau menceritakan asal usul namaku?” tanyaku.

“Nama indah itu pemberian almarhum kakekmu. Mengapa kau tak bangga dengan nama itu?” Ibuku selalu membalas pertanyaanku dengan pertanyaan, bahkan dengan kalimat yang selalu sama.

“Ini bukan soal bangga atau tak bangga bu. Sebuah nama dipilih tentu bukan tanpa alasan.” Kataku membantah Ibu. Demikianlah selalu begitu terus menerus. Pertanyaan melahirkan pertanyaan. Satu lagi senja terlewati dan aku belum tahu juga arti namaku.

* * *

Malam ini terasa bergerak menyiksa dengan begitu lambat. Aku rindu Lie Ni. Aku rindu kulit putihnya yang lembut. Aku rindu matanya yang sipit. Aku rindu segala yang ada padanya. Membuka blog adalah satu-satunya caraku menebus kerinduan. Aku tak percaya, artikel terakhir yang baru saja dipostingnya berjudul “Siapa Dik Dopen, Siapa Dirk Dourven?” Lie benar-benar bukan gadis yang ahistoris. Dengan huruf italic Diakhir postingnya dia menulis:

Aku mengagumi foto2mu Dik, aku mengagumi semua argumentasi yang lahir dari pikiranmu, aku mungkin bisa lebih dari sekedar mengagumi segala tentang kamu. Tapi keluargaku yang berpandangan kuno pasti akan sangat membencimu bila tahu namamu Dik Dopen seperti ucapan lidah jawa untuk nama Dirk Dourven (10). Yakinlah Mereka masih menyimpan dendam sejarah. Meski nama Dik Dopen dan Dirk Dourven mungkin hanya kebetulan. Atau mungkin itu semua bukan kebetulan? Carilah Dik, carilah arti namamu, jangan jadi ahistoris karena tak pernah tahu apa arti namamu. (Filipina, akhir September 2008

Aku tak memberi komentar untuk posting ini. Aku hanya tahu dia berada di Filipina. Perlahan kututup semuanya. Mataku berat. Malam makin menyiksa. “Selamat malam Nie…” hanya dalam hati.

* * *

Endnote:

1 Kegiatan radio amatir di Indonesia sudah ada sejak jaman kolonial. Semasa perang kemerdekaan RI para amatir radio di Indonesia juga aktif berjuang dengan peralatan dan keahliannya mempropagandakan semangat perjuangan. Mereka tergabung dalam wadah Persatoean Amateur Repoeblik Indonesia (PARI). Organisasi inilah yang kini dikenal dengan nama ORARI (Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia).

2 Gunung Slamet adalah salah satu gunung berapi yang ada di Pulau Jawa. Mempunyai ketinggian 3,432 meter dpl. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.

3 Dalu ren dari bahasa mandarin yang berarti Orang Dalu, sebutan bagi orang-orang Cina daratan yang tinggal di luar negeri. Diambil dari sebutan zhongguo dalu; secara harfiah berarti “daratan besar Tiongkok” (Mainland China dalam bahasa Inggris) yaitu wilayah Republik Rakyat Tiongkok yang tidak termasuk Hong Kong dan Makau serta Republik China di Taiwan namun termasuk provinsi Hainan (meskipun terpisah dari Tiongkok Daratan sebagai suatu pulau), Mongolia Dalam, Tibet dan Xinjiang.

4 Blog singkatan web log adalah bentuk aplikasi web berupa tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Situs web seperti ini dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari blog user. Media blog pertama kali dipopulerkan oleh Blogger.com, yang dimiliki oleh PyraLab sebelum akhirnya PyraLab diakuisi oleh Google.Com pada akhir tahun 2002.

5 Tagline terkenal dari Nike Inc. sebuah perusahaan terkemuka berpusat di Amerika Serikat yang memproduksi peralatan dan perlengkapan olah raga.

6 Museum Bank Mandiri terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat. Museum seluas 10.039 m2 ini pada awalnya adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia milik Belanda. Tahun 1960 gedung ini dinasionalisasi dan menjadi gedung milik Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor. Bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) pada 31 Desember 1968, gedung beralih menjadi kantor pusat Bank Export import (Bank Exim). Tahun 1999 diadakan merger 4 bank, yaitu: Bank Exim, Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) menjadi Bank Mandiri.

7 Groot Boek dari bahasa Belanda yang berarti buku besar. Buku Besar itu digunakan Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) untuk mencatat laporan keuangan yaitu rincian perkiraan perubahan debet dan kredit untuk dilaporkan di setiap akhir bulan, serta laporan keuangan dari agen-agen NHM di Surabaya, Semarang, Padang, dan Anyer. Buku ini berisi laporan tahun 1933-1937 yang ditulis tangan dengan sangat rapi, berukuran 67×54x13 cm, tebalnya 334 halaman dan bobotnya 28 kilogram.

8 Istilah dalam dunia fotografi untuk menerangkan kelebihan cahaya yang masuk melalui lensa saat pengambilan gambar, sehingga gambar yang dihasilkan menjadi silau. Lawan dari over exposure adalah under exposure.

9 Seorang fotografer pemenang Pulitzer Award 1994. Fotonya yang melegenda menggambarkan seorang anak Sudan yang kelaparan tergolek lemah di tanah lapang saat menuju kamp PBB untuk mendapatkan makanan, dibelakangnya seekor burung pemakan bangkai menunggu. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana keadaan anak itu, setelah foto tersebut memenangkan Pulitzer Award dan dipublikasikan oleh berbagai media di seluruh dunia. Tak lebih dari tiga bulan setelahnya, Kevin Carter ditemukan bunuh diri.

10 Dirk Durven atau Diederick Durven (1729 – 1731) adalah Gubernur Jenderal VOC ke-22 yang dipulangkan ke Belanda karena kasus memeras orang Cina di Batavia. Tindakannya tersebut telah memunculkan benih dendam dari orang-orang Cina di Batavia yang kemudian dibawah tanah menyiapkan pemberontakan melawan Belanda. Terlebih ketika diberlakukan aturan bahwa orang Cina di Batavia harus memiliki surat ijin khusus. Orang Cina yang tidak memiliki surat ijin ditangkap dan dipekerjakan di Sailan. Ada kabar dari kalangan Cina mengatakan, mereka yang dibawa ke Sailan ternyata ditenggelamkan di laut.